Talitha mengerutkan dahi ketika melihat sebaris voice note (pesan suara) dari nomor asing yang diterimanya saat menjelang azan Magrib sebelum berbuka puasa.
'Mungkin salah kirim,' pikirnya karena saat itu ia sama sekali tidak mengenali nomor ini dan hanya baru menerima satu pesan.
Dengan iseng, Talitha mencoba untuk membuka pesan suara itu. Isinya berbunyi, "Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Jangan lupa untuk berbuka dengan yang manis, jangan berlebih, dan tetap penuh kesederhanaan. Jika melakukan hal itu, maka kamu bisa merasakan nikmatnya waktu berbuka."
Ternyata berisi pengingat sederhana tentang berbuka puasa. Talitha semakin yakin bahwa orang itu salah kirim, sebab ia tidak mngenali suara orang itu.
Tanpa menghiraukan pesan suara itu, Talitha sibuk mempersiapkan berbagai macam takjil (makanan pembuka) yang sebelumnya ia beli saat pulang dari kampus.
Karena kalap mata, Talitha banyak membeli berbagai macam takjil yang dijual, membuatnya tidak yakin bisa menghabiskan makanan ini sekaligus.
"Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Jangan lupa untuk berbuka dengan yang manis, jangan berlebih, dan tetap penuh kesederhanaan. Jika melakukan hal itu, maka kamu bisa merasakan nikmatnya waktu berbuka."
Entah kenapa perkataan pesan suara itu kembali terngiang di kepalanya. Oleh karena itu, tanpa sadar Talitha mengikuti arahan pesan suara itu dengan mengambil beberapa makanan yang sekiranya dapat ia makan, seperti kurma, air putih, buah-buahan, dan gorengan.
Jajanan lain yang telah dibeli akan Talitha bagikan kepada tetangga kosannya agar tidak mubazir dan bisa tetap dimakan. Saat berbuka puasa pun, Talitha juga makan makanan manis dulu dan tidak makan berlebihan.
Tanpa disadari, Talitha sudah melakukan beberapa anjuran berbuka puasa dan sedekah kepada orang berpuasa hari ini. Dan untuk pertama kalinya, hatinya merasa tenteram akan sebuah kenikmatan berbuka puasa.
Keesokan harinya, Talitha lagi-lagi pulang sore karena mata kuliahnya baru selesai jam empat sore. Karena masih ada banyak waktu yang tersisa, ia memutuskan untuk berkeliling mencari takjil dan membeli secukupnya.
Saat tiba di kos, Talitha langsung membersihkan tubuhnya dan berencana akan memasak hidangan sederhana.
Baru saja ingin pergi ke dapur, Talitha kembali mendapatkan sebuah pesan suara. Lagi-lagi dari nomor yang sama. Kali ini, Talitha memutuskan untuk mengirim balasan kepada pengirim bahwa pesannya salah kirim.
Meskipun demikian, Talith juga membuka isi pesan suara itu. Isinya berbunyi, "Berbuka puasa, terutama di Bulan Ramadan bukan hanya tentang kenyang, tapi tentang berbagi syukur."
"Hm? Tentang pengingat berbuka puasa lagi?" Gumam Talitha bingung. Suara itu adalah suara bariton laki-laki yang tidak ia kenal, tapi entah kenapa suara itu sangat enak disengar di telinganya.
Ketukan pintu kosannya mengejutkan Talitha, membuat gadis itu dengan cepat membukakan pintu. Ternyata dia adalah orang yang kemarin Talitha kasih takjil yang ia beli.
Orang itu tersenyum sembari menyodorkan seporsi lauk ikan dan telur cabe merah. "Saya ada masak ini dan ternyata berlebih. Silakan diambil, Kak."
Talitha tersenyum dan menerima piring itu dengan canggung. "Ah, iya. Terima kasih banyak ya kak."
"Sama-sama. Untuk takjil kemarin juga terima kasih banyak kak. Kemarin itu saya memang belum gajian dan berencana hanya makan kurma dan air putih. Karena takjil yang kakak berikan, saya bisa makan dan berbuka dengan kenyang."
Talitha tertegun mendengarnya. Mendengar pernyataan dari tetangga kosannya membuatnya merasa bersyukur atas kenikmatan yang selama ini Allah berikan kepadanya.
Di hari kedua, Talitha kembali merasakan arti kenikmatan sesungguhnya dari berbuka puasa.
Jika berpikir pesan itu hanya datang dua kali kepadanya, itu adalah kesalahan besar. Nyatanya, pesan suara itu setiap hari muncul menjelang waktu berbuka. Seperti hari ini, pesan itu lagi-lagi datang kepada Talitha.
Gadis itu mencoba untuk menelepon nomor itu, tapi berulang kali tidak pernah diangkat.
'Kalau aku blokir juga sayang. Isi pesan suaranya penuh dengan peringatan tentang berbuka dan beribadah.' Akhirnya Talitha memutuskan untuk membiarkan pesan suara itu dan mendengarkan berbagai isinya.
"Semoga setiap tetes air yang kamu minum menjadi penghapus dahaga dan segala dosa. Selamat berbuka puasa."
"Waktu Magrib telah tiba, yuk segera laksanakan salat terlebih dahulu karena waktunya singkat. Setelah itu, baru isi energi. Jangan berlebihan agar tidak sakit perut dan kekenyangan."
"Jangan lupa salat Magrib, lalu bersiap untuk salat Isya dan mulai melaksanakan salat Tarawih berjamaah ya."
"Alhamdulillah, satu hari telah berlalu. Allah telah mengizinkan kita mendekat kepada-Nya dan merasakan nikmat puasa ini. Selamat berbuka puasa, jangan biarkan perut yang kenyang membuat hati melupakan sujud."
"Berbuka itu sebuah kenikmatan, tapi jangan sampai saking nikmatnya kita lupa kalau ada doa-doa mustajab yang sedang menunggu untuk dipanjatkan sebelum suapan pertama. Berdoalah menjelang berbuka puasa."
Dan masih banyak pesan lainnya. Tanpa sadar, Talitha mulai memperbaiki dirinya di bulan Ramadan ini. Ia yang biasanya akan langsung berbaring setelah Isya, kini memutuskan untuk melaksanakan salat Tarawih. Lalu, Talitha juga berusaha untuk menjaga lisannya agar tidak menggunjing orang lain, menahan amarah dan emosi, bahkan berdoa menjelang buka puasa tiba.
Pesan suara itu sudah menjadi rutinitas hariannya saat ini. Ia bahkan tanpa sadar akan menunggu pesan suara itu menjelang berbuka puasa dan memutarnya.
Hingga saat hari terakhir puasa, untuk pertama kalinya Talitha tidak mendapatkan pesan suara dari nomor itu. Hal ini membuat gadis itu heran.
'Tumben hari ini nggak ada pesan suara apa pun. Apa karena ini hari terakhir puasa?'
Di tengah kebingungannya itu, sebuah telepon datang dari kakak perempuannya. Telepon pertama setelah belasan tahun mereka terpisah. "Halo, Kak."
"Talitha, bisa ke rumah sakit sekarang? Ayah kritis dan mau ketemu sama kamu."
Talitha baru ingat bahwa ia pernah memiliki seorang ayah. Karena orang tuanya telah berpisah disaat umurnya masih empat tahun, Talitha sudah lupa tentang suara dan wajah ayahnya karena saat itu hak asuh dirinya jatuh kepada ibu.
Gadis itu langsung menyambar kardigannya dan pergi ke rumah sakit tanpa berkata apa pun.
Setengah jam kemudian, ia telah sampai di depan ruang rawat inap ayahnya dan langsung memasuki ruangan itu.
Talitha tertegun di tempat ketika melihat seorang pria paruh baya yang memakai banyak selang untuk bertahan hidup.
Pria itu yang tak lain adalah ayahnya tengah terbaring dengan lemah di kasur. Ketika menyadari kedatangan Talitha, ayahnya tersenyum. Senyum yang sangat mirip dengan dirinya.
Talitha perlahan mendekat ke arah ayahnya tanpa suara. Sang ayah menggenggam tangan putrinya dengan lembut sembari menatap putri bungsu yang selama ini ia rindukan.
"Tata, maafin Ayah ya, Nak."
Mendengar itu, air mata yang berusaha Talitha tahan akhirnya runtuh. Mendengar suara ayah yang memanggil nama kecilnya membuat salah satu sudut di hati kecil Talitha berdenyut. Apalagi, ketika suara itu adalah suara yang tidak asing baginya, suara yang selama ini selalu menemani bulan Ramadannya.
"A-Ayah nggak perlu minta maaf. Tata udah maafin Ayah. Makasih banyak buat pesan-pesan yang Ayah kirimkan selama ini ke Tata."
Setelah hari itu, Talitha tidak lagi menerima pesan suara menjelang berbuka di bulan Ramadan.
Baca Juga
-
5 Rekomendasi Drama Korea Parenting: Ada Positively Yours hingga Our Universe
-
Tayang 14 Maret, Ini Jajaran Pemain Drama Korea Thriller Medis Doctor Shin
-
Tayang 26 Maret, Ini Jajaran Pemain Drakor Cabbage Your Life
-
Sinopsis The Legend of Kitchen Souldier, Drakor Komedi Baru Park Ji Hoon
-
Go Soo Digaet Bintangi Drama Baru Park Min Young dan Sungjae, Nine to Six
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Sisi Tergelap Surga: Menggugat Batas Benar dan Salah di Tengah Miskin
-
5 Lipstik Anti-Luntur, Tetap Cantik saat Makan dan Minum di Bukber
-
Sinopsis GOAT, Tekad Besar Si Kambing Kecil di Arena Roarball
-
5 Night Cream untuk Kulit Kusam, Bikin Wajah Auto Cerah di Pagi Hari!
-
Disorot soal Kontribusi LPDP, Tasya Kamila Minta Maaf dan Bahas Pajak