Ulasan
Petualangan Mahasiswa Menyelamatkan Nusantara dalam Novel Melangkah
Membayangkan empat mahasiswa harus menyelamatkan ratusan juta orang dari ancaman besar mungkin terdengar seperti cerita film aksi. Namun, itulah petualangan yang ditawarkan J.S. Khairen dalam novel Melangkah. Buku ini memadukan unsur fantasi, aksi, dan petualangan dengan latar budaya Indonesia.
Terbit pada 2020 melalui penerbit Grasindo, novel ini mengambil Sumba sebagai salah satu latar utamanya. J.S. Khairen turut memasukkan tradisi dan kehidupan masyarakat setempat ke dalam cerita, sehingga petualangan yang dihadirkan memiliki sentuhan budaya Nusantara.
Empat Mahasiswa dan Konflik Besar di Tanah Sumba
Cerita ini berpusat pada empat mahasiswa ekonomi bernama Arif, Siti, Ocha, dan Aura. Mereka berencana pergi berlibur ke Sumba. Awalnya, perjalanan itu hanya untuk bersenang-senang setelah kesibukan kuliah. Namun, mereka justru terlibat dalam kejadian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Masalah mulai muncul ketika pemadaman listrik misterius melanda Jawa dan Bali. Kejadian tersebut ternyata berkaitan dengan kekuatan besar yang memiliki rencana untuk menguasai Nusantara. Empat sahabat itu pun terseret ke dalam persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar perjalanan liburan.
Ancaman yang mereka hadapi bukan sesuatu yang biasa. Ada pasukan berkuda misterius dengan kemampuan melontarkan listrik. Situasi semakin rumit dengan kemunculan seorang buronan bertopeng pahlawan yang menyimpan rencana berbahaya.
Petualangan mereka juga berkaitan dengan pesan dari arwah nenek moyang tentang datangnya kegelapan dan ribuan kuda raksasa yang akan menghancurkan Nusantara. Ramalan tersebut perlahan terasa semakin nyata ketika berbagai kejadian aneh mulai bermunculan.
Di balik ancaman itu, terdapat persoalan lama yang berhubungan dengan tanah Sumba. Kisah leluhur, perebutan kepentingan, dan keinginan mempertahankan tanah kelahiran ikut menjadi bagian dari konflik. Sosok Runa Anapaku juga memiliki hubungan penting dengan rangkaian peristiwa tersebut.
Keempat sahabat ini harus mengandalkan kemampuan masing-masing untuk menghadapi berbagai rintangan. Siti memiliki kemampuan pencak silat, Arif dikenal pemberani, Ocha punya pengetahuan ekonomi, sedangkan Aura menjadi sosok ceria di antara mereka. Perbedaan karakter dan kemampuan itu menjadi bekal dalam perjalanan mereka.
Di tengah petualangan menyelamatkan Nusantara, hubungan persahabatan, keluarga, dan masa lalu masing-masing tokoh turut mewarnai cerita. Mereka bukan hanya harus menghadapi musuh, tetapi juga belajar mengambil keputusan dan memahami keadaan yang terus berubah.
Ulasan Novel Melangkah Karya J.S. Khairen
Satu hal yang paling aku suka dari novel ini adalah pemilihan Sumba sebagai latar cerita. Biasanya, novel petualangan atau fantasi lebih sering membawa pembaca ke dunia rekaan. Namun, J.S. Khairen justru mengambil tempat di Indonesia dan memasukkan budaya lokal ke dalam ceritanya. Ada tradisi Pasola, kain tenun, serta cerita tentang leluhur yang membuat petualangan empat tokoh utamanya punya warna tersendiri.
Aku juga cukup menikmati ide tentang empat mahasiswa ekonomi yang tiba-tiba harus menghadapi masalah besar. Mereka bukan tokoh yang sejak awal punya misi menjadi pahlawan. Awalnya hanya ingin berlibur, tetapi malah terlibat dalam situasi yang mengancam banyak orang. Perbedaan kemampuan Arif, Siti, Ocha, dan Aura juga membuat perjalanan mereka tidak terasa monoton.
Bagian pertarungannya termasuk salah satu hal yang menarik. Apalagi ada unsur pencak silat yang ikut dimasukkan ke dalam cerita. Adegan aksinya cukup mudah dibayangkan dan memberikan suasana berbeda dari novel petualangan yang hanya mengandalkan kekuatan fantasi. Ditambah lagi, ada beberapa istilah ekonomi yang diselipkan. Rasanya cukup unik melihat ilmu yang mereka pelajari di kampus ternyata ikut punya peran dalam menghadapi masalah.
Dari cerita ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil. Persahabatan Arif, Siti, Ocha, dan Aura memperlihatkan pentingnya saling percaya dan bekerja sama meskipun memiliki sifat serta kemampuan yang berbeda. Novel ini juga mengingatkan bahwa keberanian bukan berarti harus menghadapi semua masalah sendirian.
Selain itu, kisah tentang Sumba dan tanah leluhur membuat pembaca diajak untuk lebih mengenal serta menghargai budaya dan warisan daerah sendiri. Bagian ini menjadi salah satu hal yang membuat novel ini bukan hanya cerita petualangan biasa.
Di sisi lain, karakter para tokohnya sebenarnya masih punya potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Masing-masing memiliki sifat dan kemampuan yang berbeda, tapi beberapa di antaranya belum mendapat ruang yang cukup untuk menunjukkan perkembangan. Ada juga dialog yang sesekali terasa kurang alami. Padahal, hubungan antara empat sahabat ini bisa menjadi bagian yang lebih kuat jika interaksi mereka dibuat lebih leluasa.
Untuk unsur fantasinya, ide pasukan berkuda dengan kemampuan melontarkan listrik memang cukup menghibur. Hanya saja, ada beberapa kejadian yang membutuhkan penjelasan lebih supaya pembaca tidak merasa tiba-tiba dibawa ke konflik baru. Bagian menjelang akhir juga terasa agak buru-buru, alhasil penyelesaian ceritanya kurang memberi waktu untuk menikmati hasil dari perjalanan panjang para tokohnya.
Secara keseluruhan, aku suka bagaimana J.S. Khairen mencoba membawa budaya Indonesia ke dalam cerita aksi dan fantasi, bukan hanya menjadikannya sebagai latar pelengkap. Walaupun ada beberapa bagian yang bisa dikembangkan, buat pembaca yang suka petualangan, persahabatan, dan cerita dengan sentuhan budaya lokal, novel Melangkah masih layak kamu baca.