“Maaf, Mbak. Di sistem kami, Mbak dinyatakan sudah meninggal.”
Kalimat itu mengalir datar. Tanpa rasa bersalah. Tanpa iringan musik latar dramatis. Marni melongo. Di balik kaca buram yang dipenuhi bekas sidik jari, petugas Dukcapil itu tak bergeming.
“Pak,” katanya pelan, “Kalau saya sudah mati, buat apa kesini?”
Petugas itu mengangkat bahu. “Tapi di database kami, status Mbak almarhumah.”
Almarhumah.
Marni belum pernah dipanggil selembut itu.
Ia terkekeh. “Pak, jantung saya masih berdetak, lho.”
“Data nggak pernah bohong, Mbak.” Kalimat itu dilantunkan merdu seperti ayat suci yang memuat kebenaran tak terbantahkan.
Di layar komputer, namanya tercetak jelas dengan status: Meninggal Dunia.
Marni merasa tubuhnya melayang. Jadi, begini rasanya jadi hantu.
“Terus solusinya gimana, Pak?”
“Mbak, coba urus surat keterangan hidup dari RT dan RW. Nanti kita proses reaktivasi.”
“Reaktivasi?” Marni mengulang. “Kayak SIM Card?”
Petugas itu tersenyum tipis. “Kurang lebih seperti itu.”
***
Pak Hanafi, Ketua RT terkejut.
“Lho, kamu kan sering lewat sini.”
“Nah! Bapak lihat saya masih hidup, kan?”
“Terus siapa yang bilang kamu mati?”
“Negara.”
Pak RT membisu. Seolah kata “negara” punya wibawa lebih tinggi daripada “Tuhan” dalam urusan hidup dan mati.
Pendapat Pak Yusuf, Ketua RW lebih masuk akal, “Mungkin sistemnya error atau ada kesalahan input.”
“Berarti saya salah ketik, Pak?”
“Bisa jadi.”
Marni mulai berpikir bahwa hidupnya cuma typo. Berbekal surat keterangan hidup yang distempel tiga kali serta ditandatangani empat orang, ia kembali ke Dukcapil. Petugasnya ganti; lebih muda dan bersemangat.
“Baik, Mbak. Kita cek ulang.”
Keningnya berkerut, “Wah.”
“Kenapa lagi?”
“Di sini Mbak dilaporkan hilang karena banjir tahun lalu.”
Marni menatap kosong. “Saya ada di sini. Nggak pernah hanyut, Pak.”
“Di sini terlapor seperti itu, Mbak.”
Bahkan air tak pernah menyentuh kakinya. Tapi negara menenggelamkannya. Marni hanyut tapi tidak basah.
“Berarti saya mati dua kali?”
Petugas itu menjawab dengan ragu. “Secara administratif… iya.”
Ia pulang dengan map yang makin tipis dan dada yang makin penuh.
***
Perusahaan yang hendak menerimanya kerja tak bisa memproses surat kontrak.
“Maaf, Mbak Marni. NIK-nya tidak valid.”
“Tidak valid gimana?”
“Hmm… nggak sah.”
“Kayak cinta saya ke mantan?”
HRD tak tertawa.
Lain hari, Marni pergi ke bank untuk mengurus rekening. Ditolak.
“Status Mbak tidak aktif,” ujar teller bank.
“Kok bisa?”
Teller itu menatap layar. “Datanya tidak eksis.”
Tidak eksis. Bentuk kematian paling modern. Marni merasa tubuhnya jadi transparan.
Beberapa minggu kemudian, Marni iseng mendatangi kantor pajak.
“Kalau saya dianggap tidak eksis, berarti saya nggak perlu bayar pajak dong?”
Petugas pajak menggeleng. “Justru karena Mbak mangkir bayar pajak tiga tahun terakhir maka sistem menonaktifkannya.”
“Gimana mau bayar pajak, Lha wong data saya dianggap tidak ada.”
“Begitulah aturannya, Mbak.”
***
Ibunya mulai gelisah.
“Saben dino bolak-balik kantor negoro. Ngopo sih?”[1]
“Nggoleki ‘aku’, Bu.”[2]
“Maksute?”[3]
“Dataku ora ono. Aku dianggep wes mati”[4]
Ibunya mendengus, “Sing penting Ibu ngakoni kowe. Anakku sing ayu dewe.”[5]
Marni ingin bilang: Ibu bukan database pemerintah. Marni duduk lemas di lantai, melamunkan hidupnya yang aneh. Ia masih segar, sehat dan hidup---tapi kenyataannya lain di hadapan negara.
