Hayuning Ratri Hapsari | Choirunnisa Nuraini
Ilustrasi indahnya berbagi (Gemini AI)
Choirunnisa Nuraini

Langit sore itu berwarna jingga lembut. Matahari perlahan turun, menyisakan cahaya hangat yang menembus dedaunan di depan rumah kecil milik Nina. Angin Ramadan berembus pelan, membawa aroma gorengan dari dapur-dapur tetangga yang menjelang waktu berbuka. 

Nina duduk di teras bersama ayahnya. Di hadapan mereka ada beberapa kotak takjil berisi kurma, kolak pisang, dan air mineral dingin. Ibunya baru saja selesai memasaknya sedari siang.

“Ini untuk dibagikan sebelum Magrib, Kamu bantu Ayah, ya.” kata Ayah sambil tersenyum.

Nina mengangguk semangat. Tahun ini ia berusia sebelas tahun, dan ia ingin menjalani Ramadan dengan lebih sungguh-sungguh. Ia ingin bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga belajar berbagi dengan sesama.

Namun, sebenarnya kondisi keluarga mereka sedang tidak mudah. Ayah Nina bekerja keras demi menghidupi keluarganya.

Tabungan pun sudah semakin menipis di mana banyak kebutuhan rumah tangga yang belum terpenuhi. Takjil yang mereka buat pun sederhana dan tidak terlalu banyak.

“Yah, kalau kita bagi-bagi, nanti kita kebagian nggak?” tanya Nina dengan penasaran.

Ayah tersenyum lembut. “InsyaAllah kebagian. Rezeki itu bukan cuma soal jumlah, tapi soal keberkahan.”

Kata-kata itu belum sepenuhnya dipahami Nina. Tapi ia mengangguk saja.

Menjelang sore, Nina dan Ayah berjalan ke ujung jalan besar. Di sana, banyak pengendara motor dan pejalan kaki yang biasanya menerima takjil gratis. Beberapa tetangga juga ikut berbagi.

Nina memegang dua kotak terakhir di tangannya. Sejak tadi, ia sudah membagikan belasan kotak dengan hati riang. Rasanya menyenangkan melihat orang tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Namun, saat jumlah takjil semakin sedikit, Nina mulai merasa khawatir. Perutnya keroncongan. Seharian ia berpuasa penuh. Haus terasa semakin kuat ketika melihat botol air di dalam kotak-kotak itu.

“Masih dua lagi,” bisiknya dalam hati.

Tiba-tiba, ia melihat seorang lelaki tua duduk di trotoar seberang jalan. Pakaiannya kusam. Wajahnya lelah. Di sampingnya ada seorang anak kecil, mungkin cucunya, yang tampak pucat.

Mereka hanya duduk diam, melihat orang-orang lalu lalang.

Nina memperhatikan dengan hati bergetar. Ia bisa melihat tatapan kosong di wajah lelaki tua itu. Tatapan seseorang yang menahan lapar terlalu lama.

“Yah, itu…” Nina menunjuk ke arah mereka.

Ayah mengikuti arah pandang Nina. Ia terdiam sejenak.

Di tangan Nina tinggal dua kotak. Satu sebenarnya sudah Ayah niatkan untuk mereka berbuka di rumah, karena makanan di rumah pun tidak terlalu banyak hari ini.

Nina menggenggam kotak itu lebih erat.

Dalam hatinya terjadi pergulatan. Ia sangat lapar. Ia membayangkan manisnya kolak yang sejak tadi menggodanya. Ia juga tahu keadaan keluarga mereka tidak sedang lapang.

Tapi melihat anak kecil itu memeluk perutnya membuat hati Nina terasa lebih sakit daripada rasa laparnya sendiri.

“Ayah, apa boleh dua kotak ini Nina kasih saja?” suara Nina pelan, tapi mantap.

Ayah menatap Nina. “Kalau dua-duanya, nanti kita tidak punya takjil untuk berbuka di jalan.”

Nina terdiam. Perutnya kembali berbunyi pelan, seakan memprotes.

Beberapa detik terasa lama.

“Ayah pernah bilang, berbagi itu nggak nunggu kaya. Nina masih kuat sampai rumah kok, Yah. Nina gak tega kasihan mereka,” katanya dengan lantang.

Ayah memandang anaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Nina melangkah pelan menyeberang jalan. Ia mendekati lelaki tua itu dengan sedikit gugup.

