Kantuk hampir merenggut kesadaranku sepenuhnya saat tiba-tiba suara hujan yang cukup deras kembali membuatku terjaga. Kelopak mataku sedikit terbuka, tidak lama, sebelum akhirnya aku menyerah dan jatuh tertidur. Suhu udara malam ini turun dua derajat Celsius akibat hujan. Suhu yang nyaman untuk membuat siapa pun terlelap lebih cepat.
Keesokan paginya, kuraih gawai, benda pertama yang selalu ada di tanganku kala netra mulai terbuka. Hari ini adalah weekend, aku baru menyadarinya. Kulihat sekilas notifikasi yang masuk, ada satu surat elektronik yang membuatku penasaran.
To: alikageraldine@gmail.com
From: gramedia@pustaka.com
Dear Alika,
Kami dari pihak Gramedia Pustaka ingin memberitahukan bahwa naskah novel kamu memenuhi kriteria naskah yang kami cari. Berikut kami lampirkan kontrak penerbitan beserta formulir yang harus Anda lengkapi dan dikirim kembali ke alamat e-mail ini.
Salam,
Gramedia Pustaka
Aku mengerjap dua kali.
"Enggak salah baca, kan, ini?"
Jempolku kembali menggulir layar gawai, membaca kata demi kata yang tertera. Aku lolos seleksi penerbit mayor!
*5 Bulan yang Lalu*
"Al, kamu enggak apa-apa?" tanya Kian. "Seharian duduk di depan laptop. Geser bokong cuma buat makan, salat, sama ke WC saja. Kamu enggak capek?" Kian terlihat memperhatikanku.
"Ya enggak apa-apa, Kian. Aku cuma mengetik, bukannya perang."
"Ya… iya sih cuma mengetik, tapi kamu kayak gini sudah seminggu, Alika. Eh, bahkan lebih. Kamu mengerjakan apa sih?" tanyanya kepo.
Aku mengembuskan napas lelah. Merentangkan kedua tangan ke atas, melakukan peregangan ringan dan menggerakkan leherku ke kiri dan ke kanan.
"Aku lagi menyusun 'mimpi'. Sudah deh, Kian. Kamu jangan ganggu! Kalau konsentrasiku hilang, ide-ide aku juga hilang."
Aku pun menggerakkan tangan seakan mengusir sahabatku itu. Saat ini sudah lewat dari jam 9 malam.
Kalian percaya, kan? Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil? Itulah yang kuyakini saat ini. Beberapa bulan lagi, aku akan mendapat pesan, bahwa novelku bisa lolos seleksi di salah satu penerbit mayor. Aku sudah tidak sabar menanti hari itu. Kapan lagi aku bisa seserius ini? Selagi ada waktu luang sebelum jadwal kuliah kembali tidak mengizinkanku bernapas, novelku harus selesai dalam kurang dari 2 bulan.
*4 Bulan yang Lalu*
"Tuh, kan, Al, aku bilang juga apa. Kamu enggak apa-apa? Dan kamu selalu bilang enggak apa-apa. Tapi lihat sekarang? Kamu sakit kayak gini. Jangan menyiksa diri dong, Al."
Alih-alih merasa terganggu, aku justru merasa senang mendengar kecerewetan Kian. Lelaki itu peduli padaku!
"Ya… aku mana tahu kalau sekarang bakal kayak gini. Tapi… terima kasih ya. Aku enggak tahu gimana jadinya kalau enggak ada kamu," ucapku tulus.
Lelaki di sampingku ini mendengus. Aku tahu ia masih khawatir. Lalu ia menyerahkan obat yang harus kuminum beserta sebotol air.
"Nih obatnya. Nanti kalau aku pulang, kalau sudah jamnya minum obat, enggak ada alasan untuk enggak minum obat. Buburnya juga, habiskan."
"Kamu cerewet banget sih, Kian." Aku mencubit pipinya gemas.
"Aduh-aduh! Al, sakit!" Aku hanya terkekeh melihatnya mengaduh kesakitan. "Emangnya mimpi kamu apa sih, Al? Tiap ditanya enggak pernah mau cerita."
"Aku mau jadi penulis, Kian. Sst! Ini rahasia kita ya. Aku masih belum PD kalau ada yang tahu tentang mimpiku ini."
"Penulis?"
Aku menjawab pertanyaan Kian dengan anggukan. "Kamu… dukung aku, kan? Aku tahu mimpi aku ini enggak logis, terlalu tinggi atau—"
"Aku dukung kamu, Alika," ucapnya memotong ucapanku. Satu kalimat yang terlontar dari bibir tipis Kian itu sudah cukup meyakinkanku untuk terus melangkah. Aku sudah sejauh ini. Jalan untuk kembali telah tertutup. Aku tidak punya pilihan lain selain tetap maju, menjemput mimpi itu.
Kian menemaniku mengunjungi toko buku ternama di salah satu mal. Siang ini akan diadakan Meet and Greet serta bedah buku dari novel perdanaku. Semua ini benar-benar seperti mimpi. Aku tidak menyangka, respons masyarakat akan seantusias ini di saat minat membaca di negeriku ini begitu buruk.
Acara siang ini berjalan lancar. Kian tersenyum dari arah bangku penonton. Setelah sesi penandatanganan buku dan foto bersama, pembawa acara pun menutup acara yang telah berlangsung lebih dari 2 jam ini.
Aku pun turun dan berjalan mendekat ke arah Kian. Sudut bibirku tak henti-hentinya naik ke atas, membentuk sebuah senyum 5 senti. Begitu pula dengan Kian, ia juga terlihat bahagia.
"Al, aku punya hadiah buat kamu. Aku enggak tahu kamu suka atau enggak, tapi semoga saja suka ya."
Aku pun mengernyit bingung. Hadiah apa yang akan diberikan Kian? Aku menjadi penasaran.
Lelaki itu lalu mengeluarkan sebuah paper bag berwarna cokelat dan menyerahkannya padaku. Kian memerintahku untuk langsung membukanya.
Ada sebuah surat di situ dan… sekotak cincin. Jantungku terasa berhenti berdetak. Kubuka perlahan surat di dalam paper bag itu.
"Alika, aku bangga sama kamu. Selamat ya! Aku enggak akan minta tanda tangan atau giveaway novel yang kamu tulis. Karena aku bisa beli sendiri di toko buku. Tapi, boleh enggak aku minta sesuatu yang enggak bisa aku beli di toko buku?
Aku mau kamu jadi tunanganku! Aku mau hubungan kita lebih serius daripada sekadar teman."
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Negara Berkembang dan Warisan Gelap Tren Thrifting
-
Seni Mengelola Rasa Kecewa di Buku Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?
-
Berjudul Konnakol, Zayn Malik Siap Rilis Album Baru pada 17 April 2026
-
Membangun Lingkungan Kerja Aman: Mengenal Prinsip Look, Listen, Link dalam Psychological First Aids
-
Mengintip Peluang Maarten Paes Menjadi Kiper Utama di Ajax Amsterdam, Seberapa Besar?