Langit sore menggantung rendah di atas kota, berwarna jingga tua dengan semburat ungu di tepinya. Awan-awan tipis seperti kapas terbakar pelan oleh cahaya Matahari yang hampir tenggelam. Di jalan raya yang padat, klakson bersahutan, knalpot mengembuskan asap tipis, dan suara pedagang takjil memanggil pembeli di tepi trotoar.
Arman menepi sebentar di bawah pohon ketapang yang daunnya jarang. Helmnya ia lepas, memperlihatkan wajah yang dibasahi keringat. Ponselnya bergetar di dudukan motor. Satu pesanan masuk. Ia menatap layar. Restoran cepat saji di pusat kota. Jarak ke rumahnya sekitar dua puluh menit jika jalan lancar. Waktu menunjukkan pukul 17.32. Azan Magrib biasanya berkumandang pukul 17.58.
“Terakhir, ya,” gumamnya pelan.
Di rumah kontrakan kecilnya, Dira, putrinya yang berusia tujuh tahun, mungkin sudah duduk di tikar ruang tengah. Kurma di piring plastik, segelas air, dan kolak pisang yang dibuat pagi tadi.
Sebelum berangkat siang tadi, Dira menarik ujung jaketnya. “Ayah pulang sebelum azan, kan? Kita buka bareng.”
Arman tersenyum dan mengangguk. “Iya. Ayah usahakan.”
Kalimat itu kini berputar-putar di kepalanya. Ia menekan tombol terima.
Restoran itu ramai. Orang-orang berdiri menunggu pesanan sambil sesekali melirik jam tangan. Aroma ayam goreng dan kentang memenuhi udara, bercampur dengan pendingin ruangan yang terlalu dingin.
Arman berdiri di sudut, tas termalnya sudah terbuka. Perutnya terasa kosong, tenggorokannya kering. Ia melihat pesan dari Dira masuk.
Ayah sudah di mana?
Ia membalas cepat: Sebentar lagi, Nak.
Pesanan akhirnya siap pukul 17.44. Arman memasukkan bungkusan hangat ke dalam tas, mengencangkan tali, lalu berlari kecil ke arah motor. Jalanan makin padat. Lampu merah terasa lebih lama dari biasanya. Matahari sudah setengah tenggelam di balik gedung-gedung tinggi.
Di perempatan dekat pasar, ia melihat sesuatu yang membuat tangannya refleks menarik rem. Seorang nenek berdiri di tepi jalan, memegang dada dengan satu tangan dan menggenggam tas belanja dengan tangan lain. Tubuhnya sedikit membungkuk. Orang-orang berjalan melewatinya tanpa berhenti. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar.
Arman menoleh ke layar ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 17.50. Ia bisa saja melanjutkan. Mengantar pesanan. Lalu bergegas pulang. Mungkin masih sempat satu dua menit sebelum azan. Klakson dari belakang membuyarkan pikirannya. Arman menepikan motor dan menghampiri nenek itu.
“Bu, tidak apa-apa?” tanyanya, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya karena bising kendaraan.
Nenek itu mengangkat wajahnya pelan. Keringat membasahi pelipisnya. “Pusing… Nak. Sesak.”
Tas belanja di tangannya hampir terjatuh.
Arman menelan ludah. “Rumah Ibu di mana?”
“Gang Melati … dekat musala.”
Itu berlawanan arah dengan alamat pelanggan. Jam di layar ponselnya berubah menjadi 17.52. Angin sore bertiup, membawa aroma gorengan dan asap kendaraan. Langit makin gelap.
Arman menghela napas panjang. Ia membuka tas termalnya, memastikan pesanan masih aman. Lalu ia menoleh ke nenek itu.
“Bu, naik motor saya. Kita ke klinik dulu.”
Nenek itu menggeleng lemah. “Tidak usah… merepotkan.”
“Tidak apa-apa.”
Tangannya membantu nenek itu naik perlahan ke jok belakang. Tas belanja ia gantungkan di setang. Motor melaju pelan menembus kemacetan. Arman membunyikan klakson pendek, meminta jalan. Beberapa pengendara memberi ruang setelah melihat wajah nenek yang pucat.
Jam menunjukkan 17.56 saat mereka tiba di klinik kecil dekat pasar. Arman membantu nenek turun, lalu memanggil perawat yang sedang berjaga.
