Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Dusta di Balik Dinding Kaca (Nano Banana/Gemini AI)
Sherly Azizah

"Hancurkan dia dalam waktu dua jam, atau kau yang akan dihancurkan oleh tagarmu sendiri."

Suara di ujung telepon terdengar seperti mesin; tanpa nada, tanpa jiwa. Aris menatap layar monitornya yang berkedip di sebuah apartemen sempit yang penuh dengan botol kopi kosong. Di layar itu, terpampang wajah seorang jurnalis muda bernama Elina yang baru saja mengungkap investigasi tentang aliran dana gelap pembangunan infrastruktur di daerah tertinggal.

"Dia punya bukti kuat, Bos. Sulit untuk membelokkan faktanya," Aris mencoba bernegosiasi. Jemarinya masih menggantung di atas papan tik.

"Fakta hanyalah opini yang punya panggung lebih besar, Aris. Sekarang, buat panggungnya runtuh. Serang pribadinya. Cari foto masa lalunya, ubah narasinya, buat seolah-olah dia dibayar oleh pihak asing untuk mengukur stabilitas nasional. Kau tahu rumusnya: Kebenaran tidak penting, yang penting adalah siapa yang berbicara paling keras."

Klik. Telepon diputuskan.

Aris menarik napas panjang. Di industri gelap ini, ia dikenal sebagai "Sang Kurator." Ia tidak hanya menyebarkan hoaks kasar, ia menjahitnya dengan benang kebenaran sehingga sulit dibedakan. Ia mulai menggerakkan lima ribu akun bot miliknya. Dalam sekejap, jagat media sosial Indonesia yang tadinya tenang mulai mendidih.

Tagar #ElinaPengkhianat mulai naik. Aris menyusun sebuah thread (utas) yang tampak sangat ilmiah, menghubungkan Elina dengan organisasi fiktif luar negeri. Ia menggunakan teknik deepfake untuk memanipulasi rekaman suara Elina seolah-olah ia sedang menerima suap.

Dua jam kemudian, Elina bukan lagi pahlawan investigasi. Di mata jutaan netizen, ia adalah musuh negara.

Namun, di tengah kegemilangan operasinya, sebuah jendela percakapan muncul di layar tengah Aris. Itu bukan dari bosnya. Itu dari Elina.

"Aris, aku tahu ini kau. Aku tahu kau tinggal di Apartemen Cempaka kamar 402. Aku tidak akan membalasmu dengan tagar. Aku akan membalasmu dengan cermin."

Aris tersentak. Bagaimana mungkin jurnalis itu mengetahui identitasnya? Keamanan sibernya seharusnya tidak tertembus. Belum sempat ia berpikir, sebuah file terkirim ke komputernya. File itu berjudul: “Keluarga Arsitek Dusta.”

Aris membukanya dengan tangan bergetar. Isinya adalah foto-foto adiknya, seorang mahasiswa kedokteran yang sedang berjuang di garis depan sebuah pandemi di daerah terpencil. Di bawah foto itu ada catatan: "Adikmu bekerja dengan fakta untuk menyelamatkan nyawa, sementara kau bekerja dengan dusta untuk membunuh karakter orang. Apa yang akan terjadi jika aku melepaskan siapa kakaknya yang sebenarnya di tengah kemarahan massa yang kau ciptakan sendiri?"

Keringat dingin mengucur di dahi Aris. Ia menyadari bahwa Elina tidak hanya mengincar dirinya sendiri, tapi juga satu-satunya orang yang ia sayangi. Elina menggunakan senjata yang sama dengan Aris: ancaman sosial.

Tiba-tiba, pintu apartemennya digedor dengan keras. Aris melihat melalui lubang intip, namun yang ia lihat bukan Elina atau polisi. Ia melihat dua pria tegap dengan jaket kulit hitam yang ia kenali sebagai "kurir" dari organisasinya.

"Aris, buka pintunya! Bos ingin kau menyerahkan cadangan hard drive sekarang. Situasi memanas, kita harus menghapus jejak!" teriakan salah satu pria itu.

