M. Reza Sulaiman | Wilda Febriani
Ilustrasi beban yang tak terlihat (Gambar ChatGPT)
Wilda Febriani

Dunia kerja memang tidak pernah menjanjikan kebahagiaan, tetapi lelah dan juga lillah. Dua kata itu yang selalu aku pegang dan aku bawa setiap kali berangkat kerja. Kata-kata yang menjadi penolong ketika langkah mulai terasa berat. Ketika hati ingin berhenti saat itu juga, tetapi raga harus tetap berjalan.

Kata-kata itu juga menggambarkan betapa seriusnya aku dalam bekerja. Aku tidak pernah main-main, tetapi dunia kerja seolah selalu mempermainkanku. Ia menganggapku sebagai robot yang bisa terus dipaksa, tetapi tidak boleh bersuara.

Satu tahun enam bulan, atau 557 hari, adalah angka yang terdengar singkat bagi orang lain. Namun, bagiku itu cukup lama untuk mengetahui bagaimana rasanya bekerja dengan gaji kecil dan tuntutan yang selalu besar.

Profesional, kata mereka. Rapi, teliti, dan cepat. Tidak boleh salah. Tidak boleh mengeluh karena mereka sudah menyiapkan puluhan aturan "budaya malu" yang menuntut kita untuk terlihat baik-baik saja, walaupun jauh di dalam ruang kecil itu tak lagi terhitung kata-kata yang ingin meluap.

Setiap hari aku berhadapan dengan kata-kata orang lain yang dirangkai sesuka hati mereka, tidak peduli benar atau salah. Tugasku yang tertulis hanya satu: memperbaiki. Namun, realitasnya tidak demikian; aku melakukan tugas rangkap.

Ketika satu huruf terlewat, habislah sudah. Aku harus siap menerima berbagai kritikan, seolah semua pekerjaanku gagal. Mereka tidak melihat ratusan halaman yang berhasil menjadi sebuah buku. Hanya karena satu kesalahan, kadang karier terancam dan dijadikan alasan untuk melengserkan kedudukan sebagai pekerja. Berat, tetapi mau bagaimana lagi?

Hari Minggu itu seharusnya menjadi milikku. Hari di mana aku bisa bernapas lega, duduk tanpa pekerjaan, dan makan tanpa pikiran. Namun, semua itu hanyalah harapan yang pupus karena pelatihan.

Aku dipaksa duduk di ruang pelatihan tanpa banyak alasan. Pukul 08.00, aku sudah disuguhi dengan aura yang sangat mencekam. Harusnya aku bisa tenang menikmati pelatihan yang dijanjikan akan meningkatkan kinerja, tetapi seketika udara terasa berat seolah semua orang harus siap disalahkan. Hanya karena bos yang sudah duduk duluan di dalam ruangan, ia seketika mencecar kami dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.

“Saya yang supersibuk saja bisa hadir di sini sebelum pukul delapan, kalian…” ia sedikit menjeda, lalu melihat kami satu per satu. “Harusnya peserta itu datang lebih dulu daripada pemateri, bukan pemateri yang duduk di sini duluan.”

Ingin rasanya aku menjawab, tetapi tertahan karena ia tidak pernah memberi celah untuk membantah.

“Waktu saya cuma ada hari Minggu. Bersyukurlah kalian saya berikan pelatihan ini. Kalau di luar, kalian harus bayar jutaan baru dapat ilmu ini. Harusnya kalian bisa memanfaatkannya.”

Ia berbicara bukan untuk mengajar, melainkan untuk mengoreksi dan mencari kesalahan demi kesalahan. Kalimatnya tajam, matanya dingin. Kesalahan kecil diperbesar seolah kami hanya pekerja yang suka terlambat dan tidak pernah belajar untuk bekerja lebih baik.

Aku menunduk, mencatat, dan pura-pura kuat. Padahal di dalam sana, ada sesuatu yang pelan-pelan mulai runtuh. Sekali lagi, aku ingin berkata bahwa aku datang pada hari libur. Bahwa aku juga sudah mengorbankan banyak waktu dan energi. Hari yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain, tetapi aku tetap hadir di sini.

Kurang loyalitas apa lagi? Duduk di sana, kedua telinga mendengarkan cercaan, sedangkan tangan masih harus mengerjakan urusan pekerjaan. Katanya pelatihan, kami yang akan diajarkan. Namun, ini tidak demikian; rasanya seperti ujian di hari Minggu.

Dalam pikiranku, pelatihan editor itu seharusnya berkaitan dengan editing naskah atau proofreading, bukan membuat buku. Namun, yang diajarkan adalah pemahaman dasar tentang membuat buku dan desain. Aku membantah, tetapi suaraku kalah oleh perintah. Tiba-tiba saja kami disuruh membuat desain secara manual menggunakan PowerPoint. Katanya percepatan teknologi, tetapi mengapa disuruh membuat secara manual?

Yang aku lihat dari sosok bos tersebut, bos selalu benar; kalaupun salah, tidak boleh kelihatan salah. Mengapa? Buktinya saat aku meminta diajarkan dari awal cara mengedit naskah, ia tidak bisa. Ia malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

Geram? Ah, cukup simpan dalam hati. Nanti sampai di rumah, luapkan sepuas-puasnya. Mau membantah pun pilihannya hanya dua: keluar dari ruangan atau keluar dari pekerjaan. Tidak ada pilihan yang menarik karena dalam kontrak kerja sudah tertulis: bersedia mengikuti aturan dan loyal terhadap perusahaan. Jika tidak, pilihannya juga ada dua: dibinasakan atau keluar secara tidak hormat.

Di balik kata "bertahan" itu, aku yakin ada jiwa-jiwa yang sudah lelah, tetapi memilih diam. Demi apa? Demi terlihat baik di mata semua orang, demi tidak dikatakan sarjana pengangguran, dan demi uang yang cukup untuk makan serta kebutuhan harian.

Kuat, kan? Tampaknya kuat, tetapi batinku sudah rapuh bersamaan dengan kata-kata yang selalu dilontarkan untuk menjatuhkan. Pekerjaanku tidak dihargai, lelahku dibalas cercaan. Target kerja meningkat menjadi tiga kali lipat dari biasanya.

Mau protes? Tidak akan mengubah apa pun karena di dunia kerja, suara lelah sering dianggap sekadar alasan. Pelatihan memang sudah usai, tetapi bebanku tidak berkurang. Hari esok tetap datang. Di kepalaku, pertanyaan itu muncul lagi: sampai kapan aku harus kuat dan bertahan?