Bagi Greya, April tahun ini hanya berarti satu hal: tumpukan pekerjaan. Sebagai staf data entry di kantor distributor alat kesehatan, matanya hampir setiap hari memerah karena terlalu lama menatap layar komputer. Tugasnya sederhana namun berat: memasukkan ribuan baris angka ke dalam sistem. Ia tidak boleh melakukan kesalahan ketik sedikit pun; kurang satu angka nol saja, laporan bulanan kantor bisa berantakan.
Di balik ketelitiannya, Greya sebenarnya sedang memikul beban berat. Gajinya sebagai buruh kontrak selalu habis untuk dikirim ke kampung halaman. Adiknya memerlukan biaya sekolah, sementara sang ibu membutuhkan obat asma yang harganya tidak murah. Hidup Greya hanya soal menghitung sisa uang di dompet dan memaksanya cukup hingga akhir bulan. Sering kali ia hanya makan nasi dengan tahu kecap atau mi instan di minggu ketiga agar saldo di rekeningnya tidak menyentuh angka nol sebelum tanggal gajian tiba.
Di sisi lain kota, Rigal juga sedang berjuang dengan caranya sendiri. Siang hari ia bekerja sebagai admin gudang di sebuah perusahaan logistik di Jakarta Utara. Tugasnya adalah mengangkat kardus dan mengecek daftar barang. Begitu jam kantor usai pukul lima sore, Rigal tidak langsung pulang. Ia berganti pakaian, mengenakan jaket ojek online, dan menarik penumpang hingga tengah malam. Ia membutuhkan uang tambahan untuk tabungan yang sering kali terpakai untuk urusan mendadak.
Mereka sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Hubungan itu berjalan sangat sederhana. Biasanya mereka hanya duduk berdua di teras kontrakan Greya yang sempit sambil meminum teh hangat. Greya melanjutkan lembur mengetik di laptop, sementara Rigal bersandar sambil memijat kakinya yang pegal setelah seharian berada di jalanan.
"Pekerjaanmu belum selesai, Grey? Ini sudah jam sepuluh malam," tanya Rigal sambil menyandarkan kepala ke dinding kontrakan yang kusam.
Greya menghela napas panjang tanpa melepaskan pandangan dari layar. "Belum, Gal. Ada revisi data stok bulan lalu. Kalau tidak diselesaikan sekarang, besok aku bisa kena marah atasan lagi. Kamu sendiri, dapat berapa tarikan hari ini?"
"Hanya tujuh, itu pun terpotong macet total di depan pelabuhan tadi. Lelahnya tidak sebanding dengan hasilnya," sahut Rigal sambil memejamkan mata sejenak.
Pada akhir April, Greya akhirnya mengambil keputusan besar. Ia mendaftar program kerja di luar negeri sebagai buruh perkebunan melalui skema Working Holiday Visa. Ironis memang; biasanya ia memegang papan ketik, namun nanti ia harus memetik buah atau memegang cangkul. Namun bagi Greya, gaji di sana jauh lebih besar dan bisa digunakan untuk melunasi utang sertifikat rumah ibunya di kampung.
"Jadi berangkat, Grey?" tanya Rigal malam itu. Ada bekas garis helm di dahinya yang masih berkeringat.
Greya mengangguk pelan. "Iya, Gal. Aku harus ambil kesempatan ini. Aku lelah jika kita terus seperti ini, setiap akhir bulan pusing menghitung uang receh."
Rigal terdiam sebentar, lalu menghela napas panjang. "Iya, aku mengerti. Bekerja di sini memang rasanya hanya jalan di tempat. Pergilah, cari modal yang benar di sana."
"Lalu kita bagaimana?" tanya Greya dengan suara pelan.
Rigal melihat telapak tangannya yang mulai kasar karena setiap hari memegang setang motor dan mengangkat barang. "Kita jalani saja. Aku tidak tahu bagaimana cara menjalani hubungan jarak jauh, aku juga tidak pintar berjanji. Aku hanya bisa berjanji akan tetap menunggumu di sini."
***
Dua hari sebelum keberangkatan, Rigal memberikan sebuah hard drive eksternal kecil yang dibungkus plastik klip transparan agar tidak basah jika terkena hujan.
