Jalan Kupitan bukan sekadar jalan. Ia adalah lorong sempit yang memisahkan kampung dengan astana, pemakaman umum tua yang sudah ada sejak leluhur pertama menetap.
Nisan-nisan di sana miring, sebagian tertutup lumut, sebagian lagi tak lagi bernama. Tanahnya lembap sepanjang tahun, seolah menyimpan napas kematian.
Di tengah Kupitan, berdiri sebuah rumah gubuk tua. Terasing. Sunyi. Jauh dari tetangga. Rumah itu milik Ceu Surti dan anaknya, Aminah.
Ceu Surti, perempuan paruh baya bertubuh besar, wajahnya keras, tapi tutur katanya ramah. Ia selalu menyapa siapa pun yang lewat. Suaranya cempreng, tinggi, nyaring.
Sekali dengar, orang tak mungkin salah. Suaminya telah lama meninggal, dan Surti hidup dari kerja serabutan.
Aminah, anak Ceu Surti, seorang anak berkebutuhan khusus. Di sekolah, ia sering diledek, dijuluki 'Si Boloho' (Si Bodoh) karena tiga kali berturut-turut tidak naik kelas. Ia pendiam. Tatapannya kosong.
Dunia Aminah hanya ibunya.
Beberapa minggu sebelum kejadian, suasana Kupitan mulai tidak enak. Sekelompok pemuda dari kampung sebelah sering nongkrong di dekat astana. Mabuk, ribut, tertawa keras di tengah malam.
Suatu sore, Aminah pulang dengan lutut berdarah. Ternyata ia didorong oleh salah satu dari sekelompok pemuda itu. Ceu Surti marah besar. Setiap anaknya disakiti orang, ia mendadak berani. Ia mendatangi mereka seorang diri.
“Ulah sakahayang maraneh teh! Jalan ieu jalan umum! Jeung ulah sok ngaheureuyan budak urang!”(Kalian jangan seenaknya ya! Ini jalan umum! Dan jangan ganggu anak saya!)
Terjadilah cekcok antara Ceu Surti dan pemuda-pemuda itu. Akhirnya, mereka pergi dari astana setelah dimarahi Ceu Surti
Sejak hari itu, entah kenapa Ceu Surti merasa diikuti. Beberapa kali ia mendengar langkah di belakangnya saat pulang magrib. Tapi ia tak pernah cerita pada siapa pun. Ia merasa ada yang mengawasinya.
Peristiwa mengejutkan terjadi. Sore menjelang magrib, Ceu Surti ditemukan meninggal di dekat astana, tak jauh dari rumahnya.
Lehernya patah. Saat dimandikan, warga melihat retakan parah di tulang lehernya, seperti orang yang jatuh keras... atau didorong dengan tenaga besar.
Kesimpulan awalnya adalah karena Ceu Surti terpeleset. Karena jalan Kupitan memang licin, apalagi di dekat area makam tua.
Namun beberapa warga curiga. Di kuku Ceu Surti ditemukan tanah dan serat kain hitam—bukan tanah makam biasa.
Malam itu, Ustadz Yandi pulang dari pengajian luar kota. Mobil hanya mengantar sampai jalan besar. Ia harus berjalan kaki melewati Kupitan untuk sampai ke rumah.
Saat melewati gubuk Ceu Surti, terdengar suara cempreng:
“Pa ustadz... mulih ti mana?”(Pak Ustadz habis dari mana?)
Ustadz Yandi menjawab refleks.
“Mulih ti pangaosan, Ceu.”(Pulang dari pengajian, Ceu.)
Begitu menjawab, dadanya sesak. Bau tanah kubur menusuk hidungnya. Ia bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, istrinya berkata pelan, “Pak... Ceu Surti meninggal sore tadi. Dimakamkan sebelum maghrib.”
Ustadz Yandi merinding sekaligus terkejut, ia sama sekali tidak tahu kabar kematian Ceu Surti.
Sejak malam itu, teror dimulai.
Warga kerap mendengar suara cempreng memanggil dari arah gubuk. Ada yang melihat sosok perempuan besar berjalan di antara makam, kepalanya miring tak wajar, tangannya memegangi lehernya sendiri. Ada pula yang melihatnya mengangkat kepalanya—rambutnya basah tanah dan darah menghitam.
Para ustadz sepakat bahwa yang muncul bukan arwah Ceu Surti, melainkan jin penyerupaan yang mengambil rupa orang yang wafat dalam keadaan terzalimi.
Aminah dipindahkan ke rumah neneknya. Di sana, ia sering menjerit di malam hari.
“Mamah abi dicekek, mamah abi geubis, mamah abi nyerieun, karunya!”(Ibuku dicekik, ibuku jatuh, ibuku kesakitan, kasian!)
Kalimat itu terus diulang.
Kecurigaan warga menguat. Kepala dusun melapor. Setelah diselidiki, salah satu pemuda yang nongkrong di Kupitan akhirnya mengaku. Malam itu, ia mabuk bersama dua temannya. Ceu Surti menegur mereka lagi. Terjadi cekcok. Salah satu pemuda mendorong Ceu Surti dengan keras.
Tubuh besar itu terjatuh ke sisi jalan. Lehernya menghantam batu nisan tua. Mereka panik. Mengira Surti hanya pingsan, mereka kabur.
Pelaku akhirnya tertangkap. Ia menangis, mengaku dihantui mimpi buruk. Setiap malam, ia melihat perempuan besar memegang lehernya sendiri, berdiri di ujung Kupitan.
Gubuk Ceu Surti dirubuhkan atas kesepakatan bersama. Doa, Yasin, dan ruqyah dibacakan. Para ustadz memohon agar Allah mengusir makhluk penyerupaan dan menenangkan ruh Ceu Surti.
Kupitan kembali sunyi. Sepi.
Namun sampai hari ini, warga percaya:
Kupitan tak pernah lupa peristiwa itu.
Dan setiap doa selalu sama:
“Ya Allah, ampuni Ceu Surti. Terimalah ia sebagai hamba-Mu yang terzalimi.”
Karena tidak semua kematian…
berakhir saat jenazah dikubur.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Cleanser dengan Ekstrak Semangka untuk Wajah Bersih dan Glowing Alami
-
Novel Sendiri: Perjalanan untuk Menerima Kehilangan
-
Teror Psikologis Tergila dan Bikin Traumatis, Sinopsis Film 'Send Help'
-
Cara Otak Menciptakan Emosi: Rahasia di Balik Penilaian Kognitif Manusia
-
5 Pilihan Sepatu Slip On Anti Ribet untuk Gen Z yang Aktif, Desain Stylish!