Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Pak Haji Salman dan Jamaah Masjid (Gemini AI)
Ukhro Wiyah

Suara azan Magrib berkumandang memantul di antara atap-atap rumah yang rendah. Angin membawa aroma gorengan dari warung depan gang dan wangi daun pandan dari dapur-dapur yang sibuk menyiapkan buka puasa.

Di teras rumah kayu yang catnya mulai mengelupas, seorang laki-laki tua duduk di kursi rotan. Sarungnya dilipat rapi, peci hitam menempel di kepalanya yang dipenuhi rambut putih tipis. Di pangkuannya terbuka mushaf Al-Qur’an dengan halaman yang sedikit menguning. Namanya Haji Salman. Usianya tujuh puluh tahun.

Tangannya yang berurat bergerak perlahan mengikuti baris-baris ayat. Bibirnya bergetar lirih, suara bacaannya pelan namun jelas. Di sampingnya, segelas air putih dan tiga butir kurma tersusun di atas piring kecil.

Di dalam rumah, cucunya, Arga, berlarian kecil sambil membawa sendok. “Kakek, sudah azan!” serunya.

Haji Salman menutup mushaf dengan hati-hati, menyelipkan pembatas kain hijau di antara halaman. Ia tersenyum.

“Sudah, ya?” tanyanya lembut.

“Iya! Arga sudah lapar sekali.”

Haji Salman tertawa pelan. “Kalau begitu, kita mulai dengan doa.”

Ia mengangkat tangan. Keriput di wajahnya tampak semakin jelas di bawah cahaya senja yang masuk dari sela-sela jendela kayu.

“Allahumma laka shumtu …”

Arga menirukan dengan suara cadel. Setelah doa selesai, Haji Salman memakan kurma pertama perlahan, lalu meneguk air putih. Wajahnya tampak tenang, seolah setiap tegukan adalah rasa syukur yang panjang. Putrinya, Rini, keluar dari dapur membawa sepiring kolak dan sepiring nasi hangat.

“Pak, Rini ambilkan makan, ya,” katanya.

Haji Salman mengangguk. “Sedikit saja cukup, Nduk. Nanti tarawih.”

Rini duduk di hadapannya. Ia memperhatikan ayahnya yang kini lebih kurus dari tahun lalu. Setiap Ramadan, semangatnya justru semakin menyala.

“Pak, siang tadi Bapak puasa juga penuh?” tanya Rini.

Haji Salman tersenyum tipis. “Tentu, Nduk. Bapak masih kuat.”

Rini menghela napas pelan. “Padahal kemarin dokter bilang Bapak harus jaga tenaga.”

Haji Salman menatap anaknya dengan mata yang bening. “Tenaga itu titipan. Kalau dipakai untuk ibadah, bukankah itu lebih baik?”

Rini terdiam. Ia sudah hafal jawaban ayahnya.

Malam itu, masjid Al-Muttaqin penuh sesak. Lampu-lampu neon menyala terang, menerangi saf-saf yang rapat. Suara kipas angin berputar bercampur dengan bisik-bisik jamaah. Haji Salman datang lebih awal seperti biasa. Ia berjalan perlahan, tongkat kayu kecil di tangan kanannya. Setiap langkahnya mantap, meski pelan.

“Assalamu’alaikum, Pak Haji,” sapa Pak Darto, tetangga sebelah.

“Wa’alaikumussalam,” jawabnya ramah.

“Masih kuat dua puluh rakaat, Pak?” goda Pak Darto.

Haji Salman tersenyum. “Insyaa Allah, Darto. Semoga Allah beri kita kekuatan untuk bisa terus beribadah kepada-Nya.”

Pak Darto terkekeh, tapi sorot matanya mengandung kekaguman.

Salat Isya dimulai. Setelah itu, tarawih pun berlangsung. Haji Salman berdiri di saf depan, sedikit ke kanan dari imam. Tangannya terlipat di dada, punggungnya tegak meski sesekali terlihat goyah.

Pada rakaat keenam, napasnya mulai terdengar lebih berat. Keringat tipis membasahi pelipisnya. Namun ketika imam membaca ayat tentang surga dan ampunan, bibir Haji Salman bergerak lebih khusyuk. Di antara dua rakaat, ia duduk sebentar, memijat lututnya.

