Setiap pagi Raka datang ke sekolah lebih awal dari semua orang. Bukan karena ia rajin, bukan pula karena ingin belajar lebih dulu. Ia datang lebih awal karena perut kosong lebih mudah ditahan saat ruangan masih sepi.
Ketika kelas mulai dipenuhi teman-temannya, bau bekal akan menyerbu udara nasi goreng hangat, roti isi, telur dadar, kadang ayam goreng yang dibungkus kertas minyak. Bau itu bukan sekadar aroma makanan bagi Raka, itu adalah pengingat bahwa ada jarak antara dirinya dan dunia orang lain. Ia tidak benci makanan.
Ia benci kenyataan bahwa ia tidak punya apa-apa untuk dibuka di atas meja. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan batuk yang tidak pernah benar-benar sembuh, sementara ayahnya hanya tinggal sebagai cerita yang tidak pernah kembali. Uang selalu habis untuk kebutuhan yang lebih penting daripada bekal sekolah.
Sejak kecil Raka belajar satu hal lapar harus disembunyikan agar tidak terlihat memalukan. Ia duduk di bangku paling pojok, tempat orang jarang memperhatikan. Di sana ia bisa menunduk dan pura-pura membaca buku saat jam istirahat tiba, sementara suara plastik bekal yang dibuka terasa seperti gema yang memukul kepalanya.
Hari itu tidak berbeda sampai ia mencium bau roti yang sangat dekat. Ia menurunkan bukunya perlahan dan menemukan sepotong roti manis terbungkus plastik bening di mejanya. Dunia terasa berhenti beberapa detik. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tapi tidak ada satu pun mata yang tertuju padanya. Semua orang sibuk dengan makanannya sendiri.
Ia menyentuh roti itu dengan ujung jari, ragu seperti menyentuh sesuatu yang mungkin akan menghilang. Perutnya berkontraksi keras, tapi pikirannya penuh kecurigaan. Ia menunggu, memberi kesempatan bagi pemiliknya untuk datang mengambil, namun tak seorang pun bergerak. Akhirnya ia membuka plastik pelan.
Bau manis itu membuat tenggorokannya terasa sempit. Ia menggigit kecil, lalu lebih besar, dan dalam hitungan detik roti itu habis. Ada rasa lega yang bercampur malu, rasa syukur yang bercampur bersalah. Namun untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak pusing saat pelajaran setelah istirahat. Ia mengira itu kebetulan. Tapi keesokan harinya roti itu muncul lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap hari roti itu selalu ada. Tidak pernah lebih dari satu potong, tidak pernah terlambat, selalu hangat seolah baru dibeli. Raka mulai menyadari bahwa ini bukan kesalahan. Seseorang meninggalkannya dengan sengaja. Ia mengamati teman-temannya diam-diam, mencoba mencari petunjuk, tapi tidak ada yang tampak mencurigakan.
Semua berjalan normal, seolah roti itu adalah rahasia yang hanya ia dan seseorang yang tak terlihat yang mengetahuinya. Minggu pertama ia makan dengan rasa takut. Minggu kedua dengan rasa syukur. Minggu ketiga ia mulai menunggu.
Dan saat ia mengakui itu pada dirinya sendiri, ia menyadari bahwa sepotong roti bisa menjadi alasan seseorang untuk bertahan sampai siang. Tubuhnya tidak lagi gemetar karena lapar. Ia bisa fokus. Nilainya perlahan naik. Gurunya mulai memperhatikan perubahan itu.
“Raka, kamu kelihatan lebih segar akhir-akhir ini.”
Ia hanya tersenyum kecil karena tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hidupnya ditopang oleh kebaikan anonim.
Di rumah, ibunya mulai curiga melihat wajahnya yang lebih cerah.
“Kamu makan di sekolah?”
Raka ragu sejenak sebelum menjawab.
“Kadang ada teman yang bagi.”
Ibunya mengusap kepalanya pelan.
“Syukurlah kamu punya teman baik.”
Kata-kata itu menempel di dadanya. Ia tidak tahu siapa temannya itu, tapi ia berterima kasih setiap hari di dalam hati.
Musim hujan datang. Atap kelas bocor, lantai sering basah, tapi roti itu tetap datang. Bahkan di hari ketika setengah murid tidak hadir, roti itu tetap ada, seolah seseorang memastikan ia tidak pernah lupa. Suatu pagi Raka datang lebih awal dari biasanya dan bersembunyi di balik pintu kelas. Ia harus tahu siapa yang melakukan ini.
Menit-menit terasa panjang sampai langkah kaki pelan terdengar di koridor. Seorang anak perempuan masuk, Lila. Pendiam, duduk dua bangku di depannya, selalu membawa bekal sederhana. Lila membuka tasnya, mengeluarkan roti, lalu meletakkannya di meja Raka dengan hati-hati seperti menaruh sesuatu yang rapuh.
Raka keluar dari persembunyian tanpa berpikir.
“Maaf!” katanya refleks saat Lila terkejut.
Raka menatap roti itu, lalu menatap Lila.
“Kenapa kamu?”
Lila menunduk.
“Aku lihat kamu nggak pernah makan. Aku cuma bawa lebih.”
“Itu bekal kamu.”
“Ibuku selalu bikin banyak. Aku nggak habis sendiri.”
Raka tahu itu bohong, tapi ia juga tahu kebohongan itu dibuat untuk menjaga harga dirinya. Tenggorokannya terasa panas.
“Terima kasih.”
Lila mengangkat bahu seolah itu bukan apa-apa.
“Jangan bilang siapa-siapa. Aku nggak mau kamu malu.”
Hari itu mereka makan bersama untuk pertama kalinya. Sejak saat itu mereka berbagi meja dan cerita. Lila tidak pernah membuatnya merasa dikasihani. Ia hanya membuat semuanya terasa normal. Dan normal adalah hadiah yang tidak pernah Raka miliki sebelumnya.
Tahun-tahun berlalu. Raka tumbuh dengan kenangan roti hangat yang tidak pernah hilang dari pikirannya. Ia belajar keras, bekerja paruh waktu, mendapat beasiswa, dan perlahan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Ia dan Lila berpisah setelah lulus, tapi kebaikan itu tinggal di dalam dirinya seperti api kecil yang tidak pernah padam. Bertahun-tahun kemudian ia berdiri di depan kelas sebagai guru. Di sudut ruangan ia melihat seorang anak menunduk saat jam istirahat, pura-pura membaca buku dengan meja kosong.
Masa kecilnya terasa berdiri di hadapannya. Keesokan pagi ia datang lebih awal dan meletakkan sepotong roti di meja anak itu. Tangannya gemetar, bukan karena ragu, tapi karena ia tahu persis betapa besar arti roti itu. Ia tidak menunggu untuk melihat reaksi anak itu.
Dari koridor ia mendengar plastik dibuka pelan dan suara makan yang cepat seperti seseorang yang takut makanannya hilang. Raka menutup mata. Dunia terasa berputar penuh. Kebaikan itu tidak berhenti di Lila. Tidak berhenti di dirinya. Ia berpindah tangan, berpindah hati, menjadi jembatan yang tak terlihat.
Bertahun-tahun kemudian lagi, seorang mantan murid datang menemuinya. Sudah dewasa, berpakaian rapi, membawa kotak roti.
“Pak, saya tahu itu Bapak dulu.”
Raka tersenyum kecil.
“Roti di meja saya. Saya tahu itu Bapak.”
Pemuda itu menaruh kotak roti di meja.
“Saya sekarang kerja di toko roti. Dan setiap pagi saya bawa lebih. Untuk anak-anak yang seperti saya dulu.”
Raka merasakan matanya panas. Lingkaran itu tidak pernah putus. Sepotong roti tidak pernah benar-benar habis. Ia hanya berpindah, dan setiap kali berpindah dunia menjadi sedikit lebih lembut. Sedikit lebih manusia.
Dan kadang, kelembutan kecil itu cukup untuk membuat seseorang bertahan satu hari lagi. Dan bagi banyak orang, satu hari lagi adalah segalanya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
4 Rekomendasi Ring Light Terbaik untuk Konten hingga Meeting Online
-
Gisella Anastasia Ngaku Pernah Nyaris Terjebak Love Bombing, Ini Modusnya!
-
5 Drama Rom-Com Bae In Hyuk yang Seru untuk Ditonton, Terbaru Our Universe
-
Cinlok di Panggung Musikal, Bae Na Ra dan Han Jae Ah Resmi Berpacaran
-
Mao Mao dan Berang-Berang: Penerbangan Bebek Kecil Mencari Jati Diri