Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Ilustrasi dua orang bersulang kopi (Gemini AI/Nano Banana)
Rie Kusuma

Suara gelas kopi beradu, berdenting di tengah ruangan. Sam tertawa lebar. Aku tersenyum. Hanya ada kami berdua merayakan keberhasilannya.

Aku menatap ke arah jendela saat kudengar suara berdesing teramat kuat. Suara dari suatu benda, yang sebenarnya tidak umum terdengar sedekat ini. Suara itu menghampiri begitu cepat. Begitu lekat di gendang telinga. Kulirik jam di dinding, pukul tiga dini hari.

"Saaamm ...!" Aku teriakkan nama sahabatku begitu kusadari suara itu menghantam kaca jendela.

***

Sam terbangun oleh suara dering alarm. Tepat pukul sepuluh pagi. Ia meraba-raba ponselnya di atas nakas, mematikan alarm, hingga seketika ruangan kamar kembali hening.

Aku sendiri sudah membuat kopi dan tengah menikmatinya sambil membaca draft novel yang ditulis Sam sampai menjelang dini hari tadi.

Aku melirik ke arah ranjang ketika Sam terlihat dengan susah payah memaksakan diri untuk bangkit dan, sepertinya, berusaha melawan rasa kantuk. Tapi, bukan Sam namanya, jika tak segera merapikan ranjang sebelum, dengan terhuyung-huyung, ia melangkah ke arah kamar mandi.

Aku pergi ke balkon sambil membawa kopiku. Aku ingin merokok. Kurapatkan pintu karena tahu Sam sangat membenci asap rokok. Aku tak ingin ia mengomeli aku jika bau asap rokokku terhirup olehnya.

"Assalamualaikum."

Terdengar pintu kamar membuka, bersamaan suara seorang wanita mengucap salam. Tanpa melihat aku sudah tahu siapa yang datang. Bi Surti selalu membersihkan kamar ini di waktu yang sama. Ia tak pernah berlama-lama. Wanita setengah baya itu akan bergerak gesit membersihkan seisi kamar dengan perlengkapan yang dibawanya, lalu bergegas pergi.

Sam masih di kamar mandi. Kupastikan ia akan berada di dalam sana selama hampir tiga puluh menit, lalu saat keluar ia akan menyeduh segelas besar kopi, dan kembali menekuri laptopnya. Sebuah rutinitas yang sudah kuhafal mati.

Bersamaan kubenamkan puntung rokok pada pot tanaman di sudut balkon, kudengar pintu kamar ditutup kembali. Bi Surti sudah pergi. Aku pun harus kembali ke dalam sana, mengingatkan satu hal pada Sam yang sudah menjadi tanggung jawabku.

***

"Hentikan, Sam! Apakah kau tak paham juga semua yang kau lakukan ini sia-sia? Kau hanya akan duduk lebih dari enam belas jam ke depan di kursi itu untuk omong kosong!" Aku berteriak pada Sam saat ia bersiap di depan laptopnya.

Sam bergeming. Jari-jemarinya tetap bergerak lincah menekan tuts keyboard. Sepasang mata elang yang telah menghitam bermalam-malam, nyalang menatapi layar. Bibir kering itu terkunci rapat, nyata menelan bisu. Diabaikannya aku.

"Sam, sadarlah! Yang kau tulis ini cuma taik kucing!"

Jari-jemari Sam menggantung di atas keyboard untuk beberapa lama. Tapi, seolah tak peduli, diraihnya gelas di atas meja lalu menyeruput kopi hitam kental penuh khidmat. Kedua mata Sam terkatup, seolah menikmati sensasi getir di tiap sesapannya.

"Jangan pura-pura lagi, Sam. Aku muak! Jangan bertingkah seolah kau tak mendengarku!"

Sam sudah kembali larut. Kamar berukuran 4x5 meter ini kembali digelayuti suara halus jemarinya saat menari-nari di atas keyboard. Aku membuka pintu ke arah balkon lalu membantingnya dengan keras.

***

"Sudah beres, Bi?"

"Parantos, Nyah."

"Sam tak pernah suka kamarnya kotor. Bi Surti tahu itu, kan? Dia juga selalu apik menjaga ranjangnya tetap rapi. Bibi lihat sendiri, kan, tadi?”

"Punten, Nyah. Tapi, Aden bukannya ...."

"Percayalah, Bi, dia akan senang Bibi membantunya. Ah, anak itu selalu membanggakan. Bibi ingat? Novelnya yang terakhir best seller. Siapa yang tak kenal Samuel Pamungkas, novelis kebanggaan tanah air yang masih muda, tampan, dan bermasa depan cerah.

