Hari itu, hari yang cerah. Mentari bersinar dengan ramah memberikan kekuatan bagi semua jiwa-jiwa yang kemarin lelah. Di hari senduku, aku menemukan surat itu di tempat sampah. Kertasnya kusut, sedikit basah, dan hampir hancur di sudut-sudutnya. Aku sedang membersihkan kelas seperti biasa tugas tambahan karena aku siswa yang “bermasalah”, begitulah kata guru BK.
Di surat itu tertulis “Aku lelah. Tidak ada satu pun orang yang benar-benar melihatku.”
Aku berhenti bernapas sebentar. Tulisan tangannya gemetar. Itu bukan surat cinta, bukan tugas sekolah. Itu jeritan. Aku membaca sampai akhir. Tidak ada nama. Hanya tanda tangan kecil di pojok “Seseorang yang hampir menyerah.”
Dunia di sekelilingku tiba-tiba terasa sunyi. Aku tahu rasanya. Aku pernah menjadi seseorang yang hampir menyerah.
Aku tidak tahu siapa yang menulis surat itu, tapi sejak hari itu aku mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku. Bukan sekadar melihat mereka, tapi benar-benar melihat. Ada anak yang selalu makan sendirian. Ada siswi yang tertawa terlalu keras seolah menutup sesuatu.
Ada guru yang terlihat kuat tapi matanya lelah. Sekolah yang dulu terasa bising mendadak seperti ruangan penuh orang yang diam-diam tenggelam. Dan aku bertanya-tanya, berapa banyak orang yang berjalan sambil membawa surat yang tak pernah dibaca?
Aku mulai melakukan hal kecil, sangat kecil sampai terasa konyol. Aku duduk di sebelah anak yang biasa makan sendiri.
“Boleh gabung?”
Dia kaget, lalu mengangguk. Kami makan tanpa bicara lima menit pertama sampai akhirnya dia berkata:
“Aku kira kamu nggak suka aku.”
Aku tertawa kecil.
“Aku kira kamu nggak suka siapa-siapa.”
Dia tersenyum, senyum pertama yang mungkin sudah lama tidak ia pakai. Hari berikutnya aku memuji presentasi seorang teman yang selalu dianggap biasa saja.
“Bagus banget cara kamu jelasin.”
Dia terdiam lama sebelum menjawab “Serius?”
Seolah pujian adalah bahasa asing baginya. Aku mulai meninggalkan catatan kecil di meja orang “Kamu penting.”
“Terima kasih sudah bertahan hari ini. Dunia lebih baik karena kamu ada.”
Aku tidak pernah menandatangani. Aku tidak ingin mereka tahu siapa pengirimnya. Aku hanya ingin surat di tempat sampah itu tidak terulang.
Seminggu berlalu dan sekolah terasa berbeda. Bukan karena semua masalah hilang, tapi karena orang-orang mulai saling menyapa. Anak yang makan sendiri sekarang punya dua teman. Siswi yang tertawa terlalu keras sekarang tertawa lebih lembut. Guru yang lelah mulai tersenyum lebih sering. Hal kecil itu menyebar tanpa pengumuman, tanpa program sekolah, tanpa poster motivasi. Hanya manusia yang mulai saling melihat.
Lalu suatu hari aku menemukan surat lain di mejaku. Kertasnya rapi, tidak kusut.
“Terima kasih karena melihatku.”
Tanganku gemetar saat membaca lanjutannya.
“Aku yang menulis surat di tempat sampah itu. Aku pikir tidak ada yang peduli. Tapi seseorang mulai meninggalkan catatan kecil. Aku tidak tahu siapa kamu. Tapi kamu menyelamatkanku.”
Aku tidak sadar aku menangis sampai air mataku jatuh ke kertas. Di bagian bawah tertulis “Seseorang yang memilih bertahan.”
Aku tidak pernah tahu siapa dia, dan mungkin itu lebih baik. Karena aku mulai mengerti sesuatu kebaikan tidak selalu butuh wajah. Kadang ia bekerja lebih kuat saat anonim. Aku terus meninggalkan catatan. Orang lain mulai meniru. Sekolah kami dipenuhi pesan kecil “Kamu hebat. Terima kasih sudah mencoba.Hari buruk bukan hidup buruk.”
Kami tidak pernah membicarakannya secara resmi, tapi semua orang tahu sesuatu sedang tumbuh, sesuatu yang hidup dari hal kecil.
Tahun terakhir sekolah, aku dipanggil ke ruang konselor. Aku pikir aku salah lagi. Tapi guru BK hanya tersenyum dan menyerahkan sebuah map. Di dalamnya ada puluhan surat dengan tulisan tangan berbeda, namun isinya hampir sama “Saya bertahan karena catatan itu. Saya tidak jadi menyerah. Saya merasa terlihat.”
Aku menatap guru BK dengan bingung. Dia berkata pelan “Kami tidak tahu siapa yang memulai ini. Tapi kamu ada di sekitar semua kejadian itu.”
Aku tidak menjawab, karena sebenarnya aku juga tidak tahu siapa yang memulai. Surat di tempat sampah itu mungkin bukan awal. Mungkin seseorang sebelum aku pernah menanam hal kecil yang sama, dan aku hanya meneruskannya, seperti estafet kebaikan yang tidak punya garis start dan tidak akan pernah punya garis finish.
Sebelum lulus, aku meninggalkan satu catatan terakhir di papan pengumuman “Kalau kamu membaca ini, teruskan.”
Itu saja. Tidak ada tanda tangan, tidak ada penjelasan. Aku berjalan keluar sekolah dengan perasaan ringan, karena aku tahu sesuatu akan tetap hidup setelah aku pergi. Kebaikan kecil itu tidak bergantung pada satu orang. Ia milik semua orang. Ia seperti api kecil yang tidak pernah padam selama ada yang mau menyalakannya kembali. Dan mungkin, di suatu tempat saat ini, seseorang membaca catatan kecil yang membuatnya memilih bertahan. Dan itu cukup. Lebih dari cukup
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Film No Other Choice Karya Park Chan Wook Gagal Masuk Nominasi Final BAFTA
-
3 Micellar Water Alpha Arbutin, Rahasia Kulit Lembap dan Cerah
-
Ketika Pengabdian Tak Sejalan dengan Kesejahteraan Guru Honorer
-
Unjuk Rasa dan Suara yang Tak Pernah Benar-benar Didengar
-
Polisi sebagai Penegak Hukum: Mengapa Sarjana Hukum Bukan Syarat Wajib?