***
Sebulan kemudian, Marni memenuhi panggilan kantor Dukcapil.
“Ada kabar apalagi, Pak?” tanya Marni sebelum duduk.
“Data Mbak… hilang.”
“Hilang? Kok bisa?”
“Sepertinya NIK Mbak tidak pernah diterbitkan.”
Marni tertawa. Kali ini lebih keras.
“Pak, saya ini manusia atau buku?”
Petugas tak menjawab. Ia menutup map, mengembalikannya pada Marni.
Marni melangkah lemah ke luar gedung, ia merasa baru saja memerankan tokoh fiktif.
Marni melakukan pendataan mandiri; Kematian pertama: meninggal, Kematian kedua: hanyut, Kematian ketiga: dinonaktifkan, Kematian keempat: tak pernah diterbitkan. Empat kali mati tanpa sempat tua.
***
Ia mulai meragukan hal-hal kecil. Meragukan tanggal lahirnya sendiri.
Ia menelepon sahabatnya, Ara.
“Ra, kamu pernah lihat akta lahirku?”
“Mana aku tahu.”
Marni terdiam.
Ia baru sadar. Selama ini tak pernah benar-benar memegang akta lahirnya sendiri. Marni bingung harus mulai dari mana untuk merunut riwayat hidupnya.
Sekolah? Gudang arsipnya musnah terbakar lima tahun lalu.
Rumah sakit tempat ia lahir? Bangkrut lalu disulap jadi pusat perbelanjaan.
Jejaknya seperti dihapus satu per satu bagaikan menyapu remah roti yang mengotori lantai.
***
Ia nekat mendatangi pengadilan.
“Saya mau mengajukan penetapan bahwa saya hidup.”
Hakimnya lelaki paruh baya dengan wajah lecek seperti kertas karbon.
“Saudari telah dinyatakan meninggal. Apa bukti Saudari masih hidup?”
Marni berdiri, “Saya bisa cubit diri sendiri.”
Ruang sidang senyap.
“Ada dokumen autentik?”
“Tidak ada. Semua hilang.”
“Punya minimal dua saksi?”
“Ibu saya dan tetangga.”
Hakim menatapnya lama.
“Secara administratif, Saudari tidak memenuhi syarat untuk hidup.”
Kalimat itu mendarat seperti stempel basah. Marni ingin membingkai kalimat itu lalu menggantungnya di dinding kamar.
***
Hari-hari berikutnya semakin parah. Marni kehilangan nafsu makan. Tubuhnya tambah kurus. Ia datang ke puskesmas mengeluh badannya meriang tapi KJS-nya (Kartu Jaminan Kesehatan) tak bisa dipakai karena statusnya nonaktif. Ia kembali lagi ke Dukcapil; petugas baru, usianya sekitar dua puluhan, belum ada kerut lelah kehidupan di wajahnya.
“Nama lengkapnya, Mbak?”
“Marni.”
“Nama belakang?”
Marni mengernyit. “Nggak ada.”
Petugas itu mengetik lama. Lama sekali.
“Di database nasional tercatat ada satu bayi perempuan. Namanya Marni, tapi…” petugas itu menatapnya lekat. “Statusnya meninggal saat lahir.” Marni menelan ludah.
Hening sebentar. Seperti percakapan telepon yang terputus. Marni merasa udara di sekitarnya berubah.
“Jadi?”
Terselip keraguan dalam penjelasan petugas itu, “Secara data, Mbak Marni… tidak pernah terdaftar. Nama yang Mbak pakai adalah nama bayi yang sudah meninggal.”
Ia pulang dengan kepala dipenuhi bunyi ketikan. Di rumah, ia duduk di depan ibunya.
“Bu,” katanya pelan, “Aku iki sopo?”[6]
Ibunya membisu. Dapur beraroma jelantah ini menyimpan rahasia usang.
“Sebenere Ibu duwe anak wedok sadurunge kowe. Jenenge Marni. Umure cekak.”[7]
Marni menunggu.
“Pas kowe lair, Ibu wedi. Wong-wong podho ngrasani, keluargane dewe dicap nggowo sial. Makane Ibu ora tau ngurus berkasmu. Ibu nganggo jenenge mbakyumu wae ben ora ditakoni wong.”[8]
Marni melongo. Ia tak sanggup mencerna cerita ibunya.
“Kowe tetep anakku.”[9]
Kalimat itu hangat, tapi tidak bisa melegakan hatinya.
Marni tertawa kecil. “Pantas negara bingung.”
Ibunya sesenggukan.
***
Beberapa hari kemudian, Marni demam tinggi. Batuknya makin parah. Ia bersandar lemas di kursi administrasi puskesmas, tapi petugas loket menggeleng.
“Maaf, Mbak. KJS-nya nggak aktif.”
Marni tercenung. Ia bosan mendengar jawaban dari kantor pemerintahan di negara ini. Ia menunggu petugas puskesmas membeberkan fakta lainnya.
Petugas itu membaca ulang informasi di layar komputernya. “Data Mbak tidak ditemukan.”
Marni mendengus. Ia pulang lagi. Berbaring. Menatap langit-langit yang rusak seperti birokrasi negara ini. Ia berpikir, siapa sebenarnya yang berhak mengatur eksistensi kita. Baginya, hidup adalah privilese yang harus disahkan oleh negara.
Malam itu hujan turun. Arus sungai di samping rumahnya tidak deras. Tapi, kali ini Marni merasa benar-benar hanyut.
***
Beberapa hari setelahnya, rumah Marni ramai.
Ibunya duduk di kursi plastik. Wajahnya sembab. Di depannya, petugas kelurahan menyerahkan sebuah map.
“Bu, ini akta kematian almarhumah. Datanya sudah cocok.”
“C… cocok?”
“Iya, Bu. Sekarang sudah resmi tercatat.”
Prosesnya cepat. Tanpa birokrasi ruwet. Tanpa surat keterangan hidup. Negara ternyata efisien kalau urusan orang mati. Di kertas itu tertulis:
Nama: Marni.
Status: Meninggal Dunia.
Tetangga datang melayat. Tak ada yang tahu Marni yang mana.
“Kasihan ya, padahal masih muda.”
“Iya. Perasaan baru kemarin sowan[10] ke rumah pak RT.”
Pak RT berbisik, “Ini yang mana, ya? Yang dulu atau yang sekarang?”
Tak ada yang menjawab.
***
Seminggu kemudian, petugas Dukcapil yang masih muda itu memeriksa data rutin. Ia mengernyit. Di dalam sistem, nama Marni aktif kembali. Status: Hidup.
Ia mengucek mata. Mungkin salah lihat. Ia buka file-nya. Tak ada foto. Tak ada alamat. Hanya nama tunggal itu, berdiri sendirian seperti anak yatim piatu. Petugas itu menoleh kanan-kiri. Ruangannya sepi.
Di luar, antrean mengular. Orang-orang hidup menunggu giliran mengurus aneka berkas negara. Ia menatap layar sekali lagi, memastikan data Marni. Petugas itu tersenyum kecil.
Sementara itu, di luar gedung, seorang perempuan berdiri memegang map plastik merah. Hujan gerimis membuat rambutnya basah. Ia membaca papan nama kantor itu lama sekali, seperti orang baru belajar mengeja. Ia melangkah masuk lalu mengambil nomor antrean.
Nomornya: A004.
Empat kali mati. Mungkin kali ini saatnya reaktivasi.
Terjemahan:
- Tiap hari bolak-balik ke kantor pemerintahan. Ngapain sih?
- Mencari diriku, Bu.
- Maksudnya?
- Dataku tidak ada. Aku dianggap sudah mati.
- Yang penting, Ibu mengakui kamu. Anakku yang paling cantik.
- Aku ini siapa?
- Sebenarnya, Ibu punya anak perempuan sebelum kamu. Namanya Marni. Umurnya pendek.
- Saat kamu lahir, Ibu takut. Orang-orang bergunjing, keluarga kita dicap pembawa sial. Makanya, Ibu tidak pernah mengurus berkasmu. Ibu pakai saja nama kakakmu agar tidak ditanyai orang.
- Kamu tetap anakku.
- Berkunjung.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tren Sepatu Hybrid: New Balance 1906L Padukan Loafers dan Sneakers
-
Lupakan Megapiksel! Mari Rayakan Lebaran dengan 3 Kamera Analog 600 Ribuan
-
Shiranuhi: Film Pendek Anime Baru dari Studio Your Name Rilis Agustus 2026
-
Melawan Bisikan Setan Belanja: Cara Berdamai dengan Keinginan yang Gak Ada Habisnya
-
4 Moisturizer Korea Heartleaf untuk Kulit Sensitif dan Kering Atasi Redness