Bimo Aria Fundrika | Srijudin Srijudin
ilustrasi (Canva)
Srijudin Srijudin

Dia tahu ada yang salah sejak jam dinding berhenti berdetak tepat pukul 02.17. Bukan rusak—jarumnya masih bergerak, tapi tidak menghasilkan suara. Sunyi yang terlalu rapi. Sunyi yang profesional. Seperti sunyi di ruang rapat saat atasan bertanya, “Ada yang mau ditambahkan?”

Dia rebahan di kasur kos yang ukurannya pas-pasan, sambil menatap plafon yang retaknya mirip peta negara fiksi. Hari itu capek. Bukan capek fisik, tapi capek eksistensial, jenis capek yang tidak sembuh dengan tidur siang atau kopi susu.

Tiba-tiba, lampu berkedip.

Dia bangun setengah duduk. “Ah, paling listrik,” gumamnya. Segala hal aneh selalu lebih mudah diterima kalau disalahkan ke fasilitas umum.

Lampu mati.

Lalu menyala lagi.

Dan di sudut kamar, berdiri sesuatu.

Putih. Tinggi. Rambut panjang. Wajah pucat. Klasik.

Dia menatapnya lama. Sangat lama. Bukan karena berani, tapi karena otaknya butuh waktu memproses apakah ini hal mistis atau cuma halusinasi akibat scroll media sosial kebanyakan.

Hantu?” katanya ragu.

Makhluk itu mengangguk pelan.

“Oh.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada lari. Tidak ada doa spontan. Yang ada justru rasa… malas. Dia menurunkan badan lagi ke kasur.

“Mas, maaf ya,” katanya sambil menarik selimut. “Kalau mau nakutin, bisa besok? Hari ini capek banget.”

Hantu itu terdiam.

Beberapa detik berlalu.

“Eh,” kata hantu itu akhirnya, suaranya datar. “Aku juga capek, sebenernya.”

Dia membuka mata lagi. “Hah?”

Hantu itu duduk di kursi plastik dekat meja. Kursi itu berdecit pelan, seperti menegaskan bahwa ini nyata dan absurd secara bersamaan.

“Aku udah muter tiga kosan malam ini,” kata si hantu. “Semua orang begadang. Ada yang lembur, ada yang nonton drakor, ada yang overthinking. Susah nyari orang yang bisa ditakutin dengan proper.”

Dia menghela napas. “Relate.”

Mereka terdiam. Dua makhluk berbeda alam, sama-sama kelelahan oleh dunia yang sama.

“Aku pikir jadi hantu tuh santai,” kata dia. “Tinggal muncul, orang jerit, selesai.”

Hantu itu tertawa kecil. “Itu dulu. Sekarang manusia lebih takut sama deadline daripada aku.”

Dia terkekeh. “Valid.”

Lampu kembali stabil. Jam dinding berdetak lagi.

“Jadi,” kata dia, “kenapa ke sini?”

Hantu itu menggaruk kepala. “Tugas.”

“Tugas?” Tanyanya terheran.

“Iya. Aku hantu kontrak. Ada target penampakan. Ada evaluasi bulanan. Kalau performa turun, bisa dipindah ke gedung kosong pinggiran kota yang sangat Sepi.”

Dia terdiam. Dunia ternyata kejam bahkan setelah manusia di alam kematian sekalipun.

“Terus aku kenapa kamu kesini?” tanya dia.

Hantu itu membuka buku catatan kecil. “Kamu terdaftar sebagai ‘manusia rentan’. Usia produktif, tekanan sosial tinggi, sering mempertanyakan hidup, tapi belum gila. Ideal buat ditakut-takuti.”

Dia mengangguk pelan. “Masuk akal.”

Hantu itu menatap sekeliling kamar. “Tapi jujur, aku bingung mau ngapain. Kamu kelihatan lebih horor dari aku.”

Dia tertawa pahit. “Itu karena aku hidup.”

Mereka berdua kemudian mengobrol Tentang kerja, Tentang tuntutan, Tentang betapa manusia dan hantu sama-sama dinilai dari produktivitas. Hantu bercerita tentang seniornya yang sudah 200 tahun menghantui sumur tapi tetap dianggap ‘kurang inovatif’.

“Kami disuruh lebih kreatif,” katanya. “Padahal manusia sekarang takutnya sama hal-hal kayak ‘gak sukses di umur 30’.”

Dia mengangguk. “Itu jumpscare paling ampuh.”

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. ternyata itu alarm dimana terlihat Jam menunjukkan pukul 02.34.

Dia mendesah. “Lihat? Bahkan sebelum mati pun udah diteror.”

Hantu itu menatap layar. “Kamu gak marah?”

“Capek buat marah,” jawabnya. “Marah butuh energi.”

Hantu itu diam lama. Lalu berkata pelan, “Kamu tahu gak, alasan aku jadi hantu?”

Dia menggeleng.

“Aku mati lembur.”

Sunyi.

“Itu… ironis,” kata dia.

“Iya,” kata hantu itu. “Aku dulu manusia yang sangat rajin. Aku selalu on time. Selalu available. Sampai suatu hari, jantungku nyerah duluan.”

Dia menelan ludah.

“Makanya aku sekarang muncul ke orang-orang kayak kamu,” lanjut si hantu. “Bukan buat nakutin. Tapi buat ngingetin.”

“Mengingatkan apa?” Tanyanya

Hantu itu berdiri. Sosoknya mulai memudar. “Bahwa hidup gak perlu selalu dibuktikan. Karena bahkan setelah mati, dunia tetap minta laporan.”

Lampu kembali berkedip.

“Eh, tunggu,” kata dia. “Kalau gitu, kamu gagal dong malam ini?”

Hantu itu tersenyum tipis. “Enggak. Aku berhasil.”

“Gimana?” Tanyanya Heran

“Kamu gak jerit. Tapi kamu mikir.”

Dan hantu itu menghilang.

Kamar kembali normal. Sunyi biasa. Sunyi manusia.

Dia duduk lama. Ponsel masih menyala dengan notifikasi yang menuntut dibalas. Tapi untuk pertama kalinya, dia mematikannya tanpa rasa bersalah.

Dia rebahan lagi.

Besok pagi, dia tetap harus kerja. Tetap harus hidup. Tapi malam ini, dia sadar satu hal: hal yang paling horor itu bukan hantu. Tapi hidup yang tidak pernah memberi izin untuk berhenti sebentar.

Dan entah kenapa, itu lucu. Dengan cara yang pahit.

Jam dinding berdetak.

02.59.

Dia tersenyum kecil.

“Semoga hantunya juga istirahat.”