M. Reza Sulaiman | Khoirul Umar
Tatapan cinta di bangku sekolah (Gemini.ai)
Khoirul Umar

Bel sekolah berbunyi nyaring pada pagi yang cerah, menandai dimulainya tahun ajaran baru di SMA Nusantara. Halaman sekolah dipenuhi siswa berseragam putih-abu-abu dengan wajah penuh harap dan gugup. Di antara mereka, Raka berjalan perlahan sambil menyesuaikan tali tas di bahunya. Ia bukan siswa yang mudah berbaur. Sekolah baru baginya selalu terasa seperti dunia asing yang harus dipelajari dari jarak aman.

Raka masuk ke kelas X-2 dan memilih bangku di barisan tengah. Ia menunduk, berpura-pura sibuk membuka buku, hingga tanpa sengaja pandangannya terangkat ke arah jendela. Di sana, seorang gadis duduk sendirian, menatap keluar dengan wajah tenang. Cahaya matahari pagi jatuh lembut di wajahnya. Saat gadis itu menoleh, mata mereka bertemu. Tatapan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Raka terdiam. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan, seolah dadanya menghangat tanpa alasan.

Gadis itu bernama Alya. Ia baru saja pindah dari kota lain dan masih berusaha menyesuaikan diri. Duduk di dekat jendela adalah caranya menghindari rasa canggung. Tatapan Raka yang tanpa kata itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Bukan karena ketertarikan yang langsung besar, melainkan karena ia merasa ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar murid baru.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang perlahan membentuk kebiasaan. Raka mulai memperhatikan Alya tanpa sadar. Cara Alya mencatat pelajaran dengan rapi, caranya tersenyum kecil saat memahami materi, dan kebiasaannya membaca buku saat istirahat. Alya pun mulai menyadari kehadiran Raka yang selalu tenang dan tidak banyak bicara, tetapi selalu bersikap sopan.

Kedekatan mereka bermula saat guru Bahasa Indonesia membagi tugas kelompok. Raka dan Alya berada dalam kelompok yang sama. Awalnya, percakapan mereka kaku dan singkat. Namun, seiring berjalannya waktu, diskusi berubah menjadi obrolan ringan. Mereka berbagi cerita tentang hobi, kesukaan membaca, dan mimpi sederhana setelah lulus sekolah. Kebersamaan itu terasa nyaman, seolah mereka telah saling mengenal lebih lama.

Hari-hari sekolah menjadi lebih berarti. Mereka sering belajar bersama di perpustakaan, duduk berdampingan mengerjakan tugas, dan saling menyemangati saat salah satu merasa lelah. Raka mulai menyadari bahwa kehadiran Alya adalah alasan ia tidak lagi merasa sendirian. Alya pun merasakan hal yang sama. Sekolah yang awalnya terasa asing kini menjadi tempat yang ia nantikan.

Namun, di balik kebahagiaan sederhana itu, ada kegelisahan yang tidak terucap. Raka takut mengungkapkan perasaannya karena khawatir akan merusak hubungan mereka. Alya pun memilih diam, menyimpan perasaan dalam hati karena merasa waktu mungkin tidak berpihak pada mereka.

Pada suatu sore, Alya terlihat lebih pendiam dari biasanya. Saat Raka bertanya, Alya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia sedikit lelah. Beberapa hari kemudian, Alya tidak masuk sekolah. Raka merasa gelisah, tetapi tidak berani bertanya lebih jauh. Hingga akhirnya, Alya kembali dengan wajah pucat dan senyum yang dipaksakan.

Di bangku dekat jendela, Alya akhirnya bercerita. Ia akan pindah lagi. Ayahnya mendapat tugas ke luar negeri, dan kepindahan itu harus dilakukan sebelum semester berakhir. Kata-kata itu jatuh pelan, tetapi terasa berat di telinga Raka. Dadanya terasa sesak, seolah udara di sekitarnya menghilang. Ia hanya bisa diam, menunduk, dan berpura-pura kuat.

Hari-hari setelah pengakuan itu terasa berbeda. Mereka masih berbincang dan belajar bersama, tetapi ada kesedihan yang menggantung di udara. Setiap tawa terasa seperti perpisahan yang ditunda. Raka menyimpan banyak kata di dalam hatinya, tetapi tidak satu pun mampu ia ucapkan.

Hari terakhir Alya di sekolah tiba tanpa perayaan. Setelah bel pulang berbunyi, kelas menjadi sepi. Alya berdiri di dekat jendela, tempat tatapan pertama mereka terjadi. Raka menghampirinya dengan langkah berat. Tidak ada kata cinta, tidak ada janji untuk bertemu lagi. Alya hanya berkata terima kasih karena telah membuat masa sekolahnya menjadi kenangan yang indah.

Raka mengangguk, berusaha menahan air mata. Ia ingin mengatakan bahwa Alya adalah bagian terpenting dari hari-harinya, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Mereka saling menatap untuk terakhir kalinya. Tatapan itu lebih lama daripada tatapan pertama; penuh makna, tetapi juga penuh perpisahan.

Beberapa hari setelah Alya pergi, bangku dekat jendela itu kosong. Cahaya matahari tetap masuk seperti biasa, tetapi tidak lagi terasa hangat bagi Raka. Ia duduk di bangkunya, menatap jendela yang sama, mengenang semua kebersamaan yang kini hanya tersisa dalam ingatan.

Tatapan pertama di bangku sekolah itu tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hidup sebagai kenangan yang indah sekaligus menyakitkan. Bagi Raka, Alya adalah kisah yang tidak sempat selesai—cinta yang tumbuh tetapi tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertahan. Dan setiap pagi, ketika cahaya matahari menyentuh bangku dekat jendela, Raka tahu bahwa ada kenangan yang akan selalu tinggal, meskipun orangnya telah pergi.