Pagi itu, kantor divisi keuangan PT. Maju Mundur Sejahtera terasa seperti pasar malam yang salah tempat. AC rusak lagi, kipas angin berputar pelan seperti orang lagi males, dan bau kopi instan murahan menyeruak dari gelas-gelas plastik yang sudah agak melengkung. Aku, si magang semester akhir yang masih bingung bedain debit sama kredit, duduk di pojok sambil pura-pura sibuk ngetik laporan. Padahal yang kulihat cuma Sunaryo.
Pak Sunaryo, kepala divisi keuangan yang sudah dua puluh tahun mengabdi, adalah legenda hidup di kantor ini. Tubuhnya pendek, perutnya bundar seperti bola kasti yang kekenyangan, dan rambutnya yang tinggal segelintir di tengah kepala selalu disisir rapi ke belakang dengan minyak kelapa yang baunya khas. Setiap pagi, dia datang tepat jam tujuh lewat lima belas menit, membawa tas hitam lusuh yang isinya entah apa, tapi pasti ada rokok kretek dan termos air panas.
Hari ini, seperti biasa, Sunaryo mulai “bekerja”.
Dia duduk di kursi kebesarannya yang sudah agak miring ke kiri karena satu kakinya patah dan diganti bata merah. Komputer di depannya menyala, tapi layarnya masih hitam pekat. Sunaryo menghela napas panjang, lalu mengambil remote AC yang sebenarnya nggak nyambung ke apa-apa karena AC-nya mati total. Dia pencet-pencet remote itu sambil bergumam, “Ini nih, teknologinya kurang canggih. Harusnya ada tombol ‘dingin otomatis’.”
Aku menahan tawa. Dari meja sebelah, Mbak Rina, sekretaris yang sudah terbiasa dengan kelakuan bosnya, cuma bisa geleng-geleng kepala sambil ngetik.
Sunaryo lalu membuka laci mejanya yang penuh dengan permen jahe, obat maag, dan satu bungkus rokok yang sudah setengah kosong. Dia mengeluarkan selembar kertas A4 kosong, lalu meletakkannya di atas meja dengan penuh khidmat, seolah itu adalah kontrak merger senilai miliaran rupiah. “Hari ini kita harus selesaikan laporan triwulan,” katanya dengan suara serius. “Targetnya: nol error.”
Aku mengangguk patuh. Padahal aku tahu, target Sunaryo sebenarnya cuma satu: pulang sebelum macet parah di Jalan Ahmad Yani.
Dia mulai bekerja. Caranya unik. Pertama, dia membuka Excel. Bukan untuk menghitung, tapi untuk memandang sel-sel kosong itu dengan tatapan filosofis. “Lihat ini,” katanya tiba-tiba sambil menunjuk layar. “Sel B12 ini kosong. Kosong itu artinya peluang. Peluang untuk… istirahat sebentar.”
Lalu dia bangkit, berjalan ke pantry dengan langkah gagah seperti jenderal yang mau memeriksa pasukan. Di sana, dia menuang air panas ke gelasnya, mencampur kopi, gula, dan susu kental manis dalam proporsi yang hanya dia yang paham. Rasanya pasti seperti sirup obat batuk yang diberi energi. Sambil mengaduk, dia bercerita pada siapa saja yang lewat.
“Waktu saya masih muda, dulu tahun 98, saya pernah bikin laporan keuangan dalam waktu tiga jam. Bos langsung naik pangkat. Sekarang? Anak muda pakai AI, tapi tetap salah hitung. Kenapa? Karena kurang jiwa.”
Aku yang kebetulan lewat untuk ambil air, cuma bisa nyengir. “Pak, AI kan nggak punya jiwa maag seperti Bapak.”
Sunaryo tertawa ngikik, perutnya bergoyang seperti jelly. “Betul! Jiwa maag itu penting. Tiap kali laporan audit mendekat, maag saya langsung protes. Itu namanya insting.”
Kembali ke meja, Sunaryo mulai fase kedua: menelepon. Bukan untuk konfirmasi data, tapi untuk curhat. Dia hubungi Pak Budi dari divisi pemasaran.
“Halo, Bud? Ini Suni. Gimana, laporan penjualan bulan lalu sudah fix? Belum? Ya ampun, Bud… saya lagi nunggu nih. Kalau telat, saya yang kena marah sama Bu Direktur. Padahal saya cuma mau nambahin kolom ‘keterangan’ doang. Iya… iya… oke, nanti saya kirim reminder via WA ya. Eh, tapi WA saya lagi lowbat. Nanti deh.”
Dia tutup telepon, lalu menghela napas lega. “Kerja tim itu penting, Nak,” katanya padaku. “Tanpa kerja tim, saya nggak bisa apa-apa.”
Fase ketiga adalah yang paling komikal: rapat internal dengan diri sendiri.
