Hayuning Ratri Hapsari | Choirunnisa Nuraini
Ilustrasi Shaf rapat dan Empati Cacat (Gemini AI)
Choirunnisa Nuraini

Ramadan selalu datang dengan cara yang meriah di Kampung Sukamulia. Sejak hari pertama, masjid Al-Ikhlas sudah penuh.

Lampu-lampu dipasang berkelip di halaman. Spanduk kajian membentang besar dengan nama ustaz terkenal. Setiap sore, deretan motor memenuhi jalan. 

Anak-anak berlarian membawa kotak takjil, ibu-ibu sibuk membagikan kolak dan gorengan, bapak-bapak berdiri di depan gerbang sambil bercakap soal pahala yang berlipat ganda.

Azzam, bocah sembilan tahun yang rumahnya tepat di samping masjid, suka berdiri di pagar memperhatikan semuanya. Ia senang melihat masjid hidup. Baginya, Ramadan seperti pesta panjang yang dipenuhi senyum dan aroma makanan manis.

Namun ada satu hal yang selalu mengganggunya. Di sisi lain rumahnya, tepat berbagi dinding dengan halaman masjid, berdiri sebuah rumah kecil bercat kusam.

Atapnya berkarat, jendelanya jarang terbuka. Di situlah tinggal Bu Siti, seorang janda tua yang sudah lama hidup sendiri.

Tak pernah ada yang benar-benar tahu bagaimana kabarnya. Suatu sore menjelang berbuka, Azzam melihat sesuatu yang berbeda. Bu Siti duduk di terasnya, memandangi orang-orang yang lalu lalang membawa kotak takjil dari masjid.

Tatapannya kosong, tapi bukan kosong seperti orang melamun. Lebih seperti orang yang terbiasa tak dianggap.

Azzam mendekat.

“Bu Siti belum ambil takjil?” tanyanya polos.

Perempuan tua itu tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Nak. Biar buat yang lain saja.”

Azzam mengangguk, tapi dadanya terasa aneh. Ia melihat tangan Bu Siti yang kurus memegang perutnya pelan. Angin sore meniup kerudung tipis yang sudah memudar warnanya.

Malam itu, saat berbuka, Azzam bertanya pada ibunya.

“Bu, Bu Siti nggak dapat takjil?”

Ibunya yang sedang menuang sirup berhenti sebentar. “Mungkin sudah, Nak. Kan banyak yang dibagi.”

“Tapi tadi Azzam lihat Bu Siti cuma duduk saja.”

Ibunya terdiam. “Besok mungkin Ibu kasih.”

Besoknya, masjid lebih ramai lagi. Ada lomba adzan untuk anak-anak. Ada ceramah tentang pentingnya sedekah. Kotak infak diedarkan berkali-kali. Ustadz berkata lantang tentang keutamaan memberi makan orang yang berpuasa.

Azzam ikut lomba adzan, suaranya kecil tapi lantang. Ia tak menang, tapi tetap tersenyum. Setelah acara selesai, ia melihat orang-orang pulang dengan wajah puas.

Namun rumah Bu Siti tetap sunyi. Malam itu, Azzam membawa sekantong gorengan dan satu botol air mineral. Ia mengetuk pintu pelan.

“Assalamu’alaikum…”

Butuh waktu lama sampai pintu dibuka. Bau kayu lembap menyambutnya. Bu Siti berdiri dengan senyum yang sama.

“Azzam?”

“Ini buat buka, Bu.”

Perempuan tua itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Kamu baik sekali, Nak.”

“Azzam cuma kepikiran, takut kalau Bu Siti belum makan.”

Air mata jatuh tanpa suara. “Seharian belum, Nak. Tapi Ibu sudah biasa.”

Kata “sudah biasa” itu menancap dalam di hati Azzam.

Keesokan harinya, saat kajian sore dimulai, Azzam duduk di saf depan bersama anak-anak lain. Ustadz sedang berbicara tentang pahala besar memberi makan orang jauh, tentang donasi untuk Palestina, tentang membangun sumur di Afrika.

Azzam mengangkat tangan. Semua menoleh.

“Pak Ustadz”

“Iya, Nak?” tanya ustadz ramah.

“Kalau ada tetangga sebelah masjid yang belum makan, itu dapat pahala juga nggak kalau dikasih?”

Suasana mendadak hening. Beberapa orang dewasa saling pandang.

“Tentu saja dapat pahala,” jawab ustadz.

“Kalau begitu, kenapa Bu Siti sering nggak makan?” lanjut Azzam dengan suara jujur tanpa tuduhan.

Bisik-bisik mulai terdengar. Ketua takmir masjid berdehem. Wajah ibu-ibu berubah canggung.

Azzam berdiri. “Masjid kita ramai sekali, banyak orang. Takjil banyak. Tapi rumah sebelah sepi. Apa ibadah kita sudah sampai ke situ?”

Pertanyaan itu seperti batu kecil yang dilempar ke kolam tenang, riakannya melebar ke mana-mana. Tak ada yang langsung menjawab.

Sore itu, untuk pertama kalinya, beberapa ibu mendatangi rumah Bu Siti. Mereka membawa nasi kotak dan buah. Ketua takmir ikut datang, wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.

Malam harinya, setelah tarawih, diumumkan sesuatu.

“Mulai besok, kita bentuk tim khusus untuk mendata warga sekitar yang membutuhkan. Jangan sampai ada tetangga kita sendiri yang luput dari perhatian.”

Suara takbir terdengar pelan.

Azzam duduk di samping ayahnya. Ia tak sepenuhnya mengerti mengapa orang dewasa sering baru bergerak setelah ada yang bertanya. Tapi ia merasa hangat.

Beberapa hari kemudian, rumah Bu Siti tampak berbeda. Halamannya dibersihkan. Jendelanya diperbaiki. Setiap sore selalu ada yang mengetuk pintunya, bukan hanya membawa makanan, tapi juga menemani berbincang.

Suatu sore, Bu Siti memanggil Azzam.

“Kamu tahu, Nak,” katanya pelan, “kadang orang terlalu sibuk melihat yang jauh, sampai lupa yang dekat.”

Azzam mengangguk. “Ustadz bilang, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.”

“Dan manfaat paling dekat adalah untuk tetangga,” lanjut Bu Siti.

Ramadan di Kampung Sukamulia tetap ramai. Kajian tetap ada. Takjil tetap melimpah. Tapi kini ada yang berbeda. Setiap kali panitia membagikan makanan, selalu ada satu nama pertama yang disebut, Bu Siti.

Dan bukan hanya dia. Ada Pak Rahman yang sakit-sakitan di ujung gang. Ada seorang ibu dengan tiga anak yang suaminya merantau tak kembali. Nama-nama yang dulu tak pernah masuk daftar, kini disebut dengan penuh perhatian.

Azzam belajar sesuatu yang tak tertulis di papan pengumuman masjid. Bahwa ibadah bukan hanya tentang keramaian, bukan hanya tentang suara lantang dan kotak infak yang penuh.

Ibadah adalah tentang siapa yang paling dekat dengan kita yang mungkin diam-diam menahan lapar sementara kita sibuk menghitung pahala.

Di malam terakhir Ramadan, masjid kembali penuh. Namun sebelum takbir berkumandang, ketua takmir berdiri dengan suara bergetar.

“Ramadan ini mengajarkan kita satu hal penting. Jangan sampai masjid ramai, tapi hati kita sepi. Jangan sampai kita rajin berderma jauh, tapi lupa mengetuk pintu tetangga sendiri.”

Azzam tersenyum kecil.

Di sampingnya, Bu Siti duduk dengan wajah lebih cerah daripada bulan dan di antara gema takbir yang mengguncang langit malam, Kampung Sukamulia akhirnya memahami bahwa Islam bukan dimulai dari panggung besar atau nama yang diumumkan keras-keras dan Islam dimulai dari rumah sebelah.