M. Reza Sulaiman | Wilda Febriani
Ilustrasi Lembah Penghianatan (Gambar ChatGPT)
Wilda Febriani

“Aku mau nikah, Idlan.”

Kalimat itu keluar begitu saja, sederhana, tetapi cukup untuk membuat dunia Idlan berhenti berputar. Ia menatap wanita di depannya dengan mata yang langsung berbinar. Tangannya refleks mengusap wajah, seolah memastikan ini bukan ilusi.

“Fir… kamu serius?” suaranya bergetar, antara harap dan bahagia. “Aku nunggu momen ini sejak kita lulus kuliah. Kamu tidak bercanda, kan?”

“Aku serius, Idlan.” Senyum Fira mengembang, terlihat tulus. “Aku mau nikah.”

Idlan menarik napas panjang, menahan rasa syukur yang mendesak keluar. “Masya Allah… aku bahagia. Akhirnya mimpiku terwujud.” Ia tertawa kecil, gugup. “Jadi, kapan aku bisa mengantar rombongan ke rumah kamu?”

Senyum Fira seketika memudar.

Hening menggantung di antara mereka. Idlan masih menunggu jawaban, sementara Fira menunduk, seolah baru menyadari satu hal yang selama ini tak pernah ia anggap ada.

“Idlan…” suara Fira pelan. “Maaf. Aku rasa kamu salah paham.”

“Salah paham apa?” dahi Idlan mulai mengerut. Bukankah barusan Fira mengatakan ingin menikah?

“Selama ini aku menganggap kamu sebagai kakak, sebagai saudara.” Fira mengangkat wajahnya.

Dada Idlan terasa diremas. Kini ia paham—ia salah menafsirkan kebahagiaan wanita yang selama ini ia doakan.

“Hmm,” Idlan tersenyum tipis. “Aku rasa aku tidak salah paham.”

Fira bingung, "Terus soal rombongan ke rumah?”

“Bukannya kalau menikah, laki-laki yang mengantar rombongan ke rumah wanita?” ucap Idlan santai.

“Iya… tapi—”

“Dengar aku dulu,” potongnya cepat. “Kamu mau nikah, kan? Biar aku jadi bagian dari rombongan pihak laki-laki pujaan hati kamu.”

What?”

“Apa? What, what, what?” Idlan tertawa kecil, memaksa suasana tetap tenang.

Setidaknya, mereka tidak terjebak dalam rasa saling menyakiti. Fira tidak merasa menjadi penjahat, dan Idlan—meski hatinya remuk—ia tidak ingin terlihat seperti mengemis penjelasan.

“Kamu kira aku?” tanya Idlan.

"Nothing," Fira gugup.

“Itu kelemahan kamu.” Ia sedikit memutar posisi duduk, menatap Fira langsung. “Kurang mencerna. Dan aku selalu unggul di situ.”

Fira mendengus kecil. “Idlan si paling percaya diri.”

“Fir,” suara Idlan melembut. “Kapan kamu mau nikah?”

“Kamu tidak mau tahu orangnya dulu?”

“Aku bahagia mendengar kamu akan menikah, tetapi aku berharap dia bukan orang yang terikat dalam perjanjian kita," ucap Idlan penuh penekanan. Sedetik kemudian, Idlan tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Oke,” kata Fira akhirnya.

Idlan menunggu. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang runtuh perlahan. Bukan ini yang ia harapkan. Tubuhnya masih duduk di hadapan Fira, tetapi hatinya ingin berteriak.

“Namanya Adrian.”

Dunia Idlan runtuh seketika. Adrian. Sahabat mereka sendiri. Emosi itu mendidih. Tangannya mengepal, tetapi harga dirinya menahan semua itu tetap terkunci di balik wajah tenangnya.

“Adrian Khalid?” Idlan memastikan dengan suara nyaris datar.

“Iya,” jawab Fira semakin gugup bercampur rasa bersalah.

Idlan tersenyum kaku. “Wah. Aku turut bahagia. Akhirnya si paling jomblo melepas status.”

Empat tahun lalu, ia masih ingat jelas. Saat ia menyatakan perasaan pada Fira, ia ditolak mentah-mentah. Alasannya sederhana: tidak boleh ada rasa di antara mereka bertiga. Demi menjaga persahabatan, Fira bahkan membuat surat perjanjian. Mereka menandatanganinya bersama. Isi perjanjian itu jelas—tak boleh ada cinta. Jika dilanggar, persahabatan selesai.

Lalu ini apa? Lembah pengkhianatan yang mereka bentuk secara sembunyi-sembunyi?

“Kapan tanggalnya?” tanya Idlan cepat. “Aku harap tidak bertepatan dengan jadwal keberangkatanku.”

“Kamu mau ke mana?”

“Kapan?” Idlan mengulang, suaranya berat.

“Satu bulan lagi.”

Idlan mengangguk. “Tiga bulan ke depan aku ada tugas di kantor cabang. Namun tenang, aku akan siapkan hadiah terindah buat kalian.”

“Idlan, aku mau minta—”

“Maaf?” potongnya. “Aku rasa kamu tidak perlu minta maaf. Aku tidak marah, Fir. Aku cuma kecewa. Apa arti perjanjian kita dulu?”

“Aku tidak mengkhianatinya,” suara Fira bergetar. “Aku terpaksa.”

“Menikah itu tidak mungkin tanpa rasa,” jawab Idlan dingin. “Kalau kamu terpaksa, undangan ini tidak akan ada.” Idlan mengangkat undangan itu, tujuannya membuka kembali ingatan Fira.

Fira terdiam.

“Aku harap kamu datang,” katanya lirih. “Bukan sebagai sahabat Adrian, melainkan sebagai saudara aku.”

“Lihat kondisi nanti,” jawab Idlan. “Namun apa pun itu, aku turut bahagia.”

Kebohongan terbesar yang pernah ia ucapkan adalah kata "turut bahagia", sebab dalam hatinya tak berkata demikian.

Mereka berpisah di sana. Fira tertinggal dengan rasa bersalah, sementara Idlan melangkah pergi membawa kehancuran yang rapi.

“Ada hal yang sebenarnya ingin aku katakan, Idlan, tetapi aku tidak sekuat itu,” batin Fira.

Di pertigaan dekat kantornya, Idlan menghentikan mobil. Saatnya untuk berteriak sekencang-kencangnya. Seperti orang gila? Masa bodoh, ia tengah kecewa, sangat kecewa.

"Aku akan selalu ingat tentang suatu pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan. Kita bisa berdamai, tetapi keadaan tidak akan pernah berubah."

Idlan menyeka wajahnya yang penuh dengan rasa yang tidak sepenuhnya keluar saat ia berteriak tadi.

"Kenapa harus kamu, Adrian?"

Masih ada sesak yang tertanam di dadanya. Ingin rasanya satu pukulan bisa mendarat di tubuh Adrian.