Pak Darto berbisik, “Kalau capek, istirahat dulu, Pak Haji.”

Haji Salman menoleh, tersenyum kecil. “Kalau ini Ramadan terakhirku, Darto, aaku akan sangat menyesal tidak beribadah dengan baik.”

Pak Darto terdiam. “Rasulullah wafat usia enam puluh tiga tahun,” lanjut Haji Salman pelan. “Kalau begitu, jatah usiaku sudah lewat tujuh tahun. Ini bonus.”

Ia menatap ke arah mihrab. “Kalau ini Ramadan terakhirku di dunia, bukankah aku harus banyak-banyak beribadah untuk bekal akhirat?”

Pak Darto tidak menjawab. Ia hanya menatap lelaki tua di sampingnya yang kini kembali berdiri saat takbir berkumandang.

***

Hari-hari Ramadan berlalu dengan ritme yang hampir sama. Setelah Subuh, Haji Salman duduk di serambi masjid membaca Al-Qur’an hingga matahari naik. Pagi hari ia membantu menyapu halaman rumah, meski Rini sering melarang.

“Pak, biar saya saja,” kata Rini suatu pagi, mencoba merebut sapu.

Haji Salman menggeleng pelan. “Gerak itu nikmat, Nak.”

Siang hari ia beristirahat sebentar, lalu kembali membuka mushaf usai menunaikan salat duhur. Terkadang Arga duduk ikut di sampingnya, menirukan huruf-huruf hijaiyah.

“Kakek, kenapa Kakek baca terus?” tanya Arga polos.

Haji Salman tersenyum. Ia mengelus kepala cucunya. “Supaya hati Kakek tidak kosong.”

“Kosong bagaimana?”

“Kosong seperti gelas tanpa air. Kalau diisi ayat, jadi sejuk.”

Arga mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya paham.

Suatu sore, hujan turun deras. Langit gelap lebih cepat dari biasanya. Angin menggoyangkan pohon mangga di depan rumah. Haji Salman berdiri di depan jendela, memandang tetesan air yang mengalir di kaca.

Rini mendekat. “Pak, nanti malam tidak usah ke masjid. Jalannya licin.”

Haji Salman menoleh. “Hujan juga rahmat.”

“Tapi Bapak bisa terpeleset.”

Ia tersenyum tipis. “Kalau terpeleset di jalan menuju masjid, bukankah itu juga dalam perjalanan ibadah?”

Rini menahan napas. “Pak …,”

Haji Salman menyentuh bahu putrinya. “Nduk, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita selesai. Kalau memang sudah dekat, bukankah lebih baik selalu dalam keadaan mendekat pada-Nya?”

Hujan masih turun ketika azan Isya berkumandang. Dengan jas hujan tipis dan tongkat kayunya, Haji Salman melangkah pelan di jalan yang basah. Air menggenang di beberapa bagian gang. Lampu-lampu memantulkan bayangan di permukaan air.

Di masjid, jamaah lebih sedikit dari biasanya. Suara hujan di atap seng menjadi latar yang ritmis. Dalam sujudnya malam itu, Haji Salman berlama-lama. Dahinya menempel di sajadah yang lembap oleh udara. Bibirnya bergerak pelan, doa-doa yang tak terdengar orang lain.

Memasuki sepuluh malam terakhir, semangatnya justru semakin terlihat. Ia membawa tas kecil berisi mushaf dan botol air. Setelah tarawih, ia tidak langsung pulang. Ia duduk di sudut masjid, bersandar pada tiang, membaca Al-Qur’an hingga larut.

Pak Samin mendekat suatu malam. “Masyaa Allah, Pak Haji. Usia tak lagi muda, tapi semangat ibadah masih luar biasa.”

Haji Salman menutup mushafnya sebentar. “Justru karena sudah tua, harus lebih banyak mendekat pada Yang Kuasa.”

Pak Samin menghela napas. “Apa tidak capek, Pak?”

Haji Salman tersenyum. “Bisa merasakan lelah karena ibadah itu sungguh nikmat yang luar biasa, Samin.”

