Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Baju lebaran pilihan Gen Z dan Milenial (Pinterest/Yeppuoutfit)
Vicka Rumanti

Tradisi memakai baju baru saat Lebaran kini mulai dipertanyakan dan tak lagi dianggap sebagai keharusan. Di tengah gempuran tren frugal living, Gen Z dan Milenial ternyata punya cara tersendiri untuk merayakan Idulfitri 2026 tanpa bikin dompet menjerit.

Alih-alih berburu diskon di mal, sekitar 30 persen anak muda kini lebih memilih memakai baju yang sudah ada asal masih layak pakai dan rapi.

Menurut Prudential, frugal living adalah gaya hidup yang fokusnya tertuju pada pengelolaan keuangan supaya tetap bijak dan hemat. Tujuan utamanya untuk mengurangi pengeluaran dengan membeli barang-barang seperlunya sesuai kebutuhan, sembari menghindari pemborosan. Gaya hidup frugal living ini merupakan hasil dari perubahan budaya dan kesadaran kolektif tentang keuangan dan pengelolaan sumber daya.

Namun memang tidak heran jika selama puluhan tahun, tradisi mengenakan pakaian baru menjadi simbol pembaruan diri yang seolah wajib ada setiap tahunnya. Hal ini karena orang-orang menangkap hal tersebut dari arti kata Idulfitri itu sendiri. Idulfitri berakar dari Bahasa Arab ‘Id al-Fitr yang memang secara harfiah berarti kembali kepada kesucian.

Nah, riset terbaru dari Populix ternyata menunjukkan fenomena menarik. Anak muda zaman sekarang justru lebih realistis soal gaya. Berdasarkan survei pada 18-19 Februari 2026 terhadap 1.000 responden Gen Z dan Milenial, terungkap bahwa mayoritas dari mereka tidak lagi memaksakan diri untuk membeli baju baru demi gengsi Lebaran. Kelayakan pakaian dan kondisi finansial kini menjadi pertimbangan utama di atas segalanya.

Prinsip Prioritas Keuangan 

Data Populix mencatat bahwa hanya sekitar 29 persen responden yang masih teguh mengidentikkan Lebaran dengan keharusan membeli baju baru. Sisanya? Mereka lebih memilih berdamai dengan isi dompet. Sekitar 30 persen  responden menyatakan bahwa kelayakan baju jauh lebih penting, sementara 26 persen lainnya baru akan berbelanja jika kondisi keuangan mereka benar-benar sedang prima.

Research Director Populix, Susan Adi Putra menjelaskan pergeseran ini sebagai bentuk kedewasaan finansial. “Meskipun hampir sepertiga masih mengidentikkan Idulfitri dengan baju baru, mayoritas Gen Z dan Milenial kini memiliki pandangan lain. Mereka cenderung mementingkan kelayakan dan kondisi keuangan dibandingkan harus memaksakan untuk membeli baru,” ungkapnya.

Minimalis dan Fungsional Jadi Kunci

Tren ini juga sejalan dengan gaya berpakaian yang dipilih. Tahun 2026, mayoritas anak muda sepakat untuk tampil dengan gaya minimalis dan rapi. Pilihan warnanya pun cenderung netral dan earth tone. Gaya ini dipilih bukan tanpa alasan, yakni agar pakaian tersebut tetap fungsional dan bisa dipakai kembali untuk aktivitas lain setelah masa Lebaran usai. Apalagi bagi mahasiswa dan para pekerja perusahaan yang dibebaskan dalam hal berpakaian.

Menariknya, meskipun tidak harus baru, aspek kekompakan tetap menjadi hal utama di hari raya. Tujuh dari sepuluh keluarga di Indonesia berencana mengenakan baju seragam atau sarimbit. Tidak harus sama gaya, sama warna justru jadi perhatian utama. Tujuannya agar terlihat rapi dan estetik saat sesi foto keluarga besar maupun inti. Ini berarti bagi Gen Z dan Milenial, kerapihan visual di media sosial lebih penting daripada label harga baru pada pakaian.

Budget yang Lebih Realistis

Soal anggaran, Gen Z terpantau lebih hemat dengan rata-rata mematok harga Rp500.000 atau kurang untuk satu set baju. Di sisi lain, kelompok Milenial cenderung memiliki budget lebih longgar, mencapai di atas Rp1.000.000. Perbedaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kemandirian finansial, mengingat sebagian Gen Z dalam riset ini juga mengaku masih mengikuti pilihan orang tua dalam menentukan gaya berpakaian.

Idulfitri 2026 sebenarnya bukan ajang untuk pamer baju baru. Hari raya fokusnya harus tertata dan kembali ke kesucian diri, dari hati yang tenang dan tentunya dompet tetap aman.