Nina menutup pintu taksi online dengan gerakan pelan, seolah-olah seluruh tenaganya baru saja terkuras habis di dalam gedung rumah sakit yang ia kunjungi untuk berobat tadi. Ia berdiri di tepi jalan, tepat di depan pagar rumahnya, sambil memandangi mobil berwarna perak itu menjauh dan akhirnya menghilang di tikungan.
Udara malam terasa dingin. Sejak awal ia berangkat sampai kembali lagi, hujan masih turun meskipun sudah tidak terlalu deras. Nina pun menghela napas sembari meraba tas kain bermotif batik yang melingkar di bahunya. Ia membutuhkan kunci rumah. Namun, saat tangannya masuk ke dalam tas, ia hanya menyentuh permukaan plastik botol air mineral dan bungkusan obat-obatan yang berisik.
Untuk sesaat, jantung Nina seolah-olah berhenti berdetak. Ia meraba lebih dalam untuk mencari, tetapi hasilnya nihil.
Nina masih mencoba berpikir positif. Ia memeriksa kantong celananya, lalu kembali ke tas kainnya, membongkar isinya hingga botol minumnya hampir terjatuh. Dompet kulit cokelat itu tidak ada. Seketika, rasa pening yang tadi sempat mereda kini kembali menghantam kepalanya dengan lebih hebat.
“Aduh, Ya Allah, apa ketinggalan di jok mobil, ya?” gumam gadis itu dengan suara yang gemetar.
Nina masih berdiri mematung di pinggir jalan. Ia merasa sangat bodoh. Bagaimana bisa ia seceroboh itu? Di dalam dompetnya, bukan soal nominal uangnya yang tidak seberapa, melainkan ada KTP, kartu asuransi kesehatan yang baru saja ia gunakan, dan kartu ATM. Mengurus kehilangan semua itu ketika kondisi fisiknya sedang tidak baik-baik saja terbayang akan sangat melelahkan.
Masih dengan tangan yang gemetar karena panik, Nina buru-buru merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia membuka aplikasi transportasi online yang tadi ia gunakan. Beruntung, pesanan terakhirnya masih tertera jelas di sana. Namun, ia tidak menemukan nomor telepon langsung sang pengemudi; hanya ada fitur pesan dan panggilan melalui aplikasi yang terkadang sulit tersambung.
Nina mencoba menekan tombol telepon. Jantungnya berdegup kencang mengikuti nada sambung yang terasa sangat lama. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua malah sedang dialihkan.
“Tolong dong, diangkat teleponnya.” Nina bergumam tak sabar.
Ia juga mulai mondar-mandir di depan pagar, air mata pun sangat sulit untuk ditahan. Ia merasa benar-benar tidak berdaya. Akhirnya, pada percobaan ketiga, suara berat seorang laki-laki terdengar di seberang sana.
“Halo, dengan Pak Jono?” tanya Nina cepat-cepat.
“Iya, benar. Ini Mbak Nina yang tadi saya antar ke kompleks perumahan, ya?”
“Iya, Pak! Pak, dompet saya mungkin ketinggalan di jok belakang. Bisa tolong dicek, Pak? Isinya kartu-kartu penting semua.”
Hening sejenak. Nina menahan napas. Rasanya seperti menunggu hasil pemeriksaan dokter. Menegangkan.
“Oh, iya Mbak, ini ada. Tadi saya baru mau menepi buat cek jok belakang. Mbak jangan panik ya, saya putar balik sekarang. Kebetulan saya belum ambil orderan lagi. Mbak tunggu di depan pagar saja.”
Mendengar itu, Nina merasa lega. Ia menyandarkan tubuhnya ke pagar besi rumahnya, membiarkan tubuhnya merosot hingga ia terduduk di aspal jalan yang dingin. Ia menangis—menangis karena dompetnya akan kembali.
Beberapa menit kemudian, mobil perak yang tadi mengantarnya kembali terlihat. Pak Jono turun dengan senyum ramah, menyodorkan dompet cokelat yang tampak masih utuh.
“Ini, Mbak. Dicek dulu isinya,” ucap Pak Jono tenang.
Nina membukanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. KTP-nya ada di sana, kartu kesehatannya terselip rapi, dan kartu ATM-nya pun tidak bergeser. Semuanya masih utuh.
“Terima kasih banyak, Pak. Benar-benar terima kasih. Saya bingung kalau ini hilang, Pak,” ujar Nina sambil berkali-kali membungkukkan badan. Ia mencoba memberikan uang sebagai tanda terima kasih, tetapi pria itu menolak dengan halus.
“Sudah tugas saya, Mbak. Yang penting kartunya aman. Cepat sembuh ya, Mbak,” kata Pak Jono sebelum kembali masuk ke mobilnya.
Sebelum benar-benar beranjak, Nina terdiam sejenak sembari melihat mobil Pak Jono pergi untuk kedua kalinya. Malam itu, meskipun kepalanya masih sedikit pusing karena sakit, Nina merasa jauh lebih baik. Ia memeluk dompetnya erat-erat, lalu perlahan membuka pagar rumahnya untuk masuk ke dalam. Ia sudah sangat ingin beristirahat.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Naura Ayu Ungkap Pengalaman Pahit di Awal Karier: Diremehkan Idolanya?
-
Ajakan Uji Coba Ditolak, Mengapa Indonesia Tak Ajak Bangladesh Bermain di FIFA Series?
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
-
Ratu Sofya Beberkan Konflik Keluarga dan Beban Finansial Sejak Usia Muda