M. Reza Sulaiman | Eki Rofiq Almujahid
Ilustrasi pengajian Tabligh Akbar yang membawa berkah (Sumber : Gemini AI)
Eki Rofiq Almujahid

Sejak pagi, kampung sudah ramai. Terpal biru dibentangkan di halaman masjid tua yang catnya mengelupas. Ibu-ibu datang sambil menenteng rantang, bapak-bapak mengangkat karung beras dan hasil kebun. Hari itu Rajaban. Bulan yang bagi sebagian orang dianggap ribut, bagi sebagian lain—terlalu berat, terlalu ramai, terlalu “tidak perlu”.

“Ngapain sih rajaban segala, bidah,” suara itu terdengar dari kejauhan.

“Salat Subuh saja jarang, tetapi tabligh akbar rajin,” sambung yang lain.

Emak mendengarnya. Ia pura-pura tidak dengar. Tangannya gemetar saat menata besek nasi di sudut halaman. Umurnya sudah lewat tujuh puluh tahun. Jalannya pelan, napasnya pendek. Namun, pagi itu wajahnya hangat.

“Emak capek?” tanya cucunya.

“Enggak, Nak,” jawab Emak sambil tersenyum. “Emak senang.”

Tidak ada yang tahu, Emak datang dari kampung sebelah. Ia jalan kaki hampir satu jam. Bukan untuk mencari makanan, bukan pula untuk keramaian. Ia hanya ingin duduk di antara orang-orang, mendengar doa dibacakan. Saat ustaz mulai bertawasul, menyebut nama-nama almarhum, mata Emak berkaca-kaca.

“Semoga… nanti nama Emak juga disebut,” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.

Bagi Emak, Islam bukan soal debat. Bukan soal istilah. Islam adalah rasa tenang saat mengaminkan doa, meski tidak hafal dalilnya. Islam adalah harapan kecil agar saat ia pergi, ada yang mendoakannya.

Di luar, seorang pedagang es berdiri cemas. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Esnya masih penuh.

“Nggak laku-laku,” gumamnya.

Tak lama, seorang anak kecil menarik tangan ibunya. “Bu, haus…”

“Iya, beli es dulu.”

Satu gelas terjual. Lalu dua. Lalu lima. Pedagang itu menunduk, matanya basah. “Alhamdulillah…” katanya lirih.

Di sudut lain, pedagang cilok tersenyum lebar. Dagangannya habis. Hari itu ia bisa membawa pulang uang lebih. Bisa beli beras.

Saat pengajian selesai, besek nasi dibagikan. Seorang ibu tua memeluk bungkusan itu erat-erat.

“Bu, mau dimakan di sini?” tanya panitia.

“Enggak, Nak,” jawabnya. “Buat di rumah. Ada cucu.”

Di rumah lain, ada keluarga yang malam itu akhirnya makan bersama. Nasi sederhana, tetapi dimakan dengan syukur yang penuh.

Mereka yang menghujat tidak pernah tahu—di balik Rajaban dan Muludan, ada doa yang jujur, ada perut yang akhirnya kenyang, ada hati yang hangat. Bukan Islam yang keras dan menaklukkan, melainkan Islam yang duduk bersila, membagi nasi, dan menguatkan yang kecil.

Dan di antara doa-doa itu, ada yang menangis—bukan karena sedih, melainkan karena bersyukur. Syukur yang pelan, yang sederhana, yang tidak semua orang bisa rasakan.