M. Reza Sulaiman | Akrima Amalia
Ilustrasi cerita Lia, Sebuah Pintu Bernama "Iya". (Dok: Gemini AI)
Akrima Amalia

Dunia bagi Lia kecil adalah sebuah kotak mungil yang nyaman, namun tertutup rapat. Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan sifat introvert yang ekstrem, rumah terbaiknya adalah halaman-halaman buku dan ujung pena. Baginya, berbicara dengan orang asing adalah tantangan fisik yang menyesakkan dada, dan kerumunan adalah tempat ia merasa paling kehilangan diri. Ia hanya memiliki segelintir teman dekat, tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut dihakimi.

Namun, kenyamanan itu hancur saat ia duduk di bangku kelas 3 SD. Teman dekat yang menjadi "jangkar" sosialnya harus pergi. Kehilangan itu bukan sekadar kehilangan teman bermain, melainkan hilangnya jembatan Lia dengan dunia luar. Sejak saat itu, Lia semakin menarik diri. Ia tenggelam dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri. Hari-harinya hanya diisi dengan belajar, membaca, dan menulis di dalam kamarnya. Belajar menjadi pelarian sekaligus benteng pertahanan agar ia tidak perlu berinteraksi dengan dunia yang baginya tampak terlalu berisik.

Hingga tiba saatnya Lia menginjak kelas VII SMP, sebuah masa transisi yang biasanya menakutkan bagi anak-anak seperti dia. Di sinilah "hal kecil" itu terjadi.

Suatu siang, seorang teman dekat menghampirinya. Dengan antusias, teman tersebut mengajak Lia untuk mengikuti seleksi kepengurusan Dewan Kerja Penggalang (Pramuka). Reaksi pertama Lia tentu saja ingin menolak. Pikiran untuk berorganisasi, memakai seragam penuh lencana, dan berurusan dengan banyak orang adalah mimpi buruk. Namun, entah karena rasa sungkan atau secercah rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba, Lia mengucapkan satu kata kecil yang mengubah segalanya: "Iya."

Ironisnya, dalam perjalanan seleksi tersebut, teman yang mengajaknya justru memutuskan untuk tidak lanjut. Lia berdiri di persimpangan jalan. Ia bisa saja ikut mundur dan kembali ke zona nyamannya yang tenang. Namun, sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk tetap berjalan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Lia memilih untuk tidak lari.

Titik balik yang paling krusial terjadi saat seleksi memasuki tahap berbicara di depan umum. Lia harus berdiri di depan banyak pasang mata. Saat itu, dunianya serasa berhenti. Ia kaku membisu. Keringat dingin mengucur, dan kata-kata seolah-olah tersangkut di tenggorokan. Ia mencoba bersuara, namun gagal. Di saat ia hampir menyerah dan ingin lari sambil menangis, ia bertemu dengan sosok guru pembimbing Pramuka yang luar biasa sabar.

Guru tersebut tidak memarahi atau meremehkan ketakutan Lia. Sebaliknya, beliau melihat potensi yang tersembunyi di balik kebisuannya. Dengan berbagai cara yang telaten, guru tersebut mulai membangun mental Lia. Beliau memberikan tanggung jawab kecil secara bertahap, memberikan kata-kata penguatan, dan meyakinkan Lia bahwa keberanian bukanlah tentang ketiadaan rasa takut, melainkan tentang tetap bertindak meskipun rasa takut itu ada.

Berkat bimbingan yang sabar dan keputusan kecil untuk terus mencoba, tembok besar introvert yang mengurung Lia selama bertahun-tahun mulai runtuh. Lia yang tadinya diam, mulai berani berpendapat. Lia yang tadinya kaku, mulai pandai bernegosiasi. Transformasinya begitu luar biasa hingga ia tidak hanya aktif di organisasi Pramuka, tetapi juga berani mencalonkan diri—dan terpilih—sebagai Ketua OSIS.

Yang lebih mengesankan, kehidupan organisasi tidak lantas membuat prestasinya merosot. Ia membuktikan bahwa kemampuan komunikasi dan manajemen waktu yang ia pelajari di organisasi justru mendukung prestasi akademiknya. Ia menjadi siswa yang vokal, sering membawa pembaruan di sekolah, namun tetap menjaga nilai-nilainya tetap di puncak.

Keberanian yang lahir dari keputusan kecil di kelas VII SMP itu terus ia bawa sebagai bekal hidup. Mentalitas "berani mencoba" itu ia terapkan saat menempuh pendidikan SMA, bangku kuliah, hingga akhirnya memasuki dunia kerja yang kompetitif. Lia tidak lagi takut berbicara di depan rapat besar atau memimpin proyek-proyek penting. Ia telah bertransformasi dari seorang gadis kecil yang bersembunyi di balik buku menjadi seorang pemimpin yang mampu menginspirasi orang lain.

Kini, jika Lia melihat ke belakang, ia menyadari bahwa hidupnya mungkin akan sangat berbeda jika siang itu ia berkata "tidak" pada ajakan temannya. Satu kata "iya" untuk sebuah ajakan kecil ternyata memiliki efek domino yang meruntuhkan ketakutan-ketakutan besarnya.

Cerita ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan besar tidak selalu diawali dengan langkah yang megah. Kadang-kadang, perubahan itu dimulai dari sebuah keputusan kecil yang sederhana: keputusan untuk tidak menyerah pada rasa takut dan memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk mencoba hal baru. Karena pada akhirnya, hal kecil itulah yang mengubah segalanya.