M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Pak Rahman dan Radio Tua (Canva AI)
Ukhro Wiyah


Setiap pukul empat subuh, sebelum ayam-ayam di kampung benar-benar terjaga, sebuah suara serak dan pecah selalu terdengar dari rumah paling ujung gang. Bukan suara manusia, melainkan bunyi statis yang berdesis, seperti angin yang tersangkut di sela kawat. Lalu, setelah bunyi berderak itu, terdengarlah azan.

“Allahu Akbar … Allahu Akbar …”

Suara itu jernih, meski keluar dari radio tua berwarna cokelat kusam yang sudut-sudutnya sudah terkelupas. Nada dan tarikan napasnya khas. Panjang, mantap, dengan getar lembut di ujung setiap kalimat.

Di kursi rotan dekat jendela, Pak Rahman duduk membungkuk, jari-jarinya yang kurus memegang tombol volume yang longgar. Lampu minyak kecil menyala redup di meja sampingnya. Dinding rumah papan itu menyerap dingin malam, membuat napasnya terlihat tipis di udara. Ia memejamkan mata setiap kali azan itu berkumandang. Di luar, langit masih gelap kebiruan. Daun pisang di halaman bergoyang pelan diterpa angin dini hari.

Radio itu jauh lebih tua dari cucu-cucunya. Catnya pudar, antenanya pernah patah dan diganti dengan kawat jemuran yang dililitkan seadanya. Jika ingin menyalakannya, ada sebuah tombol yang harus diputar ke kiri dulu, lalu diketuk pelan di bagian atasnya agar suara muncul.

“Sudah tidak layak pakai, Pak,” kata Ardi, tetangga sebelah, suatu sore ketika mampir membawa pisang goreng. Pemuda itu baik sekali. Sejak Fikri meninggal, dialah yang paling sering datang membawakan makanan atau sekadar menjadi teman bicara.

Pak Rahman hanya tersenyum tipis. “Masih bisa bunyi.”

Ardi mengangkat radio itu hati-hati. “Tapi suaranya kresek-kresek. Saya bisa belikan yang baru. Sekarang radio kecil sudah murah.”

Pak Rahman menggeleng pelan. “Beda, Nak Ardi. Tidak semua suara ada di radio baru.”

Ardi terdiam, tidak berani membantah.

Di ruang tamu yang sempit itu, tepat di atas lemari kayu, tergantung sebuah foto berbingkai hitam. Seorang pemuda bersorban putih berdiri di depan mikrofon masjid, mulutnya terbuka, matanya terpejam. Namanya Fikri, anak bungsu Pak Rahman.

Bertahun-tahun lalu, ketika suaranya mulai dikenal merdu, warga kampung sering meminta Fikri mengumandangkan azan di masjid. Tak jarang juga, ia mendapat undangan untuk melantunkan ayat suci Al-Qur'an di acara pernikahan dan acara-acara besar lainnya. Suaranya mampu membuat orang berhenti berbicara, bahkan anak-anak yang berlarian pun mendadak diam.

Pak Rahman masih ingat hari ketika radio itu pertama kali merekam suara Fikri.

“Itu radio baru, Pak?” tanya Fikri sambil tersenyum.

“Iya. Katanya bisa merekam. Coba kamu azan, nanti kita simpan.”

Fikri tertawa kecil. “Buat apa direkam?”

“Biar kalau kamu tinggal jauh dari sini nanti, Bapak masih bisa dengar.”

Kalimat itu dulu terasa seperti gurauan. Kini, ia menggantung seperti janji yang tak pernah diminta.

Sejak anak pertama dan keduanya menikah, Pak Rahman hanya hidup berdua dengan Fikri di rumah sederhananya. Sang istri sudah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta beberapa tahun lalu. Sementara dua anaknya yang lain sudah merantau jauh dan menjalani hidup masing-masing bersama keluarga kecil mereka.

Itulah kenapa, setelah Fikri meninggal karena kecelakaan di jalan raya tiga tahun lalu, rumah itu menjadi jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada lagi langkah kaki tergesa menuju masjid. Tidak ada lagi suara anak-anak muda yang selalu berteriak memanggil nama putranya tiap lewat di depan rumah mereka.

