Ulasan
Ulasan Film Laut Bercerita: Ketika Suara Demokrasi Dibungkam dengan Paksa!
Laut Bercerita merupakan adaptasi film dari novel berjudul sama karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017. Film ini disutradarai Yosep Anggi Noen, dengan skenario yang ditulis bersama Leila S. Chudori. Produksi digarap oleh Pal8 Pictures bersama sejumlah rumah produksi pendukung.
Film berdurasi sekitar 135 menit ini memperoleh klasifikasi usia 17+ dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Dan bertepatan dengan momentum sehari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sebelumnya, film menjalani pemutaran perdana dunia di kompetisi utama Busan International Film Festival 2026.
Kisah Pilu Perjuangan Aktivis 1998

Kisah berlatar Yogyakarta pada akhir 1990-an, masa menjelang Reformasi ketika tekanan politik Orde Baru membatasi kebebasan berekspresi. Tokoh utama, Biru Laut (Reza Rahadian), adalah mahasiswa sastra yang gemar membaca dan menulis. Ia bergabung dengan kelompok studi kritis Winatra yang dipimpin antara lain oleh Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo).
Bersama sahabat-sahabatnya, termasuk Daniel Tumbuan (Kevin Julio), Alex Perazon (Ben Nugroho), dan Sunu Dyantoro (Dewa Dayana), serta hubungan dengan Ratih Anjani (Eva Celia), Laut terlibat dalam diskusi, literasi, dan aksi yang memperjuangkan keadilan serta hak-hak kelompok terpinggirkan.
Aktivitas mereka semakin berisiko setelah penangkapan mahasiswa yang menyebarkan buku terlarang. Pada suatu malam, Laut dan sejumlah rekan menghilang tanpa jejak. Keluarga yang ditinggalkan—Bapak (Arswendy Bening Swara), Ibu (Christine Hakim), dan adik Asmara Jati (Yunita Siregar)—menjalani penantian panjang yang penuh ketidakpastian sambil terus mencari kejelasan.
Film ini berhasil mempertahankan jiwa perlawanan yang kuat dari novel sumbernya. Bagian awal menampilkan kehidupan mahasiswa dengan nuansa yang hangat dan akrab: diskusi intens di ruang sempit, kebiasaan sederhana, persahabatan, dan sedikit romance. Nuansa tersebut perlahan bergeser menjadi mencekam ketika pengawasan intensif dan ancaman nyata muncul.
Pendekatan realis Yosep Anggi Noen, yang sebelumnya dikenal lewat karya seperti Istirahatlah Kata-Kata, tampak efektif dalam menggambarkan ketegangan politik tanpa kehilangan sisi manusiawi tokoh-tokohnya. Latar 1990-an dibangun dengan detail yang meyakinkan, mulai dari kostum, properti, hingga atmosfer kampus dan kota yang mendukung imersi penonton di bioskop.
Ulasan Film Laut Bercerita

Akting menjadi salah satu kekuatan utama. Reza Rahadian menampilkan Biru Laut sebagai figur idealis yang penuh pertimbangan, bukan sekadar aktivis heroik. Ia mampu menyampaikan dilema batin, keberanian, dan kerapuhan karakter dengan penghayatan yang konsisten.
Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara memberikan bobot emosional yang dalam pada peran orang tua yang menanggung kehilangan. Yunita Siregar sebagai Asmara Jati berhasil menggambarkan peralihan dari adik yang relatif tidak terlibat menjadi sosok yang gigih mencari jawaban. Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, dan para pemeran kelompok Winatra turut memperkuat dinamika persahabatan dan solidaritas.
Adegan paling menegangkan berpusat pada proses penangkapan, interogasi, dan penahanan. Ketegangan dibangun secara bertahap melalui pengawasan yang semakin ketat, pelarian, dan akhirnya penculikan. Adegan di ruang tahanan atau interogasi terasa intens karena menampilkan kerentanan fisik dan psikologis tokoh di tengah kekuasaan yang sewenang-wenang. Penggunaan sinematografi dan transisi yang tepat memperkuat rasa sesak serta ketidakberdayaan, sehingga aku pun merasakan tekanan yang dialami karakter.
Adapun adegan paling berkesan terletak pada sisi keluarga setelah kehilangan terjadi. Salah satu momen yang membekas adalah kebiasaan sederhana di rumah tangga Wibisana, misalnya menyiapkan porsi makanan seolah Laut masih akan pulang. Detail tersebut, digabungkan dengan penantian yang tak berujung dan perubahan penampilan orang tua seiring waktu, menggambarkan luka yang terus menganga tanpa kepastian. Adegan-adegan semacam ini meninggalkan kesan emosional yang mendalam karena menyentuh aspek kemanusiaan yang universal: harapan yang dipelihara meski realitasnya semakin kelam.
Intinya, Laut Bercerita merupakan karya penting yang tidak hanya mengangkat tragedi penghilangan paksa aktivis, tetapi juga menekankan pentingnya merawat ingatan kolektif. Film ini mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi dan keadilan merupakan nilai yang harus terus dijaga lintas generasi.
Meskipun terdapat keterbatasan durasi yang membuat beberapa aspek emosional terasa agak terburu-buru, kekuatan akting, suasana, dan pesan moral menjadikan film ini layak ditonton! Pesan tiketnya dan selamat menonton film ini dengan pikiran yang terbuka. Rating pribadi: 8.8/10.