M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi coffee shop dan perempuan muda (Pexels/Follow)
e. kusuma .n

Raka dan Lara; ada aroma kopi dan tatapan pertama yang menelusup, memberikan rasa tanpa meminta janji apa pun.

***

Setiap pukul empat sore, perempuan itu selalu datang. Ia duduk di meja yang sama, meja kecil dekat jendela dengan cahaya matahari miring yang menyentuh ujung cangkir. Rambutnya sering diikat rendah, pakaiannya sederhana, dan ekspresinya tenang dengan jarak yang tak kasatmata.

Ia tidak pernah memperhatikan sekeliling terlalu lama, seolah kafe ini hanyalah tempat singgah, bukan ruang untuk berkenalan.

“Americano. Tidak perlu beri aku gula ekstra.”

Itu saja pesanannya. Selalu sama.

Raka hafal betul. Bahkan tanpa melihat layar kasir, tangannya sudah bergerak otomatis. Ia seorang barista di kafe itu—setidaknya, hal itulah yang diketahui orang-orang. Tidak banyak yang menyadari bahwa ia juga pemiliknya. Baginya, berdiri di balik mesin kopi jauh lebih menyenangkan daripada duduk di balik meja kantor.

Dan sejak tiga bulan lalu, satu hal lain menjadi rutinitasnya: menunggu perempuan itu datang. Raka tidak tahu namanya. Ia hanya mengenalnya dari cara perempuan itu memegang cangkir—dua tangan, seolah mencari kehangatan—dan dari caranya menatap ke luar jendela, bukan ke layar ponsel. Ia tampak seperti seseorang yang lebih sering berdialog dengan pikirannya sendiri.

Hari pertama melihatnya, Raka tidak langsung menyebutnya cinta. Ia hanya merasa ada sesuatu yang berhenti sejenak di dadanya. Hening yang aneh, seperti jeda di antara dua nada musik. Namun, hari demi hari, rasa itu tumbuh menjadi kebiasaan. Ia mulai mengukur sore berdasarkan kehadiran perempuan itu.

Suatu hari, Raka iseng bertanya, “Kenapa selalu kopi pahit?”

Perempuan itu menoleh pelan, tampak sangat anggun dan lembut. Untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu cukup lama. Ada sorot yang tenang, tetapi menyimpan luka yang sudah lama mengering.

“Karena hidup sudah cukup manis dengan kebohongan,” jawabnya singkat, lalu tersenyum kecil. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.

Sejak saat itu, Raka berhenti bertanya. Ia belajar bahwa tidak semua alasan perlu digali. Beberapa cukup dihormati. Ia hanya memastikan kopinya selalu sempurna untuk perempuan itu: pahit, hangat, dan konsisten. Persis seperti perasaan yang ia simpan diam-diam.

***

Raka sering bertanya-tanya sendiri, kisah apa yang membuat perempuan itu memilih rasa pahit. Mungkin cinta yang datang terlalu manis di awal lalu berubah getir. Mungkin janji yang tidak ditepati. Atau mungkin seseorang yang pergi tanpa pamit, meninggalkan rasa yang tidak bisa lagi dinetralisasi oleh gula.

Sementara itu, perempuan itu—yang ternyata bernama Lara—perlahan menyadari satu hal lain. Barista itu selalu ada. Selalu menyapanya dengan nada yang sama, tidak berlebihan, tidak memaksa. Selalu mengingat pesanannya, bahkan saat kafe ramai.

Ia pernah mencoba datang lebih pagi atau lebih malam. Namun, tetap saja Raka ada di sana. Ada rasa aman yang tidak ia pahami. Aman tanpa tuntutan. Aman tanpa perlu menjelaskan luka.

Hingga suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Kafe hampir kosong. Lara duduk lebih lama dari biasanya, menatap titik-titik air di kaca jendela. Raka mendekat, meletakkan secangkir kopi baru di mejanya.

“Aku tidak pesan,” kata Lara.

“Gratis. Dari owner,” jawab Raka sambil tersenyum.

Lara mengangkat alis. “Owner?”

Raka tertawa kecil. “Surprise?”

Untuk pertama kalinya, Lara ikut tertawa. Tawa yang ringan, meski singkat. Ada retakan kecil di dinding yang selama ini ia bangun dengan rapi.

“Kenapa?” tanya Lara.

Raka menarik napas. “Karena aku percaya, kopi pahit tidak selalu harus diminum sendirian.”

Kalimat itu sederhana. Tidak terdengar seperti gombalan. Namun, entah kenapa, dada Lara terasa hangat. Seperti ada beku yang perlahan mencair.

Ia menatap Raka lama, lalu berkata pelan, “Aku belum siap untuk yang manis.”

Raka mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku juga tidak meminta.”

Hujan terus turun. Kafe tetap sunyi. Dua orang itu duduk berhadapan tanpa janji, tanpa pengakuan besar. Hanya dua hati yang sama-sama lelah, tetapi tidak lagi sendirian.

Dan di antara aroma kopi pahit, cinta pandangan pertama itu tidak meledak seperti kembang api. Ia tumbuh pelan, seperti seduhan yang tepat; tidak terburu-buru, tetapi menetap dan menciptakan rasa pekat yang nikmat.

Sebab terkadang, cinta terbaik bukan yang langsung terasa manis, melainkan yang bersedia menemani rasa pahit tanpa mencoba mengubah rasanya.