Pada malam ketiga setelah pemakaman, Pak Rahman duduk sendirian di ruang tamu. Tangannya gemetar ketika menekan tombol kecil di samping radio. Desis panjang terdengar, lalu terlantun suara azan merdu yang sangat ia kenal. Pak Rahman terisak untuk pertama kalinya sejak hari kecelakaan itu. Dan sejak malam itu, radio tua itu tak pernah benar-benar mati.

Suatu pagi, suara dari radio mendadak hilang di tengah kalimat.

“Allahu Ak-”

Lalu hening. Pak Rahman menepuk-nepuk bagian atasnya. Tidak ada apa-apa selain bunyi desis lemah.

“Jangan … jangan sekarang,” gumamnya panik.

Ia membuka bagian belakang radio dengan obeng kecil yang biasa dipakai Fikri memperbaiki mainan waktu kecil. Kabel-kabel di dalamnya terlihat kusut, berdebu. Ia mengusapnya pelan, seperti menyentuh luka.

Ardi yang mendengar suara gaduh segera datang. “Pak, kenapa?”

“Tidak bunyi,” jawab Pak Rahman pendek.

Ardi mencoba memeriksa. “Sudah tua sekali komponennya. Kalau mau, saya bawa ke tukang servis di kota.”

Pak Rahman mengangguk lambat, ragu. Radio itu dibungkus kain sarung tua dan dibawa dengan sepeda motor Ardi. Sepanjang jalan, Pak Rahman memegang kain itu erat-erat di pangkuannya. Di bengkel elektronik kecil yang berbau timah solder, seorang pria berkacamata memeriksa radio tersebut.

“Model lama sekali, Pak,” katanya. “Susah cari suku cadangnya.”

Pak Rahman menelan ludah. “Yang penting bisa bunyi lagi.”

Pria itu membuka bagian dalam, mengernyit. “Mesinnya hampir rusak total. Lebih baik beli baru saja. Rekamannya bisa dipindah ke file digital.”

Pak Rahman menggeleng pelan. “Tidak sama.”

Pria itu menatapnya heran.

“Suara di sini tidak bisa ditemukan di radio lain,” kata Pak Rahman. Pria itu terdiam, lalu kembali menunduk, mencoba memperbaiki bagian yang masih bisa diselamatkan.

Lebih dari dua jam mereka menunggu, tukang servis elektronik itu akhirnya muncul dengan wajah lelah. Sebelah lengannya ia gunakan untuk mengusap keringat yang bercucuran di pelipis kanan dan kiri.

“Bisa dicoba, Pak,” katanya sembari menyerahkan radio itu ke tangan Pak Rahman.

Dengan tangan gemetar, Pak Rahman memutar tombol. Desis panjang terdengar. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Lalu … suara yang selalu dia rindukan kembali terdengar.

“Allahu Akbar … Allahu Akbar …”

Pak Rahman memejamkan mata. Bahunya bergetar halus.

Ketika mengantar tetangganya pulang, Ardi menoleh ke arah foto seorang lelaki muda yang tergantung di dinding. Fikri, pemuda bersuara merdu yang kerap kali menjadi muazin di desa mereka. Hari itu, akhirnya Ardi mengerti. Radio tua favorit Pak Rahman bukanlah sekadar radio biasa, tetapi menyimpan sesuatu yang tak akan bisa ditemukan di radio lain.

Sejak hari itu, Ardi tidak pernah lagi menyarankan mengganti radio tersebut. Setiap subuh, ia bisa mendengar azan itu dari rumahnya sendiri. Suara yang keluar dari radio tua itu menembus celah-celah papan rumah, bercampur dengan suara azan masjid yang nyata.

Suatu malam, listrik padam di seluruh kampung. Rumah-rumah tenggelam dalam gelap. Namun, di ujung gang, suara azan tetap terdengar. Radio tua itu menggunakan baterai cadangan yang selalu disiapkan Pak Rahman.

Ardi berdiri di teras, mendengarkan. Di dalam rumah, Pak Rahman duduk di kursi rotannya, wajahnya diterangi lampu minyak kecil. Radio tua itu berdengung pelan di hadapannya. Di antara desis dan getar kecil mesin yang menua, suara azan itu tetap jernih.

Pak Rahman mengangkat tangannya, mengikuti setiap kalimat seperti dulu ia mengikuti Fikri kecil yang belajar azan untuk pertama kali di ruang tamu itu. Ketika azan selesai, ia tidak langsung mematikan radio. Ia membiarkannya berdengung, seolah takut kesunyian datang terlalu cepat.