Sunaryo mengambil notes kecil, lalu mulai bicara sendiri dengan suara berbeda-beda. Suara bos: “Sunaryo, laporan ini harus selesai hari ini!” Suara dirinya: “Siap, Pak! Tapi data dari gudang belum masuk.” Suara bos lagi: “Alasan! Kamu ini sudah 20 tahun, masih saja!” Suara dirinya: “Maaf, Pak. Tapi kemarin listrik mati, komputer saya bluescreen, dan tetangga sebelah lagi pada nikahan, rame banget.”
Aku hampir tersedak kopi. Mbak Rina sudah biasa, dia cuma nyanyi pelan “dangdut koplo” sambil ngetik supaya nggak ketawa.
Tiba-tiba, Bu Direktur lewat di depan ruangan. Sunaryo langsung berubah 180 derajat. Dia duduk tegak, tangan di keyboard, mata fokus ke layar yang masih hitam. Jarinya menekan tombol-tombol secara acak, seolah sedang menghitung rumus integral.
“Pagi, Bu!” sapanya dengan suara manis. “Laporan triwulan sedang dalam proses finalisasi. Tinggal review akhir.”
Bu Direktur mengangguk sambil tersenyum tipis. “Bagus, Pak Sun. Target besok pagi ya.”
Begitu Bu Direktur menghilang di ujung koridor, Sunaryo langsung ambruk di kursi seperti balon yang kempes. “Besok pagi? Ya Tuhan… ini baru jam sepuluh.”
Dia lalu melakukan ritual pamungkas: tidur siang ala kantor. Kepalanya ditopang tangan, mata setengah terpejam, tapi sesekali dia menggumam “ya… betul… saya catat…” seolah sedang rapat penting via telepon. Padahal yang dia catat di notes hanyalah daftar belanja: “Beli rokok, beli keripik, beli obat maag cadangan.”
Aku yang melihat semua itu dari meja magang, akhirnya nggak tahan. “Pak, mau saya bantu ngetik laporannya? Biar cepat.”
Sunaryo membuka mata, memandangku dengan tatapan syukur yang berlebihan. “Kamu anak baik. Tapi jangan. Ini soal harga diri. Saya harus yang ngerjain. Nanti kamu cuma bantu print dan jilid saja.”
Jam dua siang, keajaiban terjadi. Sunaryo benar-benar membuka file Excel yang benar. Dia mulai memindahkan angka-angka dari kertas catatan lusuh ke layar. Prosesnya lambat, penuh drama. Setiap kali angka salah, dia bilang “Ini pasti virus dari anak magang.” Padahal aku belum pernah sentuh komputernya.
Pukul empat sore, laporan akhirnya selesai. Sunaryo mencet print dengan bangga. Kertas keluar dari printer dengan bunyi seperti orang sesak napas. Dia ambil hasil cetakannya, lalu membacanya dengan suara keras.
“Tahun ini, PT. Maju Mundur Sejahtera mengalami… peningkatan kerugian yang… terkendali.”
Dia berhenti, garuk-garuk kepala. “Kok kerugian? Harusnya laba.”
Aku melirik. “Pak, itu kolomnya salah. Itu laporan tahun lalu.”
Sunaryo diam sebentar. Lalu dia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. “Ya sudah. Besok saja diperbaiki. Yang penting hari ini sudah kelihatan kerja keras.”
Dia bangkit, merapikan tas lusuhnya, lalu menepuk pundakku. “Nak, ingat ya. Kerja itu bukan soal selesai cepat. Tapi soal kelihatan sibuk dengan elegan. Itu seni.”
Saat Sunaryo berjalan keluar ruangan, perutnya bergoyang, langkahnya ringan, dan dia bersiul lagu “Sepanjang Jalan Kenangan”. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Di kantor ini, melihat Sunaryo bekerja bukan sekadar melihat seorang karyawan. Tapi menyaksikan sebuah pertunjukan teater komedi satu babak yang berlangsung dua puluh tahun tanpa henti.
Dan entah kenapa, aku jadi rindu pulang cepat juga.
Baca Juga
-
Thrash: Film dengan Premis Gila yang Menggabungkan Dua Horor Klasik
-
Minggu Siang di Hotel Kelas Melati
-
Ulasan Serial The Pitt Season 2: Drama Medis yang Mengharukan dan Realistis
-
Turbulence: Film Thriller Single Location Paling Tegang dan Mencekam!
-
Review Film Humint: Sinema Spionase Korea yang Brutal dengan Nuansa Noir!
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Lelah dengan Tekanan Kota? Mungkin Kamu Belum Menemukan "Ruang Pulang" Versi Dirimu Sendiri
-
Ingin Otak Lebih Fokus? Sains Temukan Fakta Mengejutkan dari Kebiasaan Membaca Huruf Hijaiyah
-
Ada Merlion Hingga Alat Santet, Ini Sensasi Menyusuri Lorong Waktu di Art Center Purworejo
-
Street Style Goals, Intip 4 Ide Daily Outfit ala Han So Hee yang Edgy Abis!
-
ENHYPEN Umumkan Tur Dunia BLOOD SAGA, Siap Guncang Amerika Sampai Eropa!