M. Reza Sulaiman | Hafsah H.
Ilustrasi Penulis (Gemini AI)
Hafsah H.

Katanya, menulis adalah salah satu jalan pintas untuk mengobati diri. Namun, yang kurasakan justru kepalaku bertambah berat setelah melakukan aktivitas ini. Melihat jumlah pengunjung dan komentar di setiap karya yang berhasil kuunggah nyatanya membuatku menciut dalam sekejap.

Pelipisku berdenyut memikirkan hal ini. Berulang kali mengecek pemberitahuan dengan hasil akhir nihil membuatku tidak puas. Haruskah aku berhenti menulis? Apa sulitnya, sih, menghargai karya orang lain?

Semakin banyak ilmu kepenulisan yang aku tahu, semakin banyak pula pertimbangan yang kulakukan. Menulis membuatku banyak berpikir, sangat berbeda dengan dahulu ketika menulis hanyalah sebuah hobi untuk mengobati penat. Berusaha menerapkan semua ilmu turun-temurun dari para senior di setiap kelas yang kuikuti nyatanya tidak pernah mudah.

Aku ingin menjadi penulis yang bebas seperti dahulu. Memuntahkan isi kepala dengan bebas. Imajinasi yang meletup-letup ini butuh pelampiasan. Aku menarik napas berat dan mengembuskannya perlahan. Punggungku masih setia di sandaran kursi meja belajar.

Netra kelamku menatap Microsoft Word putih di depanku. Mode ketik-hapus, ketik-hapus, kulakukan berulang. Aku kembali melihat profil dan pemberitahuan platform novel digital yang tadi sempat tertutup. Ah, masih sama saja. Aku pun memutuskan menutup laptop setelah Ibu memanggilku untuk santap malam.

"Gimana makanannya? Kamu tidak suka? Kok, belum disentuh?" tanya Ibu.

Aku meringis mendengarnya. Dari tadi aku memang hanya mengaduk nasi yang sudah bercampur kuah sayur bayam. Tempe goreng yang mulai lembek akibat terkena kuah bayam belum kusentuh sama sekali.

"Suka kok, Bu." Aku langsung menyendok nasi dan mengunyahnya.

Konyol sekali rasanya kalau jumlah pengunjung dan pengikut di platform menjadikanku tidak nafsu makan. Aku tidak ingin membuat Ibu cemas. Ibu pun merekahkan senyum setelah melihatku makan dengan lahap. Keluarga kami memang sederhana. Menu seperti ini bukan hal baru yang terhidang di meja makan.

Aku menyukainya dan tidak mempermasalahkannya. Namun, perasaanku yang mudah berubah-ubah secepat perubahan cuaca sering membuatku tidak nyaman. Terkadang aku mendadak ingin menangis menjerit-jerit karena ingin segera menikah. Aku malu setiap kali bertemu orang selalu ditanya perihal jodoh. Mengapa mereka terlalu penasaran? Apa mereka tidak tahu bagaimana kondisi batinku setiap kali mendengar topik ini dibicarakan? Ah, sungguh memuakkan!

Semua yang kurasakan ini serba tiba-tiba. Bahkan, beberapa kali aku ingin menangis tanpa alasan yang jelas. Perubahan kondisi perasaanku yang terlalu mendadak ini kurasa tidak wajar. Dan parahnya, aku tidak bisa menangis. Sejak kecil aku memang tidak mudah menangis. Dada yang sesak karena tidak bisa menyalurkan emosi sangat sering kualami. Aku benci kondisi ini.

Selesai makan, aku membantu Ibu membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor. Setelahnya, aku kembali ke kamar. Laptopku masih dalam keadaan mati, mungkin akan seperti itu hingga besok pagi. Aku pun meraih ponsel dan membuka YouTube. Biasanya, selalu ada konten positif setiap kali aku membuka aplikasi yang satu ini, entah dari konten psikologi maupun agama. Aku menyukai keduanya.

Akun yang tertangkap netraku begitu membuka platform berlogo merah itu adalah NNG. Dahiku mengernyit. Aku memang menyukai Chanyeol, salah satu personel EXO yang kini memiliki akun YouTube pribadi. Namun, aku sudah jarang melihat akun yang muncul di beranda teratas ini.

Loeymentary adalah judul dari video itu. Rasa penasaran pun mendorongku untuk mengeklik dan melihat isi video tersebut. Sebuah film dokumenter, ternyata. Hatiku tersentuh saat kembali mendengar suara Loey. Chanyeol memang lebih senang disapa Loey di akun YouTube-nya itu. Loey adalah namanya jika dibaca secara terbalik: Yeol-Loey. Nama yang unik.

"Aku tidak banyak berlatih menari selama masa trainee. Aku pikir, untuk apa aku berlatih menari, kalian bisa melihat kemampuanku saat debut tidak terlalu menonjol. Aku ingin bernyanyi, tetapi aku melakukan rap, bagianku sangat sedikit. Aku pikir aku kurang populer dan aku cukup depresi saat itu," ungkapnya di video itu.

Jantungku berhenti sedetik saat mendengar pengakuannya. Tidak bisa menari? Bagaimana mungkin Loey tidak bisa menari? Pihak agensi tidak mungkin memilihnya jika pemikirannya itu benar. Dan tidak populer? Hei, aku bahkan menyukainya karena mendengar kemampuannya bernyanyi rap secara profesional. Kurasa jutaan orang di luar sana tidak sepakat dengan gagasannya itu. Loey sangat berbakat dan dunia tahu hal itu.

Detik itu, aku menoleh ke diriku sendiri. Aku merasa tidak bisa menulis dan menciptakan karya yang baik. Apa bedanya aku dengan Loey? Kami sama-sama memandang rendah diri sendiri padahal nyatanya tidak seperti itu. Dia memiliki pemikiran yang salah tentang dirinya dan tentu akan ditentang oleh dunia.

Mungkinkah aku juga memiliki pemikiran salah sama sepertinya? Kami sedang terlalu berburuk sangka dengan kemampuan yang sudah Tuhan titipkan. Aku lalu mengingat kembali perjalanan karier Loey. Dia telah menempuh empat tahun masa trainee dan tiga belas tahun karier sebagai artis. Waktu yang sama sekali tidak singkat. Sementara aku? Baru satu setengah tahun saja sudah mengeluh seperti ini.

Rasa malu menjalar di benak. Mereka bilang tidak ada sesuatu yang instan, kan? Bahkan mi instan yang diklaim sebagai makanan cepat saji pun butuh tiga menit hingga siap santap. Terlebih dalam belajar yang butuh kesabaran dan proses. Setelah menyadari semua itu, dadaku menjadi lebih ringan. Mengagumi Loey memang sering kali menyuntikkan kepositifan dalam pikiranku.

Lelaki itu dulu sempat merasa depresi karena memang telah melalui masa berproses yang lebih lama dibanding aku—empat tahun. Jika baru permulaan seperti ini saja aku sudah tidak kuat, bagaimana aku bisa mengikuti jejak sukses Loey?

“Dahulu aku selalu bermusik sesuai selera orang-orang. Aku bekerja sangat keras untuk itu. Namun sekarang, aku ingin bermusik seperti apa yang aku sukai. Aku ingin memuaskan diriku sendiri. Aku ingin menghabiskan hidup untuk musik. Apa yang aku rasakan sekarang dan apa yang ingin kuekspresikan, kutuangkan melalui musik. Aku ingin mengosongkan diri, dan setelah itu mengisinya dengan hal lain,” jelasnya panjang-lebar.

Aku sangat mengerti apa yang dirasakannya karena aku sedang mengalami hal serupa. Selama ini mungkin aku terlalu banyak berpikir ketika menulis. Ingin memuaskan orang lain hingga lupa esensi memuaskan diri sendiri. Lupa mengosongkan diri sendiri hingga tidak bisa mengisinya dengan hal lain. Dan aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama sekarang. Terima kasih, Loey.

"Van, kamu sudah lihat ini belum?" Revina menyodorkan ponselnya dengan semangat ke arahku.

Jam istirahat baru saja dimulai, tetapi teman-temanku sudah berhamburan ke arah kantin. Langkahku yang hendak mengikuti mereka terhenti karena panggilan Revina barusan. Aku terbelalak sempurna saat melihat namaku muncul di Instagram salah satu penerbit sebagai peserta yang lolos audisi.

Mataku berkedip beberapa kali. Aku tidak salah lihat, kan? Vanya Putri Rosaline, nomor urut 66 itu adalah aku?

"Selamat, Van!" Revina memelukku haru, sementara aku masih mematung tidak percaya. Seketika rasa lapar di perut hilang begitu saja.

"Aku tidak sedang bermimpi, kan, Rev?" tanyaku masih tidak yakin.

"Ya tidaklah. Vanya Putri Rosaline, siapa lagi yang punya nama itu selain kamu."

Ada lebih dari tiga ribu orang yang mengikuti kontes ini. Bisa menguatkan mental untuk berpartisipasi saja sudah membuatku bangga. Namun, lihat? Apa kejutan yang Tuhan beri untukku? Lolos seratus besar? Aku bahkan tidak berani berharap karena takut kecewa.

"Ke kantin, yuk. Kita harus merayakan ini." Revina pun menarik tanganku.

Mangkuk dan piring karyawan lain nyaris kosong saat aku dan Revina tiba. Kami pun memesan mi ayam di salah satu stan penjual makanan. Aku menyukai mi dan ayam. Sempurna bukan kalau keduanya tersaji berdampingan di dalam mangkuk?

Sambil menunggu pesanan, pikiranku kembali ke hal yang meresahkanku tadi malam. Kalau memang aku tidak berbakat, keempat juri tidak mungkin meloloskanku ke seratus orang terpilih dari ribuan orang yang mendaftar. Kalau memang aku tidak pantas menjadi penulis karena jumlah kunjungan di karyaku hanya sedikit, tidak mungkin aku bisa berada di titik ini.

"Lagi melamunkan apa, Van? Mi ayamnya sudah datang, tuh," tunjuk Revina dengan dagunya.

Aku pun menggeleng dan mulai menikmati santap siang. Seratus besar finalis dan mi ayam, siang ini terasa sempurna. Kestresanku kemarin memang tidak beralasan. Sering kali aku hanyalah manusia tidak sabar yang terlalu banyak mengeluh. Sekarang, tugasku adalah berkarya sebaik mungkin agar bisa lolos di babak selanjutnya. Dan jika aku gagal, bukankah para senior di bidangnya juga lahir dari beribu kegagalan yang tidak membuat mereka menyerah?