Ada bus yang baik hati dan ramah. Setiap hari, bus akan bangun pagi untuk menjemput penumpangnya di pemberhentian bus. Dia tidak pernah terlambat. Bus juga selalu menjaga kebersihan dirinya. Bus ingin penumpangnya nyaman berada di dalamnya.
Hari ini, seperti biasa, bus kembali bekerja. Dia akan menjemput sekumpulan lansia di tempat pemberhentian bus. Para lansia itu hendak menuju tempat untuk mereka menghabiskan hari tua.
Bus menghentikan dirinya dengan mulus. Para lansia berjalan tertatih-tatih dibantu dengan tongkat memasuki bus satu per satu. Bus menunggu dengan sabar sampai semua lansia sudah masuk. Setelah itu, bus menancapkan gas dan melaju.
Bus senang dengan pekerjaannya. Dia senang bisa bercakap dengan penumpangnya. Kadang, bus hanya menjadi pendengar dari penumpangnya yang berbincang. Cerita-cerita dari penumpangnya selalu memberi energi pada bus.
Pernah suatu ketika, bus tidak berhenti menangis selama beberapa hari sehingga dia tidak bisa bekerja karena mendengar cerita sedih dari penumpangnya. Bus benar-benar perasa. Kalau dia tes MBTI, pasti ada F dalam hasil tesnya.
“Kau modis sekali, Nyonya,” ujar seorang perempuan kerudung putih.
Perempuan yang dipanggil nyonya itu mengenakan cheongsam berwarna hijau tua dengan gelang giong melingkar di pergelangan tangannya.
Dia tersenyum, lalu berkata, “Tentu saja. Menjadi tua tidak menghalangiku untuk tetap modis.”
Perempuan kerudung putih itu tertawa mendengarnya. Setelah berucap seperti itu, perempuan yang mengenakan congsam itu menghela napas.
“Aku sudah menggunakan banyak krim siang dan malam untuk melenyapkan keriput ini. Tapi, sepertinya aku memang tidak bisa menang melawan waktu.”
Perempuan kerudung putih tersenyum mendengar kata-kata perempuan yang mengenakan congsam. “Sejak ada di Bumi, kita memang sudah dikalahkan oleh waktu.”
“Kau benar. Keriput ini tidak boleh menghalangi kebahagiaanku.”
Perempuan kerudung putih dan perempuan yang mengenakan cheongsam terus berbincang. Berkisah banyak tentang kehidupan mereka selama 80 tahun. Bus sedari tadi mendengar cerita mereka dalam diam.
“Bus, apakah bisa putar balik? Sepertinya aku tidak jadi pergi,” ujar seorang laki-laki bertopi hitam.
Bus yang sedang menyimak cerita dua perempuan lansia tadi mengalihkan perhatiannya pada laki-laki bertopi hitam.
“Kenapa, Tuan?”
“Aku terus memikirkan anak dan cucuku. Sepertinya mereka akan bersedih jika aku pergi.”
“Kau memikirkan hal yang tidak penting. Mungkin saja mereka sedang mengadakan pesta sekarang. Tidak perlu lagi mengurus tua bangka yang menyusahkan.”
Bukan bus yang berkata seperti itu, melainkan seorang laki-laki lansia bertopi cokelat. Wajahnya terlihat garang dan tidak ramah. Mendengar kata-kata itu, laki-laki bertopi hitam langsung murung.
“Maaf, Tuan. Aku tidak bisa putar balik. Tapi, aku bisa pastikan tempat tujuan tuan nanti akan menyenangkan. Anak dan cucu tuan pasti mengharapkan tuan untuk bahagia,” ujar bus yang diam-diam berdoa dalam hati agar kata-katanya bisa menghilangkan kemurungan laki-laki bertopi hitam.
“Benarkah? Kalau begitu, aku akan menikmati perjalanan ini dengan baik.”
Bus mengehela napas lega. Hari ini, jadwalnya sangat padat. Masih banyak penumpang yang harus dia jemput. Bus bersiul sepanjang perjalanan saking senangnya.
***
Pemberhentian bus selanjutnya ada di ladang bunga. Di sana sangat indah. Beraneka bunga tumbuh di sana. Sepertinya seluruh bunga yang ada di dunia bisa ditemukan di sana.
Tapi, bus selalu merasa kasihan melihat bunga-bunga itu. Mereka dilindungi oleh dinding kaca yang terlihat seperti sedang dikurung. Mereka tidak bisa merasakan langsung bagaimana sejuknya angin yang berhembus atau hangatnya sinar matahari. Kadang, bus bertanya dalam benaknya, kenapa bunga-bunga itu dikurung dalam dinding kaca.