“Tolong, Bu. Nenek ini sesak.” Perawat segera membawa kursi roda. Arman berdiri di pintu, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.
Azan Magrib mulai berkumandang dari masjid seberang jalan. Suaranya menggema, memantul di dinding pertokoan. Arman memejamkan mata sejenak. Di dalam tasnya ada air minum kecil yang selalu ia bawa. Tangannya meraih botol itu, membukanya perlahan. Ia meneguk seteguk, sekadar membasahi tenggorokan.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari pelanggan.
Mas, sudah sampai mana?
Arman mengetik cepat: Maaf, ada keadaan darurat. Pesanan sedikit terlambat.
Ia menunggu balasan sambil duduk di bangku plastik klinik. Di dalam, perawat memeriksa tekanan darah nenek itu.
Beberapa menit kemudian, perawat keluar. “Untung cepat dibawa ke sini. Tekanan darahnya turun drastis.”
Arman mengangguk pelan. Nenek itu dipindahkan ke ranjang periksa. Sebelum pintu ditutup, ia sempat menoleh ke Arman. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih, Nak.”
Arman hanya tersenyum kecil. Waktu sudah 18.10 ketika ia kembali ke motor. Jalanan sedikit lebih lengang. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu. Pesanan masih hangat. Ia mengantar makanan itu dengan perasaan campur aduk. Pelanggan, seorang pria muda, menerima dengan wajah sedikit kesal.
“Lama sekali, Mas.”
“Maaf, Pak. Ada orang sakit di jalan.”
Pria itu terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Oh. Ya sudah.”
Arman kembali ke motor. Ia melihat notifikasi tip kecil masuk ke aplikasinya.
Langit sudah gelap ketika ia tiba di rumah kontrakan. Lampu ruang tengah menyala temaram. Pintu sedikit terbuka. Dira duduk di tikar, piring di depannya sudah kosong setengah. Kurma tinggal bijinya. Gelas air hampir habis.
“Ayah!” serunya, bangkit dan berlari memeluknya.
Maaf tertahan di ujung lidah Arman. “Maaf Ayah telat,” katanya pelan.
Dira mendongak. “Ayah buka di jalan?”
Arman mengangguk.
Dira tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku tadi dengar azan, aku minum dulu. Ibu guru bilang kalau azan sudah bunyi, boleh langsung berbuka.”
Arman duduk di sampingnya. Kolak pisang masih tersisa sedikit di mangkuk.
“Tadi Ayah bantu nenek sakit,” katanya.
Mata Dira membesar. “Neneknya kenapa?”
“Sesak. Sekarang sudah di klinik.”
Dira terdiam sejenak, lalu mendorong mangkuk kolak ke arah Ayahnya. “Ini buat Ayah.”
Arman memandang mangkuk itu. Uap tipis masih naik ke udara.
“Dira tidak marah Ayah telat?”
Dira menggeleng. “Kata Ustazah, kalau kita tolong orang, Allah juga tolong kita.”
Arman tersenyum. Tenggorokannya terasa lebih sesak daripada saat menahan haus seharian. Di luar, suara orang-orang bercengkerama setelah tarawih mulai terdengar. Angin malam membawa kesejukan. Arman menyendok kolak itu perlahan. Rasanya manis dan hangat.
Detik-detik sebelum Magrib tadi terasa seperti simpang jalan yang sunyi namun berat. Kini, duduk di lantai rumah kecilnya dengan Dira bersandar di bahunya, ia tahu pilihannya tidak membuat waktu berhenti, tidak membuat azan tertunda. Namun di antara kemacetan, klakson, dan layar ponsel yang berkedip, ia sempat memilih menepi dan membantu seseorang yang hampir jatuh di tepi jalan. Dan di ruang tengah sederhana itu, dengan mangkuk kolak yang tinggal setengah, ia merasa tidak kehilangan apa pun.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Ngabubersih Bareng Trash Hero Yogyakarta, Fokus Kurangi Sampah dari Hulu
-
Review Novel Di Tanah Lada Ziggy Z: Luka di Balik Kepolosan
-
Buku Berburu Rente: Potret Gelap Subsidi Pupuk dan Nasib Petani Indonesia
-
Bos Ducati Muak, Nasib Pecco Bagnaia Musim Depan sedang di Ujung Tanduk
-
Song Kang Berpeluang Bintangi Drama Romantis Terbaru White Scandal