Hayuning Ratri Hapsari | Rie Kusuma
Ilustrasi lelaki mengamen di lampu merah (Gemini AI/Nano Banana)
Rie Kusuma

Dimas membuka pintu perlahan. Hampir tengah malam dan ia tak ingin membangunkan Rama, kakaknya. Namun, derit engsel pintu yang berkarat seakan menjadi pertanda kedatangannya.

Anak lelaki empat belas tahun itu menahan napas saat tubuh di atas kasur busa tipis sedikit bergerak. Seketika Dimas tahu, kakaknya belum tidur dan memang sengaja menunggunya pulang. Ia pun menyalakan saklar lampu di dekat pintu masuk. Sang kakak mengerjap sebentar sebelum menatapnya nyalang.

"Jam segini baru pulang. Ngamen ke mana aja kamu?" Suara parau Rama menyentak Dimas. 

"Ke angkringan sekitar sini aja sih, Kak. Ramai terus kalau malam minggu,” jawab Dimas sambil menaruh gitarnya di pojok kamar sebelum menghampiri kakaknya.

Sang kakak terdiam. Menguap sekali sambil menggaruki pergelangan tangan kirinya yang kemerahan. Dimas yang menangkap gerakan kakaknya itu lantas saja bertanya, "Kak Rama sudah coba pakai obat yang aku belikan?"

"Obatmu itu ya, bukan untuk penghilang gatal. Tapi, obat tidur yang akan membuat siapapun yang meminumnya tidur pulas dan melupakan rasa gatalnya. Begitu bangun, ya gatal lagi,” jawab Rama sambil bersungut-sungut.

“Besok-besok nggak usah beliin obat. Mending uangnya kamu tabung. Kan, katanya kamu masih mau nerusin sekolah,” lanjut Rama sambil kembali merebahkan tubuh. Dimas mematung di ujung kasur.

"Kakak nanti mau dibangunin Subuh nggak?"

Tak ada jawaban. Dimas tahu, itu gelagat ia akan kembali sendirian menyusuri jalanan dini hari menuju musala di ujung jalan.

Sejak Dimas menyusul sang kakak yang mengadu nasib di kota, tak sekalipun dilihatnya sang kakak salat ataupun melakukan ibadah lain. Sepertinya semua itu langsung raib, tak berbekas, begitu sang kakak menginjakkan kaki di kota Jakarta. Seolah-olah Rama memang tak pernah mengenal agama sejak kecil.

Dimas menghela napas. Ia urung merebahkan tubuhnya yang penat di samping sang kakak. Sebagai ganti, ia duduk bersila di atas lantai tegel lalu mengeluarkan bungkus permen yang terlihat sarat, serta berdencing nyaring saat bergesekan dengan kain celana jins yang Dimas kenakan.

Dimas menuang isi wadah tersebut. Uang-uang kertas kumal bercampur dengan recehan bertebaran di lantai. Ia lalu menghitungnya perlahan, sambil merapikan ujung-ujung uang kertas yang melinting.

Seusai menghitung Dimas mengucap basmalah dengan suara lirih. Enam puluh ribu hasil kerja kerasnya beberapa jam saja. Kalau pendapatannya terus sebagus ini, tak lama lagi tentu ia bisa bersekolah kembali.

***

"Dimas!"

Satu suara berteriak memanggil Dimas. Ia menoleh ke seberang jalan. Seorang lelaki tiga puluhan tahun melambaikan tangan ke arahnya.

"Kok, belum pulang, Kang Gondrong?" sapa Dimas begitu ia mendekat.

"Tadi mau pulang, cuma kelar beres-beres saja sudah jam empat. Nanggunglah, mending sekalian subuhan dulu. Duduk dulu sini, Dim.”

Dimas meraih salah satu kursi plastik dan ikut duduk di sebelah lelaki yang dipanggilnya Kang Gondrong. Anak lelaki berkulit kehitaman itu melirik Kang Gondrong yang tengah menikmati sepiring lontong sayur. Tiba-tiba Dimas teringat dirinya sendiri yang belum makan sejak kemarin sore.

Seperti membaca pikiran Dimas, lelaki gondrong yang sudah nyaris menghabiskan makanannya tersebut menepuk bahu Dimas lalu berkata, "Eh, Dim. Tadi masih ada sisa adonan martabak. Jadi dua loyang. Tuh, sudah Akang taruh di dus. Ambillah satu buat kamu sama Rama. Satu lagi biar Akang bawa pulang buat Fajar sama Cahya."

Dimas menatap takjub ke arah lelaki gondrong berkumis tipis itu. Ia sedikit tak memercayai pendengarannya.

"Ah, yang benar, Kang? Buat saya?" tanya Dimas seakan ingin meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar. Si Akang menandaskan segelas air putih sebelum menjawab, "Iya, benar. Sudah dibawa sana martabaknya."

Dimas meraih dus kecil yang tergeletak di atas meja gerobak sang Akang. Penuh rasa syukur ia berterima kasih dan berpamitan pada Kang Gondrong yang juga bersiap-siap untuk pulang.

***

Rama baru terbangun jam satu siang. Diliriknya sang adik yang sedang melipat sajadah lantas menyampirkannya di punggung kursi di pojok ruangan. Rama bangkit, melirik dus kecil di atas meja lantas membukanya.

