Ulasan

Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar

Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
Poster Film Pirunduk (Instagram/pirunduk.movie)

Horor lokal punya daya tarik lebih besar saat cerita seramnya tumbuh dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar menempelkan nama daerah pada hantu dan ritual. Film Pirunduk membawa peluang itu lewat kisah Tanah Banjar, lengkap dengan rumah panggung di tepian sungai, bahasa Banjar, dan kepercayaan mistis yang menjadi pusat konflik. Sayangnya, kekuatan budaya dalam film semacam ini perlu dinilai lebih jauh, yang nggak sekadar suasana berbeda. 

Pirunduk merupakan film drama horor Indonesia berdurasi ±96 menit yang tayang di bioskop sejak 22 Oktober 2026. Film garapan Sutradara Billy Christian ini diproduksi Pichouse Films, PT MD Entertainment Tbk, dan Bima Sakti Pictures, dengan Budi Ismanto sebagai produser.

Baskahnya ditulis Tubagus Deddy bersama Budi Ismanto. Aulia Sarah memerankan Siti, Bucek Depp menjadi Badarudin, dan Yoriko Angeline tampil sebagai Ratih. Pemain lainnya meliputi Alam Jaya sebagai Ramlan, serta Acil Imas sebagai Mak Ijah. Film ini menggunakan latar Kalimantan Selatan era 1980-an dengan klasifikasi usia 13 tahun ke atas.

Ceritanya terkait Siti, yang harus menikahi Badarudin, seorang juragan sekaligus rentenir, demi melunasi utang ayahnya, Abi. Pernikahan yang semula menjadi jalan keluar malah menjerumuskannya ke rumah tangga penuh kekerasan, hinaan, dan tekanan karena Siti belum juga memiliki anak. 

Situasi semakin pahit ketika Badarudin mengambil Ratih si janda, sebagai istri berikutnya. Dalam keadaan terdesak, Siti mengikuti saran Ramlan untuk menemui Mak Ijah dan mempelajari ilmu pirunduk, ajian yang dipercaya dapat menundukkan seseorang. Kekuatan itu sempat mengubah hubungan mereka, tapi berujung pada petaka yang meluas hingga mengancam warga desa.

Menguji Kedalaman Budaya Banjar

Sisi paling menarik dari film ini terletak pada budaya Banjar yang menjadi fondasi dunia ceritanya. Rumah panggung di atas sungai dan perahu jukung, mampu membangun ruang yang jarang terlihat dalam horor Indonesia arus utama.

Termasuk penggunaan bahasa Banjar juga memberi warna pada percakapan, sekaligus membuka kesempatan bagi penonton mengenal bunyi dan kebiasaan daerah yang jarang mendapat tempat di layar lebar. Unsur lokal seperti ini lebih bermakna saat ikut membentuk cara tokoh bekerja, berhubungan, dan memandang dunia.

Namun, menghadirkan unsur tradisional, dialek, dan mitos saja belum otomatis menghasilkan representasi budaya yang mendalam. Budaya bisa terasa seperti dekorasi semata. jika latar Banjar hanya digunakan buat membangun suasana lebih eksotis dan menakutkan. Film akan lebih kuat ketika kehidupan tepian sungai hadir sebagai bagian wajar dari keseharian, bukan sekadar latar untuk kemunculan teror. Detail adat, relasi sosial, cara warga menyelesaikan masalah, hingga nilai yang mereka pegang semestinya harus menyatu dengan konflik utama.

Keterlibatan warga lokal dalam produksi juga ngasih peluang menjaga nuansa tersebut tetap autentik, asalkan partisipasi mereka tampak dalam detail cerita dan bukan berhenti sebagai angka promosi. Keaslian budaya akhirnya lahir dari pengamatan, pilihan artistik, serta penghormatan pada konteks sehari-hari.

Persoalan ini penting karena kisah Siti juga membawa isu kekerasan terhadap perempuan. Jika seluruh tradisi lokal digambarkan hanya melalui ilmu hitam dan akibat mengerikan, penonton berisiko menerima gambaran budaya yang terlalu sempit. Mitos pirunduk memang menjadi mesin horor, tapi masyarakat Banjar seharusnya hadir sebagai komunitas yang lebih luas daripada kepercayaan mistisnya. Untungnya, kritik sosialnya terasa lebih tajam dan mampu memisahkan praktik supranatural dalam cerita dari identitas budaya masyarakat secara keseluruhan.

Pirunduk punya modal kuat untuk menawarkan horor dengan identitas daerah yang jelas. Tantangannya, memastikan budaya Banjar menjadi jiwa cerita, bukan tempelan artistik yang mempercantik teror. Ketika detail lokal dibangun dengan rasa hormat dan kedalaman, ketakutan yang muncul bisa terasa khas sekaligus manusiawi. Dan semua itu berhasil diwujudkan. 

Yang jelas, horor yang paling membekas bukan cuma membuat penonton takut pada sesuatu dari kegelapan, melainkan juga membuat mereka memahami kehidupan para karakter yang tumbuh di sekitarnya.

Sobat Yoursay sudah nonton film Pirunduk? Bagikan pendapatmu di sini, yuk!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda