M. Reza Sulaiman | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Sahur Terakhir Bersama Ibu (ChatGPT)
Miranda Nurislami Badarudin

Suara ketukan lembut di pintu kamarku membangunkanku, seperti bisikan angin—pelan, lembut, tapi cukup kuat untuk menembus lelapku. Aku menggeliat, berusaha mengabaikan kantuk yang masih berat. Di luar jendela malam masih pekat, langit menggantung sunyi yang hanya sesekali dipecah suara jangkrik. Aku melirik jam dinding—pukul tiga dini hari. Dengan malas aku menarik selimut, berharap bisa memejamkan mata lagi.

“Ayu… bangun, Nak. Sahur dulu.”

Ada kehangatan dalam suara itu, tapi kali ini terdengar berbeda. Lebih pelan, lebih bergetar seakan datang dari seseorang yang sedang menyimpan lelah terlalu lama. Namun, satu hal yang tidak berubah—lembutnya intonasi suara Ibu. Aku menghela napas, berjuang melawan kantuk, lalu menyeret kakiku menuju pintu. Saat membukanya, aku mendapati Ibu berdiri di sana dengan senyum tipis.

Aku terpaku. Dalam remang cahaya, wajahnya terlihat pucat, seperti bulan yang kehilangan sinarnya. Pipinya cekung, tubuhnya semakin kurus. Tapi senyuman Ibu tidak pernah pudar. Walaupun penyakit itu perlahan menggerogotinya, Ibu tetap berusaha terlihat kuat.

“Ayo, makan. Ibu masak ayam kecap kesukaanmu,” katanya, masih dengan suara yang sama—lembut, hangat, meski kali ini terasa rapuh.

Aku hanya mengangguk tanpa banyak kata. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba mengendap di dadaku, tapi aku menepisnya. Aku mengikuti Ibu menuju meja makan. Di sana, hidangan sederhana yang selalu menjadi favorit kami sudah tersaji—ayam kecap, telur dadar, dan sayur sop. Aroma masakan menguar, menghangatkan ruangan yang terasa sunyi. Meski tubuhnya lemah, Ibu selalu memastikan kami makan makanan yang dimasaknya sendiri.

Aku duduk, mulai menyendok nasi tanpa banyak bicara. Hanya suara sendok beradu dengan piring yang mengisi ruangan. Dan di tengah sunyi itu, Ibu memecah keheningan dengan kalimat yang membuat napas-ku tercekat.

“Ayu… kalau nanti Ibu nggak ada, kamu jaga Adik, ya?”

Aku mendongak, menatap wajah Ibu dengan dahi berkerut. “Ibu ngomong apa, sih?” tanyaku, berusaha terdengar biasa saja meski kata-kata itu menimbulkan gelombang aneh di dadaku.

Ibu tersenyum, senyum yang selalu terasa hangat meski kali ini matanya tampak sendu. “Nggak apa-apa… Ibu cuma mau kamu jadi anak yang kuat. Sabar. Jangan suka marah-marah sama Adit, ya. Kamu kan kakaknya. Adit butuh panutan.”

Aku terdiam. Kata-kata itu menusuk, meninggalkan getar aneh yang membuat dadaku sesak. Aku tahu Ibu sakit, tapi aku tak pernah benar-benar siap membayangkan dunia tanpanya.

“Ibu kenapa ngomong kayak gitu?” suaraku lirih, hampir bergetar.

Ibu meraih tanganku, jemarinya terasa dingin tapi sentuhannya tetap lembut—sentuhan yang selalu berhasil membuatku merasa aman.

“Semua orang akan pergi, Nak… tapi Ibu nggak mau kamu sedih. Kalau suatu hari Ibu nggak ada, kamu harus tetap semangat. Ibu percaya kamu bisa.”

Aku ingin bicara, tapi kata-kata menguap bersama air mata yang kutahan. Aku hanya mengangguk, menggenggam jemari Ibu lebih erat, seakan dengan itu aku bisa menahan beliau lebih lama di sisiku.

Malam itu, aku tak tahu bahwa itu adalah sahur terakhir kami bersama, karena keesokan harinya, Ibu dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya memburuk dengan cepat, dan dalam hitungan hari, beliau pergi untuk selamanya.

Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tak terisi—seperti rumah yang kini terasa dingin, meski Ramadan masih berlanjut.

Aku sering terbangun dini hari, berharap mendengar suara lembut Ibu membangunkanku, tapi yang kudapati hanya keheningan. Apalagi Adit, adikku yang baru berusia sepuluh tahun, sering bertanya, “Kak, Ibu kapan pulang?” dan setiap kali pertanyaan itu datang, aku hanya bisa memeluknya erat menahan tangis yang selalu mengancam pecah.

Malam-malam sahur menjadi sunyi. Aku duduk di meja makan dengan pandangan kosong, menatap kursi yang kini tak lagi diduduki Ibu. Aroma masakan buatan beliau masih terasa seolah menempel di udara, tapi hanya menjadi bayangan yang membuat rindu semakin tajam.

Namun, di tengah duka itu, aku teringat pesan Ibu. Tentang menjaga Adik, tentang menjadi kuat. Jadi, meski berat, aku mulai bangun lebih awal. Aku belajar memasak, meski hanya nasi goreng atau telur dadar yang sederhana. Aku membangunkan Adit dengan suara pelan, berusaha menirukan kelembutan Ibu. Dan setiap kali aku melakukan itu, aku merasa Ibu ada di sana… dalam setiap sentuhan, dalam setiap doa, dalam bayangan, dalam cinta yang tak pernah benar-benar pergi.

Di malam terakhir Ramadan, aku memutuskan membuat ayam kecap—menu yang selalu jadi favorit kami. Aku mencari resep di buku catatan Ibu, berusaha mengikuti setiap langkah dengan hati-hati, seolah dengan itu aku bisa menghidupkan kembali kehadirannya.

Saat sahur tiba, Adit duduk di kursinya dengan wajah ceria. “Kak, ayam kecapnya enak banget. Kayak buatan Ibu.”

Aku tersenyum, meski air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. “Iya, Kakak belajar dari Ibu,” jawabku pelan.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepergian Ibu, aku merasa tenang. Aku tahu beliau tak benar-benar pergi. Beliau selalu ada—dalam setiap suapan, dalam setiap doa yang kami panjatkan, dalam kenangan, dalam setiap sahur yang kami jalani. Dan aku tahu, meskipun beliau telah pergi, cinta dan kasih sayangnya tak pernah benar-benar meninggalkan kami.

Dan aku berjanji, aku akan menjaga warisan itu—dalam kenangan, dalam setiap sahur yang kami jalani, dalam cinta yang beliau tinggalkan.