Angin malam menyusup melalui jendela masjid yang terbuka. Lampu-lampu redup, hanya beberapa jamaah yang bertahan.

“Samin,” katanya pelan, “kalau kita melihat kisah Rasulullah yang wafat di usia enam puluh tiga tahun, maka jatah usiaku seharusnya sudah habis. Ini sudah lewat tujuh tahun. Andai ini Ramadan terakhirku, masa aku bermalas-malasan?”

Pak Samin terdiam lama. Lalu duduk di samping Haji Salman dan ikut membuka mushaf.

***

Malam ke dua puluh tujuh tiba. Masjid penuh. Orang-orang berdesakan, berharap malam itu adalah Lailatul Qadar. Haji Salman datang lebih awal. Ia duduk di saf depan, seperti biasa. Wajahnya tenangnya sedikit pucat, tubuhnya tampak lebih ringkih.

Rakaat demi rakaat berjalan. Bacaan imam malam itu panjang dan menyentuh. Beberapa jamaah terisak pelan. Pada sujud terakhir witir, Haji Salman menempelkan dahinya lebih lama dari biasanya. Dalam sujud, hatinya berbisik.

“Ya Allah, jika ini Ramadan terakhirku, terimalah. Aku sudah ikhlas atas segala yang Kau tetapkan untukku.”

Air matanya menetes ke sajadah. Ketika imam mengucap takbir, Haji Salman bangkit dari sujud. Dibacanya doa tasyahud akhir dengan penuh kekhusyukan.

Setelah merasa cukup di masjid, Haji Salman berdiri dengan bantuan tongkatnya. Langkahnya lebih pelan, tapi sorot matanya terang. Di luar, angin malam bertiup lembut. Langit dipenuhi bintang.

Rini menyambutnya di depan rumah. “Pak, bagaimana tarawihnya?”

Haji Salman tersenyum. “Seperti perpisahan yang manis.”

Rini menatapnya bingung, tapi tidak bertanya lebih jauh. Malam itu, setelah membaca beberapa halaman Al-Qur’an di kamar, Haji Salman merebahkan tubuhnya. Mushaf diletakkan di samping bantal.

Ia memandang langit-langit kamar yang sederhana. “Terima kasih, Ya Allah.” bisiknya pelan. Lampu kamar dimatikan. Rumah menjadi hening.

Keesokan paginya, tepat pukul 03.00, Rini terbangun. Perempuan dua puluh lima tahun itu mengedarkan pandang ke seluruh rumah. Tumben sekali, ayahnya belum bangun. Rini mengetuk pintu kamar ayahnya.

“Pak, waktunya sahur.”

Tak ada jawaban. Ia membuka pintu perlahan. Haji Salman terbaring dengan wajah tenang. Tangan kanannya masih memeluk mushaf. Bibirnya sedikit melengkung, seolah tersenyum.

“Bapak …,” suara Rini bergetar.

Ia mendekat, menyentuh tangan ayahnya. Dingin. Tangisnya pecah, bercampur dengan gema kentongan masjid yang biasa membangunkan masyarakat untuk sahur.

Di masjid Al-Muttaqin pagi itu, jamaah berbaris untuk salat jenazah. Pak Darto dan Pak Samin berdiri di saf depan, air matanya jatuh tanpa suara. Ia teringat kalimat yang berulang kali diucapkan lelaki tua itu.

“Jika ini Ramadan terakhirku, bukankah aku harus memanfaatkan waktu untuk banyak-banyak beribadah?”

Angin pagi menyentuh halaman masjid. Langit cerah tanpa awan. Di rumah kayu bercat mengelupas itu, Rini membuka mushaf dengan pembatas hijau yang menandai halaman terakhir yang dibaca oleh ayahnya. Matanya berkaca-kaca membaca barisan ayat surah ar-Rahman yang menjelaskan kenikmatan surga.

“Masyaa Allah, Bapak.” Rini berucap lirih di antara isaknya.

Ramadan masih menyisakan beberapa hari. Tapi bagi Haji Salman, Ramadan kali ini telah cukup untuk pulang dengan bekal yang ia kumpulkan dengan sepenuh hati selama hidupnya.