Bagi banyak orang, sosok Kartini telah lama menjadi pahlawan yang dikurung kembali. Bukan lagi oleh tembok pingitan feodal, melainkan oleh ritual tahunan yang terasa klise seperti lomba kebaya atau pidato seremonial yang membosankan. Namun, buku Gelap-Terang Hidup Kartini dari Seri Buku Tempo ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda: menggali kembali sosoknya dari tumpukan surat lama, mendedah kegelisahannya, dan menempatkannya di tengah perdebatan sejarah yang belum selesai.
Buku ini dibuka dengan sebuah pertanyaan penting: mengapa pengetahuan kita tentang Kartini di sekolah begitu rutin dan dangkal? Melalui kumpulan reportase khas Tempo, kita diajak melihat Kartini bukan sekadar simbol wanita anggun, melainkan seorang intelektual yang berani mendobrak aturan adat. Salah satu poin yang paling menyentuh adalah saat ia meminta dipanggil Kartini saja.
Hal ini adalah sebuah pernyataan sikap yang sangat revolusioner di zamannya. Ia ingin menunjukkan bahwa semua manusia itu setara, tak peduli apa gelar kebangsawanan yang melekat di belakang namanya. Menariknya, buku ini juga mengungkap sisi Kartini sebagai antropolog pertama Indonesia. Artikel yang ia tulis mengenai upacara perkawinan suku Koja di Jepara membuktikan bahwa bakatnya bukan sekadar curhat di surat pribadi. Ia adalah pengamat sosial yang sangat tajam.
Hebatnya lagi, bakat menulis itu ia asah di atas meja belajar jati bergaya Victoria di dalam ruang pingitan yang sempit. Dengan hanya mengandalkan tumpukan buku dan majalah kiriman kakaknya, Sosrokartono, Kartini berhasil meluaskan cakrawala berpikirnya melampaui tembok kabupaten.
Salah satu bagian paling menarik adalah kolom dari para sejarawan seperti Hilmar Farid dan JJ Rizal. Di sini, Kartini tidak dipuji secara berlebihan atau dibela secara membabi buta. Buku ini dengan jujur memotret gugatan sejarah terhadapnya: Mengapa bukan tokoh lain seperti Dewi Sartika atau Rohana Kudus yang secara fisik lebih nyata membangun sekolah?
Hilmar Farid mengajak kita berhenti memandang pahlawan secara kaku. Kartini tidak harus menjadi sosok sempurna yang berhasil sekolah ke luar negeri untuk dianggap penting. Justru, pergulatannya selama dalam kurungan itulah yang menjadikannya saksi kunci lahirnya kesadaran berbangsa. Sementara itu, JJ Rizal menegaskan bahwa Kartini adalah sebuah ide. Ia adalah ramalan tentang Indonesia modern yang lahir dari korespondensi yang melintasi samudera. Perkenalannya dengan sosok feminis seperti Marie Ovink-Soer memberikan bensin bagi api perlawanan yang sudah ada di dalam dirinya.
Tak berhenti di situ, buku ini juga mengulas sisi tragis kematian Kartini di usia yang sangat muda, yakni 25 tahun. Muncul berbagai desas-desus pasca-kematiannya, mulai dari gangguan kesehatan hingga rumor miring seputar medis. Meski misteri itu tidak pernah benar-benar terbukti, bagian ini memberikan dimensi manusiawi yang sangat dalam. Kita diingatkan bahwa di balik gagasan besarnya tentang emansipasi, Kartini adalah seorang perempuan yang harus menanggung risiko fisik yang nyata dalam perjuangannya sebagai seorang ibu.
Secara keseluruhan, buku ini berhasil menghidupkan kembali sosok Kartini yang hidup dan bergejolak. Dilengkapi dengan esai reflektif dari Goenawan Mohamad, pembaca diajak merenung bahwa perjuangan perempuan tidak selalu berupa garis lurus.
Meski isinya berupa kumpulan artikel yang mungkin terasa sedikit terputus-putus, keberagaman sudut pandang di dalamnya justru menjadi kekuatan utama. Buku ini sangat cocok bagi siapa saja yang ingin mengenal Kartini bukan sebagai mitos yang kaku, melainkan sebagai sosok yang cerdas, bimbang, dan berani di tengah himpitan keadaan.
Pada akhirnya, Gelap-Terang Hidup Kartini menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin memahami sisi manusiawi sang Ibu Kita. Pemikirannya adalah buku yang tak pernah tamat dibaca—ia akan terus relevan selama keadilan dan kesetaraan masih menjadi perjuangan yang berlanjut.
Identitas Buku
Judul: Gelap-Terang Hidup Kartini (Seri Buku Tempo)
Penulis: Tim Buku Tempo
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2017
Cetakan: Ketujuh, Juni 2022
ISBN: 978-602-481-842-5
Jumlah Halaman: ix + 148 hlm.
Ukuran: 16 x 23 cm
Baca Juga
-
Cinta dan Makna Sebuah Pilihan: Ulasan Novel Islammu Adalah Maharku
-
Ulasan Novel Festival Hujan, Belajar Menerima Diri dari Sebuah Kehilangan
-
Menyusuri Makna Kehidupan dalam Buku Kantor Pos dan Siklus Musim Semi
-
Novel Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati: Menyingkap Jati Diri dan Kekayaan Budaya Bali
-
Memupuk Keberanian untuk Menggali Potensi dan Meraih Mimpi dalam Lawan Minder, Raih Sukses
Artikel Terkait
-
Belajar dari Kartini: Perempuan Tidak Harus Sempurna untuk Berharga
-
Tak Banyak yang Tahu, Surat Kartini Justru Pertama Kali Berbahasa Belanda
-
Refleksi Hari Kartini: Susy Susanti dan Greysia Polii Bicara Keberanian untuk Bermimpi
-
Di Balik Laboratorium dan Mitos: Menggugat Stigma Perempuan di Dunia Sains
-
Speak Up Like Kartini: Emansipasi Perempuan di Era Media Sosial
Ulasan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua