Seharusnya aku tahu, hari ini akan menjadi terakhir kalinya aku melihatmu. Tapi, tidak. Aku tidak mendapat semacam firasat atau apa pun yang terkadang terjadi, ketika suatu kabar buruk akan menghampiri.
Pagi tadi juga berjalan seperti biasa. Aku menikmati kopi yang telah kau siapkan di meja kecil depan televisi, sementara kau masih berjibaku dengan setumpuk pakaian milik tetangga yang belum selesai kau cuci.
Nasi goreng mengepul di hadapanku. Kau sudah menambahinya dengan telur ceplok dan dua buah sosis goreng, menuangkan air putih di gelas besar, sebelum kembali bergegas meneruskan pekerjaanmu di kamar mandi.
“Bekal makan siangmu sudah aku taruh di motor biar nggak ketinggalan lagi.”
Kau mengatakannya ketika aku pamit untuk berangkat. Kemarin aku memang lupa dan baru ingat ketika sudah tiba di warehouse ekspedisi dan kargo, tempatku bekerja sebagai staf gudang. Aku meneleponmu, meminta kau segera mengantarkan bekal yang tertinggal tersebut.
“Aku mau antar cucian, Mas. Kenapa kamu nggak ambil saja nanti waktu jam makan siang atau beli di warteg?”
Kau menolak. Aku menaikkan suara beberapa oktaf, mengeluhkan gajian yang masih lama, menyalahkanmu karena menjatah uang rokok dan bensin dengan ketat, menuduhmu tak pengertian, dan beberapa kalimat pahit yang kumuntahkan begitu saja tanpa peduli perasaanmu.
Kau akhirnya mengiyakan walaupun aku tahu, kau harus mengayuh sepeda bututmu ke tempatku bekerja, yang berjarak tiga kilometer. Kau juga pasti terlambat mengantarkan pakaian yang telah selesai kau cuci-setrika, ke rumah salah seorang tetangga yang memakai jasamu. Bisa saja kau dimarahi atas keterlambatanmu, tapi saat itu aku tak peduli.
Seperti aku yang tak pernah peduli, betapa banyak sekali pekerjaan rumah tangga yang kaukerjakan sendirian. Betapa berat beban perasaan yang juga harus kau telan dan betapa buruknya perlakuan keluargaku padamu.
Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena posisi kita yang masih tinggal menumpang pada orangtuaku. Aku juga hanya diam, ketika segala macam tanggung jawab di rumah seperti sengaja dipasrahkan mereka padamu.
“Jangan cucian tetangga aja diurusin. Sekalian cucian orang rumah dicuci-setrika, dong. Saya nggak sempat, masih browsing-browsing cari lowongan kerja.”
“Selesai masak sekalian perabotannya dicuci ya. Sekalian kamu cuci juga semua piringnya kalau semua orang sudah selesai makan. Mbak repot ngurus Chiko.”
“Miya, ini lantai sudah dipel belum, sih? Lengket amat. Ibu malu kalau ada tamu.”
“Miya, beliin Bapak rokok di warung depan. Pakai uang kamu dulu, ya. Sekalian bayarin utang rokok Bapak kemarin.”
Aku kerap kali mengetahui bagaimana keluargaku memperlakukanmu. Namun, sebagai suami nyatanya aku tidak pernah membelamu. Aku biarkan orangtua dan kakak-kakak perempuanku memperlakukanmu dengan tidak adil. Memanfaatkan kehadiranmu. Memperbudakmu.
Aku malah ikut-ikutan memaki dirimu setiap kali jatah uang mingguanku kau kurangi. Padahal aku tahu, itu karena sebagian besar gajiku berpindah ke tangan Ibu. Kau harus mengatur sisanya untukku. Belum lagi kakak perempuanku yang pengangguran seringkali ‘meminjam’ uang padamu.
Lalu kakak perempuanku lainnya juga menuntut hal yang sama. Ia membebankan uang susu anaknya padamu setiap bulan. Suaminya yang driver online lebih sering pulang dengan tangan hampa. Baru aku dan keluargaku ketahui kemudian, jika iparku itu ternyata memiliki istri yang lain. Kakakku adalah istri kedua, yang akhirnya mau tak mau harus mengalah.
Kau sangat paham bahwa gajiku tak akan cukup membiayai pengeluaran seluruh keluarga. Kau lalu mulai menawarkan jasa cuci-setrika ke setiap tetangga. Terkadang kau membawa cucian mereka ke rumah, tapi lebih sering kau mencuci-setrika di rumah para pelangganmu.
Tapi, yang kaulakukan itu pun menjadi masalah. Ibu mengeluhkan tagihan listrik yang naik. Lalu ia membebankan tagihan tersebut padamu. Kau sempat menolak dan mengatakan bahwa uang gajiku sudah diberikan padanya, hampir seluruhnya. Tapi, Ibu malah menyebutmu menantu durhaka. Menantu yang tak berbakti. Menantu tak tahu diri.
Seharusnya aku tahu, hari ini akan menjadi terakhir kalinya aku melihatmu. Tapi, tidak. Aku hanya sedikit merasa heran, kau tak menyambutku saat pulang kerja seperti biasa.
Ibuku di kamar. Kakakku yang pengangguran menonton televisi. Kakakku yang istri kedua sedang memandikan anaknya. Bapak yang buruh serabutan dan sejak kita menikah lebih banyak di rumah, seperti biasa bermain dengan burung-burung kicaunya di belakang rumah. Burung-burung yang pernah Bapak minta untuk kau belikan.
Aku masuk ke kamar kita, kau tak ada di sana. Ranjang begitu rapi. Terlalu rapi. Lemari pakaian setengah terbuka. Sebagian besar pakaianmu tak ada. Kau hanya menyisakan beberapa pakaian rumah—pakaian yang kaukenakan saat melayani keluargaku. Pakaian yang kau pakai untuk mencuci dan menyetrika.
Sisirmu juga tidak ada. Sisir usang yang sudah ompong di beberapa bagian dan seringkali tersangkut di rambut hitam tebalmu, rambut yang belakangan lebih sering rontok dan tak lagi sekemilau dulu.
Saat mengingat sisir itu aku baru menyadari, kau tak pernah membeli apa pun untuk dirimu sendiri. Tidak bedak. Tidak gincu. Bahkan sekadar sisir yang layak pun tidak.
Seharusnya aku tahu, hari ini akan menjadi terakhir kalinya aku melihatmu. Andaikan aku tahu, mungkin aku akan punya kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku akan mencoba menjadi suami, bukan sekadar anak di rumah orangtuaku.
Tapi, aku tidak tahu. Dan terlambat bagiku untuk memintamu kembali.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Kyohei Takahashi Gabung Film Live Action Blue Lock sebagai Hyoma Chigiri
-
Masak Lebih Praktis Selama Ramadan, Mahsuri Bantu Siapkan Sahur dan Buka
-
Usai One Piece, Netflix Dilaporkan akan Garap Film Live Action Gundam
-
Film Anime Gintama Rilis Battle PV: Shinpachi dan Kagura Melawan Abuto
-
Drama Korea Office Romance My Favorite Employee Resmi Umumkan Pemeran Utama