M. Reza Sulaiman | Tika Maya
ilustrasi cerpen Perempuan Bermata Kelam yang Menjanjikan Kemakmuran (Usnplash/Leo_Visions)
Tika Maya

"Kau mengenaskan,”

Firda mengedarkan pandangannya sewaktu mendengar suara perempuan berbicara. Dia tidak ingat apa pun, bahkan di bumi mana kakinya berpijak, kecuali pemandangan pepohonan hutan yang daun-daunnya rimbun serta menghalau sinar matahari dari dalam. Angin bertiup sepoi, membawa terbang benih-benih wadang dan buah-buah mahoni, termasuk juga dedaunan asam kering yang berguguran seperti confetti.

“Ayahmu memang bajingan,” imbuh suara itu lagi.

“Kamu siapa?” tanya Firda waspada. Dia memeluk erat Friska yang juga kebingungan. “Kamu manusia atau bukan?”

Ada aroma tanah basah yang muncul, disusul dengan wangi bebungaan menyengat. Angin bertiup makin kencang hingga di detik kesekian, angin mereda. Di sanalah Firda membeku di tempat. Matanya terpaku pada sosok perempuan di depan sana.

“Kaum manusia memang kejam,” ucap sesosok perempuan asing yang berjarak kurang lebih tujuh meteran dari Firda. “Kau manusia yang penuh kemalangan.”

Semilir angin merayap di tengkuk Firda, mengirimkan sinyal waspada dan penuh kehati-hatian. “Kamu siapa?”

Perempuan itu menyeringai. “Entitas yang tinggal lebih dahulu di sini.”

Firda memicingkan mata, berusaha menganalisis sosok di depannya itu. Perempuan asing tersebut bertubuh ramping dan langsing, dengan kulit berwarna kuning langsat pucat. Pakaiannya cukup berani karena hanya mengenakan bikini berwarna hitam yang selaras dengan kuku panjangnya. Sepintas, Firda pikir itu adalah nail art bergaya gothic. Perempuan itu juga memiliki rambut sepanjang punggung dengan hairpiece berbentuk bunga berwarna perak. Yang paling aneh adalah sepasang matanya yang hitam kelam bak jurang tanpa dasar.

“Apa maumu?” tanya Firda waspada.

Perempuan asing itu terbahak hingga sepersekian detik berikutnya muncul beberapa perempuan lain yang berpenampilan sama. Mereka sama-sama berbikini hitam, dengan nail art panjang kelam, dan mata yang bak jurang. Yang membedakan adalah hanya satu perempuan yang menggunakan hairpiece berbentuk bunga keperakan. Yang lainnya nihil. Sekali lihat, Firda sadar bahwa mereka bukan manusia.

“Aku bisa memberikan kedamaian untukmu,” kata perempuan itu. Sebelah tangannya mengulur, menampilkan sebongkah berlian berkilau. “Kemakmuran hidup, dan kemenangan terhadap manusia yang lain bila kau bergabung bersamaku.”

“Bergabung denganmu?”

“Kau akan disegani oleh manusia yang lainnya. Kau juga akan bisa membalaskan kekecewaan dan sakit hati yang ada. Kau bahkan bisa membunuh ayahmu tanpa harus mendatangi rumahnya.”

Firda menggeleng pelan. “Aku tidak berminat balas dendam.”

Perempuan itu menyeringai kejam. “Lalu bagaimana jika kuberikan harta benda yang tidak bernilai? Kau juga kubebaskan memilih rumah mana yang ingin kau tempati.”

Dia lantas menunjukkan beberapa rumah gedongan bergaya Eropa dengan tembok-tembok tebal. Rumah-rumah itu memiliki jendela berkaca gelap, beratap tinggi membentuk limas, dan aura mengerikan yang sulit diperjelas. Beberapa di antaranya berukuran agak kecil, sedangkan ada satu bangunan yang sangat besar. Sepintas mirip keraton.

“Kau bebas datang sendirian, atau bahkan bersama putrimu,” imbuh perempuan itu lagi. “Kupastikan, kemakmuran akan tunduk di bawah kakimu.”

“Apakah jika aku bergabung denganmu, aku harus menggunakan pakaian aneh itu?” tanya Firda kembali, terdengar menantang. “Bagaimana dengan sembahyang lima waktu? Di manakah masjid terdekat dari sini?”

Perempuan asing itu membeku. Dia melebarkan matanya sebelum tertawa semakin terbahak. Bahu dan dadanya berguncang, yang mana menimbulkan ekspresi heran dari para koloninya.

“Bahkan dalam keadaan kecewa pun, kau masih memikirkan sembahyang lima waktu? Kau ini manusia yang terbuat dari apa?”

“Aku hanya ingin menjadi manusia murni,” tegas Firda sebelum berjalan menjauh.

“Jika kau menolak tawaranku, kau akan dapati hidupmu berkubang lumpur dan tenggelam dalam air mata.”

Angin bergejolak histeris, pun hujan tiba-tiba turun deras dengan pohon-pohon hampir sempoyongan. Firda kian erat memeluk Friska dan terus berjalan menjauhi kelompok perempuan misterius tadi. Dia berjalan melintasi jalan setapak dalam hutan hingga basah kuyup.

“Kesempatan terakhir, aku tidak akan menawarkannya kembali padamu.” Firda menoleh saat masih mendengar rayuan perempuan di sana. “Ayo bergabung denganku.”

“Bukankah jika aku bergabung denganmu, maka aku telah mengkhianati Tuhanku?”

“Kau tahu konsekuensinya dengan benar, Manusia.”

Perempuan bermata hitam itu terbahak-bahak. Kali ini diikuti oleh kelompoknya. Tawa mereka terdengar nyaring, memekakkan telinga, dan memiliki nada perih tersendiri, sebelum mereka lantas berbalik badan dan menjelma menjadi kepulan asap hitam. Entitas-entitas itu pergi, bersamaan dengan hujan badai yang turut berhenti.

Meninggalkan ruang udara hampa, dan sinergi kicau burung-burung dengan cahaya matahari yang menyusup lewat kisi-kisi jendela.

“Ibuk menangis?” tanya Friska polos. Matanya mengerjap cantik dan penasaran.

“Enggak kok. Ibuk cuma kelilipan.”

Pagi itu sendu, terasa berat. Firda menatap putrinya, Friska, yang duduk termenung memeluk boneka. Bocah itu sedang demam dan tampak mengantuk setelah mengonsumsi obat bubuk yang diresepkan bidan. Setetes air mata kembali turun membasahi pipi Firda. Friska tersenyum, menampilkan gigi ompong. Bocah itu kemudian menyusun ‘benteng’ dari bantal dan guling, kemudian segera berbaring.

Segala pemikiran keluar, terlebih saat Firda hanya berdua saja dengan putrinya ketika sang suami sedang bekerja. Ketika namamu dicemarkan, difitnah penuh kebohongan, bahkan sampai pada pengucilan dan pengusiran. Apakah semua baik-baik saja? Dan bagaimana jika pelakunya adalah keluargamu sendiri?

Entahlah. Barangkali, kekecewaan itu melahirkan pemikiran yang buruk.