Aris tahu apa artinya "menghapus jejak" dalam kamus organisasi ini. Itu berarti ia akan dilenyapkan agar tidak ada bukti yang menghubungkan agensi ini dengan klien besar mereka. Aris terjepit. Di luar ada algojo organisasinya, di layar ada ancaman dari Elina yang bisa menghancurkan masa depan adiknya.

Dengan nekat, Aris mengetik pesan terakhir untuk Elina. "Aku akan memberikan semua data mentah dan bukti transfer dari klienku. Tapi kau harus menjamin keselamatan adikku. Sekarang, lihatlah ke arah balkon apartemenku."

Aris mengambil sebuah flash drive merah, memasukkannya ke dalam saku, dan memasang jendela balkon. Ia melihat sebuah drone kecil melayang di depannya—drone milik Elina. Aris mengikat flash drive itu pada kaki drone.

Tepat saat drone itu terbang menjauh, pintu apartemen Aris jebol. Kedua pria itu merangsek masuk dan langsung menodongkan senjata.

"Di mana drive-nya, Aris?"

Aris berdiri di tepi balkon, angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Ia tidak lagi merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa bebas dari beban yang ia susun setiap hari.

“Kebenaran sudah terbang kawan,” ujar Aris dengan senyum pahit. "Kalian bisa membunuhku, tapi kalian tidak bisa menghapus jejak di awan."

Salah satu pria itu menatap layar monitor Aris yang masih menyala. Di sana, sebuah program penghancur data otomatis sedang berjalan, menghapus ribuan akun bot dan log percakapan. Namun, di layar lainnya, sebuah pesan dari Elina muncul: "Data diterima. Tapi kau lupa satu hal, Aris. Aku jurnalis, aku tidak pernah bernegosiasi dengan penjahat."

Wajah Aris berubah pucat. Ia melihat ke bawah, ke jalanan yang ramai. Ia menyadari bahwa Elina baru saja mengunggah identitas Aris ke publik sebagai "Sang Kurator" di balik tagar kebencian malam ini.

Suara sirene polisi mulai terdengar mendekat. Namun di saat yang sama, massa yang marah, massa yang tadinya membenci Elina karena hasutan Aris—kini berbelok ke arah setelah melihat unggahan Elina tentang siapa Aris sebenarnya. Massa mulai berkumpul di bawah gedung sambil berteriak menuntut keadilan.

Aris menoleh ke arah dua algojo di belakangnya, lalu melihat ke bawah, ke arah massa yang beringas. Ia menyadari bahwa ia tidak punya tempat untuk lari. Ia telah menciptakan monster (massa) yang kini datang untuk menjemput penciptanya.

"Pilih, Aris," kata salah satu pria berbaju hitam sambil tersenyum keji. "Mati oleh peluru kami yang bersih, atau mati dicabik-cabik oleh orang-orang yang kau bohongi di bawah sana?"

Aris melangkah lagi ke belakang, tumitnya menggantung di udara. Ia melihat ponselnya bergetar. Sebuah telepon masuk dari adiknya.

Aris menatap ponsel itu, lalu menatap langit malam yang kelam. Ia menarik napas dalam-dalam, dan memberikan jawaban yang tidak akan pernah disangka oleh siapa pun di ruangan itu. Ia melepaskan pegangannya di pagar balkon.

Apakah Aris benar-benar melompat untuk mengakhiri hidupnya? Ataukah ia memiliki rencana cadangan dengan parasut atau pengamanan yang telah ia siapkan sebelumnya? Dan apakah Elina benar-benar tega menghancurkan Aris setelah mendapatkan apa yang ia inginkan?

Dalam dunia manipulasi informasi, tidak ada pemenang sejati. Kebohongan mungkin bisa memberi kekuatan suatu saat, namun ia akan menciptakan lubang hitam yang pada akhirnya akan menelan siapa pun yang bermain di dalamnya. Integritas adalah satu-satunya pelindung yang nyata, karena saat semua teknologi gagal, hanya kejujuran yang bisa menyelamatkan martabat manusia.