“Pak, ini untuk berbuka,” katanya sambil menyerahkan dua kotak sekaligus.

Lelaki tua itu terkejut. “Nak, ini banyak sekali.”

“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Nina cepat. “Semoga berkah.”

Anak kecil di samping lelaki tua itu langsung tersenyum lebar. Senyum yang polos dan tulus. Senyum yang membuat rasa lapar Nina seperti mengecil sedikit.

“Terima kasih, Nak, semoga Allah membalas kebaikanmu” suara lelaki tua itu bergetar.

Nina hanya tersenyum lalu kembali ke sisi Ayah. Langkah mereka pulang terasa lebih ringan meski perut kosong. Angin sore semakin dingin. Langit semakin gelap.

Nina berjalan sambil menahan rasa haus. Kali ini ia benar-benar tidak punya apa pun di tangan.

“Lapar?” tanya Ayah lembut.

“Sedikit, tapi tadi lihat mereka, Nina jadi merasa mungkin mereka lebih lapar daripada yang Nina rasakan.”

Ayah mengangguk. Lalu ia berhenti sebentar dan menatap Nina dengan penuh bangga.

“Nak, ingat satu hal semua kebaikan akan dicatat dan diganti oleh Allah meski itu sekecil biji saja,” ucap Ayah.

Nina menatap Ayahnya.

“Mungkin bukan diganti dengan uang. Mungkin bukan langsung hari ini. Tapi Allah tidak pernah lupa pada satu pun kebaikan dan sekecil apa pun.”

Kata-kata itu masuk ke hati Nina seperti air sejuk. Sesampainya di rumah, Ibu sudah menyiapkan hidangan sederhana yakni nasi hangat, telur dadar, sayur sop dan sambal. Tidak mewah, tapi cukup.

Azan Magrib berkumandang. Suaranya merdu, memenuhi udara.

Nina mengangkat kedua tangan berdoa. Hatinya terasa hangat. Ia memang lapar, tapi ia tidak menyesal. Saat ia hendak berbuka dengan air putih yang tersisa di rumah, terdengar ketukan di pintu.

Tok. Tok. Tok.

Ayah membuka pintu.

Di luar berdiri seorang pria muda yang mengenakan jaket ojek online. Di tangannya ada dua kantong besar.

“Maaf, Pak. Tadi saya lihat anak Bapak bagi-bagi takjil. Saya sempat dapat satu. Tapi saya lihat Bapak dan anak Bapak tidak pegang apa-apa lagi. Jadi saya kembali,” katanya tersenyum.

Nina terdiam.

“Saya dan teman-teman komunitas kebetulan juga bagi makanan. Ini ada lebih. Tolong diterima ya, Pak.”

Di dalam kantong itu ada nasi kotak yang berisi ayam, kurma, dan minuman segar lebih banyak dari yang tadi mereka bagikan. Ayah menatap Nina. Mata mereka bertemu.

Nina teringat kalimat Ayahnya.

“Semua kebaikan akan dicatat dan diganti oleh Allah.”

Air mata Nina hampir jatuh. Ia tidak menyangka balasan itu datang begitu cepat.

“Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu,” ujar Ayah kepada lelaki muda yang berdiri di depan pintu itu.

Setelah pria itu pergi, Ayah memeluk Nina.

“Lihat, Allah tidak pernah salah menghitung. Tapi, tetap kita tidak boleh pamrih saat kita mengerjakan kebaikan.”

Nina tersenyum lebar. Kali ini bukan hanya karena makanan di depan matanya, tapi karena ia merasa belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menahan lapar.

Malam itu, saat Nina bersiap tidur, ia merenung. Puasa bukan hanya tentang tidak makan dan tidak minum.

Puasa adalah tentang menahan diri dari ego. Tentang berani memberi meski diri sendiri merasa kekurangan. Tentang percaya bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia.

Ia teringat wajah anak kecil di trotoar tadi. Senyumnya membekas di hati Nina.

Dalam diam, Nina berdoa, “Ya Allah, jadikan aku orang yang selalu ingin berbagi, walaupun sedikit.”

Di luar, angin Ramadan kembali berembus lembut. Seakan membawa pesan bahwa bulan ini bukan hanya tentang lapar dan haus, tetapi tentang hati yang belajar menjadi lebih luas dan malam itu, Nina tidur dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih penuh.