"Ini apa?" tanya Greya bingung.
"Isinya foto-foto kita," jawab Rigal pendek. "Aku mengumpulkannya setiap sedang menunggu orderan ojek atau saat jam istahat di gudang. Ada folder-foldernya, dari awal kita bertemu sampai foto kamu yang sedang ketiduran saat lembur. Simpan ya, untuk dilihat kalau kamu sedang rindu."
Greya memegang benda itu dengan tangan gemetar. Baginya, pemberian Rigal ini lebih berharga dari apa pun. Rigal mungkin bukan laki-laki yang romantis, tetapi ia selalu ada di saat-saat tersulit.
Malam terakhir di bulan April ditutup dengan gerimis yang enggan beranjak. Di bandara, Greya sudah siap dengan tas ransel besarnya. Rigal berdiri di depannya, masih mengenakan jaket kantor yang sudah agak kusam.
"Di sana makan yang benar, jangan terlalu hemat sampai sakit. Tubuhmu itu modal untuk bekerja," kata Rigal dengan suara yang agak serak.
Greya menahan tangisnya. "Kamu juga. Jangan menarik ojek sampai subuh terus, ingat kesehatanmu. Dan tolong, motornya diservis. Jangan menunggu sampai mogok di jalan saat sedang membawa penumpang."
Rigal hanya mengangguk mantap. "Iya, beres."
Tidak ada drama besar atau kata-kata puitis. Mereka hanya berpelukan sebentar di tengah keramaian bandara yang sibuk. Greya kemudian berbalik dan berjalan masuk menuju gerbang keberangkatan. Di dalam kepalanya, Greya hanya memikirkan berapa lama ia harus berada di sana hingga bisa pulang kembali ke Jakarta.
Rigal berdiri di sana hingga sosok Greya benar-benar hilang. Ia berjalan menuju parkiran, mengenakan helmnya, dan bersiap kembali ke rutinitas. Di depan gerbang parkir, ia bertemu Pak Mamad, tukang ojek senior yang biasa mangkal bersamanya. Pak Mamad sedang menghisap rokok kretek sambil menunggu pesanan masuk.
"Sudah berangkat, Gal?" tanya Pak Mamad, suaranya parau karena usia.
Rigal mengangguk pelan sambil menyalakan mesin motornya. "Sudah, Pak."
Pak Mamad menepuk bahu Rigal cukup keras. "Sabar. Kita memang orang kecil, jarak itu satu-satunya cara untuk memperbaiki nasib. Yang penting ponsel jangan sampai mati agar komunikasinya lancar. Ayo narik lagi, daripada melamun nanti malah jadi sedih."
Rigal tersenyum tipis, merasa sedikit dikuatkan. Ia harus segera mencari penumpang agar bensinnya tidak terbuang sia-sia dalam perjalanan pulang nanti. Baginya, April sudah berakhir, tetapi urusan hati tidak bisa dihapus begitu saja. Besok, ia akan kembali bekerja seperti biasa, sambil menunggu Greya pulang.
Baca Juga
-
Satu Saf di Belakang Kakak
-
Sisi Manusiawi Kartini: Melampaui Mitos dalam Buku Gelap-Terang Hidupnya
-
Refleksi dari Buku Yuk, Husnuzhan!: Mengubah Hidup dengan Pikiran Positif
-
Menghargai Perbedaan dari Kisah Sophie dan Andjana dalam Novel Titik Temu
-
Mencari Keseimbangan dalam Beragama Lewat Buku Islam Desa dan Islam Kota
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Hell University: Saat Enam Sekawan Terjebak di Sekolah Penuh Pembunuhan
-
Bersaing! Bos Aprilia Akui Jorge Martin Lebih Unggul dari Marco Bezzecchi
-
Ichigo Ichie: Seni Menikmati Hidup di Era Distraksi Digital
-
Solois Kwon Eun Bi Resmi Gabung RBW, Satu Agensi dengan MAMAMOO
-
The Drama: Sajikan Eksplorasi Hubungan Toksik dalam Balutan Komedi Gelap!