Di hutan malam yang tak pernah disentuh bulan, hidup seekor burung hantu kecil bernama Lira. Bulunya abu-abu kusam, matanya besar tapi selalu tertunduk. Ia tak seperti burung hantu lain yang memburu dengan gagah. Lira takut kegelapan. Ironis, karena ia lahir di dalamnya.
Setiap malam, ketika hutan menjadi lautan hitam, burung-burung lain bersembunyi. Lira tetap terjaga, duduk di lubang pohon tua, menatap kegelapan yang seolah menelan dirinya.
“Kenapa aku harus melihat dalam gelap kalau gelap itu menakutkan?” gumamnya pada angin.
Suatu malam, badai datang. Petir menyambar pohon-pohon. Api kecil menyala di semak belukar—api yang tak padam meski hujan deras. Hewan-hewan panik.
Bayi-bayi burung jatuh dari sarang. Anak rusa tersesat. Semua berteriak minta tolong, tapi suara mereka tenggelam dalam deru angin.
Lira mendengar. Satu suara kecil, nyaris tak terdengar: seekor anak tikus yatim yang terjebak di antara akar yang terbakar.
“Tolong… dingin… gelap…”
Lira gemetar. Kakinya tak mau bergerak. Tapi suara itu terus memanggil. Akhirnya ia melompat dari lubangnya. Sayapnya terbuka—pertama kali ia terbang bukan untuk kabur, tapi untuk mendekati api.
Ia terbang rendah, menghindari asap. Matanya yang besar menangkap cahaya redup itu. Untuk pertama kalinya, kegelapan bukan musuh—ia menjadi latar yang membuat cahaya terlihat lebih terang.
Lira menemukan anak tikus itu. Tubuh kecilnya hangus separuh. Lira menggenggamnya dengan cakar lembut, lalu terbang kembali ke pohon tuanya. Di sana ia membuat sarang dari daun kering yang masih hangat, membungkus tikus kecil itu.
“Kau aman sekarang,” bisik Lira.
Tapi satu bukan akhir. Malam itu, Lira terbang lagi. Dan lagi. Ia membawa seekor anak burung pipit yang sayapnya patah. Seekor katak kecil yang terperangkap di genangan air banjir. Seekor kelinci muda yang buta karena asap. Satu per satu, ia mengantar mereka ke pohon tuanya.
Hewan-hewan lain melihat dari kejauhan. “Burung hantu yang penakut itu?” bisik mereka. “Ia tak pernah berburu. Ia tak pernah berani.”
Tapi Lira tak mendengar. Ia hanya mendengar tangis di kegelapan.
Pagi menjelang, api padam. Hutan basah dan berasap. Matahari terbit lemah. Lira duduk di dahan tertinggi, lelah, sayapnya terkulai. Di bawahnya, puluhan hewan kecil berkumpul—yang ia selamatkan malam tadi. Mereka menatapnya dengan mata penuh syukur.
Seekor burung pipit kecil naik ke dahan, mendekati Lira. “Kenapa kau lakukan ini? Kau takut gelap.”
Lira menunduk. “Aku masih takut. Tapi aku lebih takut kalau ada yang sendirian di dalamnya.”
Burung pipit itu diam. Lalu ia berkata, “Kau tak membawa cahaya dari luar. Kau jadi cahaya itu.”
Kata-kata itu menggema di dada Lira. Ia menatap hutan yang masih gelap di sudut-sudutnya. Banyak lagi yang tersesat. Banyak lagi yang menangis pelan.
Malam berikutnya, Lira tak menunggu badai. Ia terbang keluar sebelum matahari benar-benar tenggelam. Ia terbang rendah, matanya mencari titik-titik kecil yang bergetar di kegelapan: mata yang ketakutan, napas yang tersengal.
Ia menemukan seekor anak beruang yang terpisah dari induknya. Seekor ular kecil yang terluka. Seekor burung kolibri yang kelelahan. Setiap kali ia membawa satu, ia berbisik, “Kau tak sendirian lagi.”
Lambat laun, hutan berubah. Hewan-hewan lain mulai ikut. Burung gagak membawa daun kering untuk sarang. Kelinci menggali lubang perlindungan. Bahkan serigala yang biasanya menakutkan kini menjaga pintu masuk pohon tua agar tak ada predator mendekat.
Pohon tua itu menjadi mercusuar. Bukan karena cahaya terang, tapi karena kehadiran Lira yang tak pernah berhenti mendengar.
Suatu malam, ketika bulan purnama muncul setelah sekian lama, Lira duduk sendirian di dahan. Ia menatap bayangannya di genangan air. Bulunya masih kusam. Matanya masih besar. Tapi sorotnya berbeda—tak lagi kosong, melainkan penuh.
Seekor anak tikus yang dulu ia selamatkan naik ke bahunya. “Kau bilang kau takut gelap. Tapi kau tetap terbang setiap malam.”
Lira tersenyum tipis—senyum pertama dalam hidupnya. “Kegelapan tak pernah hilang. Tapi kalau ada satu cahaya kecil yang mau bertahan di dalamnya, kegelapan tak lagi menang.”
Anak tikus itu mengangguk. “Kau cahaya itu, Lira.”
Lira menggeleng pelan. “Bukan aku saja. Kita semua. Setiap yang berani mendengar tangis di kegelapan, setiap yang mau terbang meski sayap gemetar—kita semua cahaya.”
Sejak malam itu, hutan tak lagi disebut “Hutan Malam yang Menelan”. Mereka memanggilnya “Hutan Lira”—tempat di mana kegelapan tetap ada, tapi tak pernah lagi sendirian.
Dan setiap malam, ketika angin membawa suara tangis kecil, seekor burung hantu kecil terbang keluar dari pohon tua. Matanya besar menangkap cahaya redup. Sayapnya membawa harapan.
Karena ia tahu: cahaya terindah bukan yang datang dari luar. Cahaya terindah adalah yang lahir dari hati yang berani tetap terbuka di tengah kegelapan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Lebih Dahsyat dari Haki One Piece, Fakta Covenant Imu Mustahil Dikalahkan!
-
Review Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Saat Komedi Berani Menguliti Niat Penguasa
-
4 Regenerative Cream dengan PDRN & Cica, Rahasia Glass Skin Tanpa Iritasi
-
Hanggini Umumkan Kehamilan Anak Pertama Setelah 2 Tahun Menikah
-
Dibalik Pemblokiran Grok: Mengapa Regulasi AI Sangat Penting bagi Keamanan Digital?