"Dari Kang Gondrong, ya?" tanyanya basa-basi sambil mengunyah martabak isi cokelat kacang dengan lahap. Dimas mengangguk kecil.

"Kakak nanti sore kerja lagi di lampu merah?" tanya Dimas yang duduk di ujung kasur busa, berseberangan dengan Rama di ujung lainnya yang masih menyantap martabak.

"Kenapa memangnya? Mau ngelarang lagi?" Tatapan mata Rama menyelidik.

"Bukan gitu, Kak. Maksud aku, nanti-nanti lagilah kakak jadi Manusia Silver, sampai gatal-gatal di tangan kakak itu hilang."

"Terus aku kerja apa? Nungguin sembuh bakal lama. Ibu di kampung juga, kan, harus dikirimi uang.”

Rama menuang air dari teko plastik dan mengisi gelasnya penuh-penuh. Setelah meminumnya sampai tandas, dihentakkannya gelas tersebut ke meja. Dimas mengelus dada sambil lirih beristigfar.

"Ibu pasti ngerti kalau kita nggak kirimin beliau sebanyak biasanya, Kak. Lagipula masih ada kebun di belakang rumah. Sedikit-sedikit hasil kebunnya bisa dijual Ibu atau untuk makan sehari-hari.”

Dimas menghela napas sebelum melanjutkan. Rama bersila dengan tangan terlipat di dada. Raut wajahnya mengeras.

"Aku cuma nggak mau Kakak sakit. Kerjaan Kakak itu berat, nggak seperti yang orang-orang kira, cuma berdiri doang jadi patung. Apalagi Kak Rama nggak pakai baju. Kena angin setiap hari."

"Udah biasa, Dim. Sama kayak kamu, pulang malam terus bikin Kakak khawatir." Suara Rama melunak. Ia paham kegelisahan adiknya, seperti ia sendiri yang selalu cemas jika Dimas tak kunjung terlihat batang hidungnya.

Adik lelaki satu-satunya itu dulu berkulit kuning langsat. Hanya karena sering tersengat matahari lama-kelamaan kulit Dimas menghitam. Sama seperti kulitnya sendiri. Dimas melarang dirinya bekerja, padahal dirinya yang berulang kali melarang adiknya itu menyusulnya ke kota, walau dengan alasan ingin ikut membantu perekonomian keluarga.

"Kakak ikut aku ngamen aja, yuk." Suara Dimas memecah kebisuan yang sempat tercipta. "Bantuin nyanyi. Suara Kak Rama, kan, bagus."

"Bagus apanya." Rama mendengus.

"Ya, udah Kakak yang main gitar. Aku yang nyanyi. Buat sementara aja, Kak. Sambil pelan-pelan kita obati tangan Kakak itu." Dimas berkeras. Rama mengembuskan napas kuat-kuat.

"Kenapa, sih, kamu ngotot banget, Dim? Kan, cuma Kakak yang ngerasain gatal ini. Kamu enggak. Kenapa jadi kamu yang repot, sih?"

Rama berdiri. Meraih handuk di gantungan belakang pintu lalu mengambil gayung dan peralatan mandinya di atas kontainer baju.

"Karena aku sayang Kakak. Seperti rasa sayangnya Nabi Ibrahim kepada Ismail. Sayangnya Rasulullah pada Ummu Khadijah. Seperti sayangnya Kakak sama Mamod. Kenapa, sih, Kakak nggak ngerti kalau aku cuma mau nunjukin kalau aku peduli?!"

"Mamod? Kok, Mamod dibawa-bawa?"

"Ya karena aku bisa lihat sedalam apa kesedihan Kakak waktu kucing Kak Rama itu mati. Begitu juga yang aku rasain tiap lihat Kakak garuk-garuk tangan. Gimana kalau lama-lama gatal itu jadi kanker kulit? Kakak pernah nggak mikirin kemungkinan itu?!"

Rama tercenung cukup lama, sebelum melangkah pelan-pelan menghampiri adiknya. Tangan kanannya mengacak-acak rambut ikal sang adik.

"Padahal Kakak tadi sudah terharu loh, pas bagian kamu ngomongin rasa sayang yang seperti Rasululah dan Nabi Ibrahim. Sampai terus nge-drop ... drop ... drop pas Si Mamod disebut." Rama terkekeh geli. Dimas menampik tangan kakaknya, kesal karena ditertawakan.

"Ya udah, Kakak turutin maumu. Kakak bakal ikut kamu ngamen sampai gatal-gatal Kakak sembuh. Atau nanti Kakak cari kerjaan lain yang lebih aman, yang nggak bikin efek samping di kemudian hari. Itu, kan, yang kamu mau?"

Dimas membersit hidungnya. Mengusap sudut matanya kuat-kuat agar rimbun air mata di sana tak sampai menerjuni pipi.

"Makasih udah peduli. Kakak tahu, kok, kamu sayang Kakak. Jangan pernah bosan menasehati Kakak, ya."

Rama menepuk bahu kiri Dimas sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu. Dimas paham semua butuh waktu. Tidak semua hal bisa selesai hari ini.

Mereka mungkin hidup di kota orang, menjalani hari-hari melelahkan. Tapi, satu hal yang bagi Dimas tak pernah berubah—mereka akan tetap saling menjadi rumah. Sepanjang usia yang dipercayakan Tuhan kepada mereka.