Terlalu sibuk memikirkan bunga, bus sampai lupa membuka pintunya. Para perempuan muda sudah menunggu dari tadi. Mereka berpakaian tertutup dan mengenakan kacamata. Hanya bagian hidung yang terlihat.
Setiap angin berhembus sehingga pakaian tersingkap menampakkan kulit tangan, mereka buru-buru menutupnya dengan gelisah. Para perempuan muda itu terlihat tidak tenang. Bahkan sudah berada di dalam, bus masih bisa melihat keresahan para perempuan muda.
“Aku harap ada suatu tempat di Bumi yang bisa membuatku merasakan kebebasan bahkan tanpa berpakaian sekalipun,” ujar salah satu perempuan muda yang sedari tadi merasa kesal dan tidak nyaman dengan pakaiannya.
“Katanya untuk melindungi kita, tapi aku merasa seperti dikekang,” ujar perempuan muda lainnya.
Bus yang mendengar percakapan para perempuan muda merasa sangat sedih. Mereka mirip sekali dengan bunga yang dilihat bus di ladang. Dunia tidak ramah untuk para perempuan muda dan bunga-bunga itu. Bus melajukan dirinya dengan pelan.
Suasana hatinya sedang tidak baik. Sama seperti langit yang mulai berubah warna menjadi kelabu. Seakan langit ikut memahami perasaannya. Sebentar lagi, jalanan akan menjadi basah dan licin, karenanya bus mengurangi laju dirinya dan menyalakan penghangat agar penumpangnya merasa nyaman, terutama para perempuan muda.
***
Di antara semua pemberhentian, bus paling suka dengan pemberhentian bus yang ketiga. Setiap menerima tugas penjemputan, bus selalu memeriksa apakah dia mendapat tugas menjemput di pemberhentian yang paling disukainya itu.
Hanya di pemberhentian itu, bus merasa senang. Seperti semua bebannya terangkat, meski sebenarnya beban itu tidak pernah hilang.
Di pemberhentian itu, warna-warni menyambut kedatangannya yang berhenti dengan mulus. Tidak seperti pemberhentian lainnya, di sana selalu berubah sesuai dengan imajinasi penumpangnya. Pernah bus melihat langit penuh dengan permen, cokelat, dan makanan manis lainnya yang bentuknya lucu.
Pernah juga bus kehujanan air sirup. Tubuhnya menjadi lengket, tapi dia senang karena sirup rasanya enak. Paling tidak terlupakan ketika jalanan berubah menjadi aneka permen yang tersusun rapi sehingga terlihat seperti jalan bebatuan. Bus rasanya sayang sekali untuk melewatinya. Terlalu cantik untuk dilewati. Dia takut akan menghancurkan permen cantik itu karena bobot tubuhnya.
Hari ini, hewan-hewan yang menggemaskan di mata manusia muncul di pemberhentian itu. Bedanya, hewan-hewan itu muncul dalam bentuk origami. Lebih tepatnya mosaik origami dengan macam-macam warna yang cerah. Bus merasa gemas dengan origami berbentuk kucing. Dia ingin sekali menyentuhnya, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia takut bisa menghancurkan origami yang terlihat rapuh itu.
Setiap berada di pemberhentian itu, bus tidak langsung melaju. Dia harus menunggu hingga penumpangnya puas bermain dan berimajinasi. Tidak sampai sehari, penumpang itu akan masuk ke dalam bus karena kelelahan bermain dan berimajinasi.
Seperti sekarang, penumpang-penumpang kecil dan menggemaskan itu sudah berbaris untuk masuk dengan wajah yang menahan kantuk. Bus gemas sekali melihatnya. Satu per satu penumpang-penumpang kecil yang disebut dengan anak-anak memasuki bus.
Duduk dan langsung tertidur. Bus melaju dengan pelan agar anak-anak tidak terbangun. Untung saja hari ini anak-anak tidak berimajinasi jalanan aneka permen. Jadi bus bisa melaju dengan mulus sehingga anak-anak tidak terganggu tidurnya.
Keesokan harinya, anak-anak sudah kembali ceria dan menyebarkan energi positif pada penumpang lain. Kadang, bus bertanya dalam benaknya, anak-anak tersusun dari apa sehingga bisa terus ceria. Padahal bus tidak tahu saja. Anak-anak pandai menyembunyikan lukanya.
Bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Menyimpan luka itu hingga mereka tumbuh dewasa dan mengeluarkannya saat tidak kuat lagi untuk disimpan. Bus tidak tahu saja. Imajinasi anak-anak yang paling gelap tersimpan di dalam diri mereka.
Anak-anak tumbuh dengan meniru orang dewasa di sekitarnya. Mereka berharap bisa cepat tumbuh menjadi orang dewasa. Mereka tidak tahu suatu saat akan menyesali harapan mereka. Hidup sebagai orang dewasa yang imajinasinya dimatikan oleh realitas.
Barangkali anak-anak takut akan ditinggalkan jika tidak bisa melakukan banyak hal seorang diri. Atau barangkali orang dewasa tidak ingin berlama-lama bertanggung jawab atas kehidupan anak-anak yang mereka racik dan hadirkan di dunia. Maka jawaban dalam benak anak-anak adalah menjadi orang dewasa.
***
Perjalanan yang bus tempuh bersama dengan penumpangnya penuh dengan canda tawa. Kadang, juga tangis dan amarah. Perjalanan itu penuh dengan cerita. Kadang penumpangnya yang bercerita. Kadang bus yang bercerita. Bus pernah mendapat pertanyaan dari penumpang kecilnya. Tuan Bus, kata mereka.
“Sudah berapa lama Tuan Bus melakukan pekerjaan ini?”
“Tuan Bus pernah bosan tidak melalui jalan yang bentuknya seperti itu saja?”
“Tuan Bus, kenapa menjadi bus?”
Pertanyaan-pertanyaan dari penumpang kecilnya membuat bus tertawa. Bus berjeda. Memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Penumpang kecil menatap bus dengan mata besar mereka yang menggemaskan. Mereka tidak sabar menanti jawaban bus.
“Aku tidak ingat sudah berapa lama melakukan pekerjaan ini. Mungkin seusia dengan dunia ini.”
“Tentu saja aku tidak pernah bosan. Aku selalu bertemu penumpang yang berbeda dengan pemberhentian yang juga berbeda. Seperti pemberhentian kalian yang selalu menyenangkan.”
“Aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi bus. Begitu aku tahu aku ada, sudah berbentuk sebagai bus.”
Penumpang kecil berebutan untuk memberi pertanyaan pada bus. Sudah bus bilang, perjalanan menjadi tidak membosankan karena energi dari penumpang kecil.
Bus baru akan sepi kalau penumpang kecil sudah lelah dan terlelap. Biasanya penumpang lansia dan penumpang perempuan muda yang akan mengambil alih. Mereka saling bercerita tentang kehidupan yang mereka jalani.
Bus dan penumpangnya sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Mereka piknik ke pantai jika cuaca sedang cerah. Mereka bermain ke kebun buah jika musim panen tiba.
Kadang, mereka juga tidak bisa ke mana-mana jika musim hujan tiba. Biasanya mereka akan berkumpul sambil minum segelas cokelat panas dan menceritakan cerita horor untuk mengisi waktu. Mereka sangat menikmati kebersamaan. Kadang, mereka berharap waktu tidak berputar agar tidak segera tiba di tempat tujuan.
Meski waktu mereka ada di dunia berbeda, namun tempat tujuan mereka tidak ditentukan dengan siapa yang terlebih dahulu ada di dunia. Kadang, bus terpaksa harus merelakan penumpang kecilnya yang turun. Tempat tujuan dan waktunya telah sampai.
Bus tidak bisa berbuat banyak hal. Meski dia sudah memelankan laju dirinya, tetap akan tiba di tempat tujuan. Meski sudah tiba di tempat tujuan, bus tidak lekas membuka pintu. Dia tidak suka dengan selamat tinggal.
Dia lebih suka dengan sampai jumpa. Tapi mustahil baginya untuk berjumpa lagi. Kadang saat momen seperti ini, muncul penyesalan dalam dirinya menjadi sebuah bus. Penumpang kecil memegang kemudi bus. Seakan menenangkan bus bahwa itu memang sudah jalannya.
Dengan tidak rela, bus membuka pintunya. Membiarkan penumpang kecil turun seorang diri. Penumpang kecil melambaikan tangannya dan tersenyum. Ingin bus menyuruhnya masuk lagi, tapi bus tidak ingin menerima hukuman. Membahayakan penumpangnya.
Bus sudah pernah melakukannya. Maka, suka tidak suka, ingin tidak ingin, bus harus mengucapkan selamat tinggal untuk pertemuan yang berharga dan tidak bisa terulang. Sebab, sejauh apa pun perjalanan yang ditempuh, akan ada tempat tujuan dengan waktu terbaiknya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Misteri Pemuda Berjaket Levis di Dekat Pohon Mahoni
-
Bukan Sekadar Horor Biasa, Film Alas Roban Padukan Mitos Lokal dan Teror Psikologis
-
RedMagic 11 Pro Tembus 4 Juta AnTuTu, Seberani Apa Performa HP Gaming Ini?
-
Manga Dark Romance Firefly Wedding Diadaptasi Anime oleh David Production
-
Perjalanan 25 Tahun BoA di SM Entertainment: Dari Pionir Hallyu Hingga Direktur Perusahaan.