M. Reza Sulaiman | Septiani __
ilustrasi perempuan dan kupu-kupu (GEMINI AI/Nano Banana)
Septiani __

Hari itu, kau bekerja seperti biasa. Masih lumayan banyak pengunjung di bar tempatmu bekerja, meski tidak seramai biasanya. Setidaknya, tak sampai membuatmu kewalahan meracik minuman. Barangkali, cuaca dingin disertai gerimis membuat orang-orang enggan meninggalkan kehangatan yang mereka miliki.

Hari-harimu selalu terasa biasa saja. Rutinitasmu hanya bekerja lalu pulang. Kau mengulangnya setiap hari, hingga kehadirannya menarik perhatianmu. Tak ada yang istimewa dari awal pertemuanmu dengannya. Malam itu, dia mabuk berat di bar tempatmu bekerja. Sehabis menangis dan meracaukan berbagai hal, dia merebahkan kepala di meja lalu terlelap. Tidak kau bangunkan karena tidak ingin mengganggu tidurnya. Kau menunggu dia bangun hingga merelakan waktu istirahatmu.

Saat sadar, dia mendapatimu sedang duduk sambil tertidur. Suara kursi yang berderit membangunkanmu. Dia tersenyum sembari meminta maaf karena sudah merepotkanmu. Kau masih ingat dengan jelas saat pertama kali terpikat dengan senyum manis dan mata indahnya yang berbinar. Meski penampilannya kacau, kau masih bisa melihat kecantikan yang ia pancarkan.

Pertemuan keduamu dengannya terjadi di pemberhentian bus. Sapaan sederhana darinya yang masih mengingatmu berlanjut menjadi obrolan panjang. Kau dan dia punya selera humor yang sama. Kalian terus berbincang hingga tidak sadar tertinggal bus. Kalian benar-benar banyak tertawa malam itu.

Kau kembali bertemu dengannya di sebuah kafe untuk ketiga kalinya. Dia bekerja di sana. Konon katanya, manusia hanya diberi tiga kesempatan. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, kau mengajaknya berkencan yang ternyata disambut baik olehnya. Banyak hal menyenangkan terjadi selama kalian menjalin hubungan. Kalian punya banyak kesamaan sehingga jarang sekali bertengkar.

Kencan pertamamu dengannya tidak luar biasa seperti film-film romantis. Kau mengajaknya ke kedai bakmi favoritmu, yang untungnya disambut baik olehnya. Setelahnya, dia mengajakmu melihat pameran di galeri seni. Dia yang berdiri dan menatap lukisan lebih menarik perhatianmu dibandingkan lukisan-lukisan indah di galeri itu. Matanya yang indah berbinar kala dirinya menceritakan lukisan-lukisan yang sangat disukainya. Itulah hal baru tentang dirinya yang kau ketahui hari itu.

Juga, tato kupu-kupu kecil di tulang selangkanya yang baru kau ketahui hari itu. Tato itu terlihat karena atasan bertali tipis yang ia kenakan. Semua yang ada pada dirinya terlihat indah di matamu. Dia seperti lukisan di galeri seni yang kau lihat, namun dalam versi yang lebih nyata. Kau bertanya-tanya, kenapa perempuan seindah dirinya mengiyakan berkencan dengan laki-laki biasa sepertimu? Namun, pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan langsung padanya.

Jadwal shift yang tidak menentu menjadi alasan kau dan dia jarang berjumpa. Namun, rasa rindu dari jarang berjumpa membuat hubungan kau dan dia menjadi erat. Setiap berjumpa, kau dan dia bergantian menceritakan hari-hari yang telah dilalui. Mendengar cerita-ceritanya adalah bagian favoritmu. Rasanya 24 jam dalam sehari terlalu singkat. Perjumpaan kalian sering kali ditutup dengan night ride keliling kota.

Kilas balik ingatan tentang dia menerjang kepalamu sejak kejadian itu. Kenangan yang pernah membuat seakan ada kupu-kupu terbang di perut serta membuat bibirmu melengkung tiada henti, kini rasanya menyakitkan.

Seharusnya, tidak ada yang salah dalam hubungan kau dan dia. Kalian jarang bertengkar. Setiap ada perbedaan pendapat bisa langsung kalian selesaikan dengan baik. Dalam ingatanmu, seharusnya begitu, atau barangkali ada sesuatu yang terlewat dalam ingatanmu. Kau memeras pikiran hingga kepalamu sakit. Kau kira semuanya baik-baik saja. Atau sejak awal memang tidak baik-baik saja, dia hanya pandai menyembunyikannya.

Kau tahu jawabannya bukan terletak pada ingatanmu. Kau hanya ingin mencari alasan, karena kau tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Bibir yang selalu tersenyum manis itu bertaut dengan kebohongan.

Kau mengambil kentang goreng itu satu per satu, memakannya dalam diam. Kau lihat perempuan di hadapanmu. Kue sus yang kau pesankan untuknya belum disentuh sama sekali. Tidak ada gurauan yang ia lontarkan hari ini. Hanya keresahan yang ia tampakkan.

“Ada apa? Bicaralah.”

“Kau sudah tahu?”

“Sudah.”

“Sejak kapan?”

“Tidak penting sejak kapan aku tahu.”

“Maaf.”

“Jadi, kau ingin kita selesai?”

“Iya. Maaf.”

“Baiklah.”

Sekarang, dia tersenyum. Manis sekali, namun kau muak melihatnya. Ada yang salah sepertinya dengan kentang goreng hari ini. Mungkin pembuatnya tidak menggunakan tepung yang bagus. Mungkin pula bumbunya ada yang terlupakan.

Dia pamit. Dia terlihat bahagia sekarang. Mungkin karena dia tidak harus bersembunyi lagi. Selesai sudah ia merangkai kebohongan-kebohongan untuk membuatmu percaya padanya.

Ah, bukan kentang goreng yang salah, bukan pula salah dirimu. Kebohongan itu yang salah. Mereka yang salah.

Perempuan yang meninggalkanmu itu sedang menautkan tangannya pada kebohongan yang ia sembunyikan. Mereka masuk ke mobil dan berlalu, meninggalkan sisa-sisa kebohongan yang membekas dalam dirimu.