Ulasan
Review Film Henry's First Date: Misteri Ingatan yang Tereset Setiap Pagi
Henry’s First Dates (2026) merupakan remake Thailand dari film Hollywood 50 First Dates (2004), yang dibalik premis utamanya.
Dalam versi ini, yang mengalami hilang ingatan jangka pendek adalah tokoh pria, Henry, sementara Lucy yang harus membangun hubungan dengannya setiap hari.
Disutradarai Mez Tharatorn dan diproduksi oleh GDH bersama Sony Pictures International Productions, film berdurasi sekitar 115 menit ini dibintangi Nadech Kugimiya sebagai Henry dan Minnie Nicha Yontararak (anggota grup i-dle) sebagai Lucy dalam debut layar lebar utamanya.
Tekad Bulat Lucy: Jatuh Cinta Lagi dari Titik Nol

Henry adalah pemuda baik hati, pencinta binatang, yang membantu mengelola resor keluarga di kawasan Phuket/Phang Nga bersama ayahnya (Kiat Kitjaroen) dan adiknya Kanoon (Artit Somnoi/Ble Patumrach).
Ia sering mengunjungi kafe pantai milik bibinya, Su. Setelah suatu kejadian, ingatannya terreset setiap pagi sehingga ia tidak mengingat apa pun yang terjadi sehari sebelumnya.
Lucy, yang terlibat dengan bisnis balon udara, bertemu Henry di tepi pantai. Mereka menghabiskan satu hari yang menyenangkan bersama.
Keesokan harinya, Henry memperlakukannya sebagai orang asing. Lucy kemudian memutuskan untuk terus mendekatinya, menciptakan pengalaman baru setiap hari alih-alih sekadar memaksa Henry mengingat masa lalu.
Review Film Henry's First Dates

Film ini menggeser fokus dari sekadar ketekunan menjadi studi tentang perhatian dan perawatan. Latar pantai, resor, dan pemandangan Thailand Selatan memberikan nuansa yang menyenangkan, menjadikan pengulangan terasa lebih ringan daripada tragis.
Humor Thailand yang khas, dukungan keluarga yang berlebihan, serta kehadiran seekor capybara (Simba) menambah warna komedi. Chemistry antara Nadech yang natural dan menggemaskan dengan Minnie yang ceria serta gigih menjadi salah satu kekuatan utama.
Jadwal tayang di bioskop Indonesia. Film ini dirilis di Thailand pada 17 September 2026. Di Indonesia, film mulai tayang di bioskop sekitar 23 Oktober 2026. Saat ini, film sudah diputar di jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis di berbagai kota.
Adegan paling romantis paling menonjol secara emosional dan visual adalah rangkaian pengalaman bersama di balon udara dan pemandangan pesisir. Lucy, dengan profesinya terkait balon udara, mengajak Henry naik dan menikmati panorama yang indah.
Di ketinggian, dengan latar laut dan pulau-pulau, interaksi mereka terasa tulus dan penuh keajaiban. Henry, yang setiap hari baru mengenal Lucy, merespons dengan ketulusan yang murni. Adegan ini menekankan tema film: Lucy tidak hanya mengulang kencan, melainkan menciptakan hari-hari yang layak dijalani.
Kombinasi pemandangan Thailand Selatan yang memukau, kehangatan dialog, dan chemistry para pemain membuat momen tersebut terasa manis dan berkesan, menggambarkan cinta yang dibangun melalui perhatian berulang.
Nah, untuk Adegan paling kocak muncul dari upaya keluarga Henry (ayah dan adik) yang setiap hari mempertahankan sandiwara agar Henry tidak menyadari kondisinya. Mereka mengatur rutinitas, reaksi, dan percakapan seolah-olah semuanya normal, sering kali dengan cara yang berlebihan dan konyol. Kehadiran capybara Simba menambah elemen absurd yang mengundang tawa, sementara gaya humor Thailand yang campy pada karakter pendukung terasa lebih menggemaskan daripada ofensif. Adegan-adegan pengulangan pagi hari, di mana keluarga harus mengulang interaksi, menghasilkan komedi situasional yang segar dan tidak terasa dipaksakan.
Overall, Henry’s First Dates berhasil menyajikan remake yang segar berkat pembalikan peran, latar yang indah, serta pendekatan yang lebih lembut terhadap premis hilang ingatan.
Film ini menekankan perawatan dan penciptaan pengalaman bermakna daripada sekadar memaksa ingatan kembali. Visual pantai dan aktivitas outdoor memanjakan mata, chemistry pemeran utama meyakinkan, dan elemen komedi keluarga serta binatang memberikan keseimbangan.
Kendati tempo penceritaan sempat melambat karena pengulangan adegan dan beberapa banyolan yang kurang mengena, film ini tetap berhasil menyuguhkan hiburan romantis yang hangat dan menyenangkan sebagai tontonan pelarian.
Buat kamu penggemar komedi romantis, terutama yang menyukai adaptasi Asia dengan sentuhan lokal, film ini layak ditonton di bioskop. Ia menawarkan tawa, kehangatan, dan refleksi sederhana tentang bagaimana cinta dapat bertahan bahkan ketika setiap hari harus dimulai dari awal. Dengan durasi yang cukup panjang namun tetap ringan, Henry’s First Dates memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan dan pantas dijadikan pilihan untuk menemani waktu bersama. Rating pribadi: 7.3/10.