Bimo Aria Fundrika | e. kusuma .n
ilustrasi dua sahabat (Pexels/Dongdilac)
e. kusuma .n

Aku mencintai sahabatku dengan cara paling pengecut. Memanggilnya “teman” agar hatiku tetap aman.

***

Namanya Aira. Kami bertemu di semester awal kuliah, di antara tumpukan modul dan tugas yang terasa mustahil selesai.

Ia duduk di sampingku saat dosen terlambat datang, meminjamkan pulpen, lalu tersenyum kecil seolah kami sudah saling mengenal lama. Sejak hari itu, kehadirannya jadi bagian dari rutinitasku, terlalu sering untuk disebut kebetulan, terlalu penting untuk dianggap biasa.

Aku tahu aku jatuh cinta padanya lebih cepat dari yang seharusnya. Tapi aku juga tahu satu hal, kehilangan Aira sebagai sahabat adalah sesuatu yang tidak sanggup aku bayangkan. Jadi aku memilih jalan paling aman, diam.

Kami melakukan segalanya bersama. Makan siang, belajar, mengeluh tentang hidup yang tak kunjung ramah. Aku hafal caranya menyeruput kopi tanpa gula, caranya menggigit bibir saat gugup, caranya menertawakan hal-hal receh saat sedang lelah.

Aku tahu detail-detail kecil tentangnya yang seharusnya membuatku berani, tapi justru membuatku takut.

Orang-orang sering menggoda kami. “Kalian pacaran, ya?”

Aku selalu tertawa dan menjawab, “Nggak. Kami cuma sahabat.”

Aku tidak pernah melihat wajah Aira saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku takut jika aku melihatnya terlalu lama, aku akan tergoda untuk jujur.

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa perasaanku hanya fase. Bahwa kedekatan bisa menciptakan ilusi. Maka ketika aku bertemu Nara, aku berpikir mungkin ini jawabannya. Perempuan yang baik, menyenangkan, dan yang terpenting bukan Aira.

Aku menceritakan Nara pada Aira. Ia mendengarkan dengan tenang, terlalu tenang. Mengangguk, tersenyum, bahkan berkata akan mendoakanku. Aku tidak tahu saat itu, ia sedang belajar menyembunyikan patah yang sama denganku.

Hubunganku dengan Nara tidak berjalan lama. Ia berkata aku terlalu tertutup, terlalu sering menyebut nama orang lain dalam cerita-ceritaku. Ia tidak menyebut nama itu, tapi aku tahu.

Malam saat semuanya berakhir, aku tidak tahu harus ke mana selain ke tempat yang paling aman. Aku datang ke kos Aira tanpa kabar. Duduk di lantainya, membiarkan diriku runtuh tanpa perlu menjelaskan.

Ia tidak banyak bicara. Hanya duduk di sampingku. Diam-diam itu menyelamatkanku. Kepalaku bersandar di bahunya, dan untuk sesaat, aku membayangkan dunia yang berbeda, dunia di mana aku berani mencintainya dengan suara. Tapi aku tetap diam.

 *** 

Hari-hari setelahnya terasa ganjil. Aku mulai sadar betapa seringnya aku mencari Aira dalam segala hal. Betapa kosongnya hidup saat aku mencoba menjauh. Aku lelah berpura-pura. Aku lelah menjadi pengecut yang bersembunyi di balik kata sahabat.

Suatu sore, kami duduk di bangku taman kampus. Tempat yang sama sejak bertahun lalu. Aku mengumpulkan sisa keberanian yang kupunya.

Kamu pernah nggak,” tanyaku, “suka sama seseorang tapi nggak berani bilang?

Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Pernah.”

Jawaban itu menusuk sekaligus menghangatkan.

Kenapa nggak bilang?” tanyaku lagi.

Takut kehilangan,” katanya pelan.

Kalimat itu terasa seperti cermin. Aku menelan ludah. “Kalau aku… takut terlambat.”

Aku ingin mengatakan segalanya. Tentang rasa yang kusembunyikan sejak lama. Tentang bagaimana namanya selalu muncul di kepalaku saat aku membayangkan masa depan. Tapi lidahku kelu. Keberanian itu menguap tepat di ambang kejujuran.

“Kadang,” kataku akhirnya, setengah jujur, setengah lari, “orang yang kita cari itu sudah ada dari awal.

Aira menatapku. Tatapan yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku ingin mengatakan kamu. Ingin mengatakan selalu kamu. Tapi aku takut jika satu kata keluar, dunia kami akan berubah selamanya.

Kamu orang paling penting dalam hidupku,” ucapku.

Aku melihat matanya berkaca-kaca, dan panik menguasai diriku.

Sebagai sahabat,” tambahku cepat.

Aku membenci diriku sendiri saat itu.

***

Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku sadar, diam bukan lagi bentuk perlindungan. Diam adalah ketakutan yang menyamar sebagai kesetiaan. Aku mencintainya terlalu lama untuk terus bersembunyi, tapi juga terlalu takut untuk melangkah.

Aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Aku hanya tahu satu hal, aku dan Aira mencintai dengan cara yang sama, dalam diam, dari jarak yang terlalu dekat untuk disebut aman, terlalu jauh untuk disebut bersama.

Mungkin suatu hari, salah satu dari kami akan cukup berani untuk bersuara. Mungkin tidak.

Untuk sekarang, aku mencintainya dengan cara paling jujur yang aku tahu. Menyimpannya dalam diam. Dan berharap waktu tidak mencuri kesempatan kami.