"Nyah ...."

"Saya tahu, Bi. Saya tahu apa yang akan Bibi katakan. Saya hanya sedang menghibur diri."

Aku mendengarkan percakapan dua orang perempuan itu dari pinggir balkon dengan hati miris. Bi Surti sudah pergi meninggalkan si nyonya rumah. Perempuan yang tetap menarik di usia setengah abad itu masih duduk di taman belakang, tepat di bawah balkon kamar Sam.

Entah apa yang bergelut di pikiran ibunda Sam, karena sebentar kemudian terdengar isak tangisnya, tersamar di antara riuh suara burung-burung gereja di atap rumah. Aku kembali ke dalam kamar.

***

"Sam, apakah kau lupa kita sudah ...."

"Jangan duduk di ranjang, Borne! Kau membuat seprainya kusut!" Sam berteriak, kursinya telah berputar menghadap ke arahku. Ia bahkan seperti sengaja memotong perkataanku.

Lalu secepat Sam menegurku, secepat itu pula ia berbalik, kembali ke pekerjaannya. Aku mendesah. Tak ada yang bisa kulakukan selain duduk diam di ranjang ini—walau ia melarangnya—menunggu sampai ada kesempatan untuk kembali mengingatkan Sam.

Sia-sia saja ia mendapukku menjadi manajer pribadi, kalau kenyataannya ia bisa seenak jidat mengubah jadwal pekerjaan yang telah kuatur. Aku tahu apa yang akan kulakukan beberapa jam ke depan. Duduk di ranjang-ngopi-membaca koran yang sama-merokok di beranda-berteriak pada Sam. Rutinitas yang membosankan.

Ah, tapi bukankah aku tak tahu lagi tentang arti bosan?

***

"Akhirnyaaa ...!"

Begitu Sam kembali bersuara belasan jam kemudian, aku langsung menoleh ke arah jam dinding. Pukul dua lewat lima puluh menit. Sebentar lagi, batinku.

"Naskah novelku akhirnya rampung, Borne. Kita harus merayakannya."

Sam mengacungkan flashdisk miliknya, sebelum menyimpan benda mungil itu dalam brankas besi. Kadang aku tak habis pikir, mengapa sahabatku itu terlalu berlebihan menjaga 'harta'nya. Tapi, belakangan akhirnya aku tahu juga gunanya.

Wajah Sam tampak kusut, tapi mata elang itu berbinar ceria. Rambut ikal sepundaknya ia ikat rapi, setelah selama lebih dari enam belas jam kusut masai demi menyelesaikan deadline pekerjaan yang ia tetapkan sendiri. 

"Sam, apakah kau sadar kalau kita sebenarnya ...."

"Cheers … untuk novel terbaruku yang akan terbit, 'Lingkaran Waktu'!"

Sam mengangkat gelas kopi, memotong lagi ucapanku sama seperti beberapa jam lalu. Dengan perasaan getir aku bangkit dari ranjang, mengambil gelas kopiku di nakas, lalu menghampirinya.

"Untuk Lingkaran Waktu," bisikku.

Suara gelas kopi beradu, berdenting di tengah ruangan. Sam tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigi putih terawat. Aku tersenyum sedih, lalu menatap ke jendela melewati puncak kepalanya. Bunyi berdesing yang telah kuhafal di luar kepala setahun ini menggerus dinding-dinding kamar. Sam menatapku beku saat aku meliriknya.

Ah, dia sebenarnya sudah tahu.

Bunyi berdesing semakin lekat. Kulirik jam dinding, pukul tiga dini hari. Lima detik lagi. Aku pun memejamkan mata.

Suara desingan kini bercampur gemuruh. Bunyi tajam mesin-mesin, suara jendela kamar yang pecah, benturan hebat. Lalu suara langit-langit runtuh dan derak tubuh dihajar roda dan sayap pesawat yang mengalami kerusakan mesin dan terjatuh di perumahan penduduk.

Sam mati detik itu juga. Kepalanya rengkah!

Sedangkan aku sempat dilarikan ke rumah sakit, sebelum akhirnya diriku pun mengembuskan napas terakhir di hari yang sama. Tepat pukul sepuluh pagi.

Jadi di sinilah aku, Borne, mengulang kejadian yang sama setiap hari bersama Sam selama setahun ini. Tugasku adalah mengingatkan Sam bahwa dirinya sudah mati. Satu kenyataan yang ditolaknya mentah-mentah.

Hari ini, tepat pukul tiga lewat lima detik setahun yang lalu, Sam sudah mati!

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS