Pasar itu selalu bangun lebih pagi dari matahari. Bau anyir ikan, sayur yang baru dipetik, dan keringat manusia bercampur jadi satu. Di antara lorong-lorong sempit yang becek, nama Bram berjalan lebih dulu daripada tubuhnya.
Orang-orang tahu, sebelum bayangan tubuh tinggi besar itu muncul di ujung gang, suara langkahnya sudah lebih dulu mengetuk dada. Sepatu botnya menghentak seperti palu. Tak ada yang berani menatap terlalu lama. Bahkan angin seolah enggan menyentuhnya.
Pagi menjelang siang itu, Bram datang menagih. Lehernya penuh tato yang melingkar seperti ular. Lengannya berotot, juga dihiasi gambar-gambar kasar, tengkorak, pisau, dan tulisan-tulisan yang sudah pudar.
Wajahnya seperti peta luka. Sayatan lama melintang di pipi, sebagian menghitam, sebagian lain seperti baru sembuh kemarin sore. Orang-orang sering berbisik, barangkali itu bekas perkelahian masa mudanya, masa ketika hidupnya hanya soal siapa yang lebih dulu menumpahkan darah.
“Sudah bayar?” suaranya, pendek.
Tak perlu panjang kalimat. Pedagang tahu maksudnya. Upeti.
Di belakangnya, Kusno berjalan sambil membawa buku tulis lusuh. Ia kurus, wajahnya pucat, matanya cekung seperti orang yang terlalu sering begadang. Tangannya cekatan mencatat. Siapa sudah bayar, siapa belum. Semua tertulis rapi dalam kolom-kolom yang dibuatnya sendiri.
“Bu Siti, sudah,” Kusno berbisik.
Bram mengangguk.
“Pak Darto?” tanya Bram lagi.
Kusno membuka lembar lain. “Belum, Bang.”
Bram berhenti. Di depannya, Pak Darto berdiri dengan tangan gemetar. Lapak sayurnya tak seberapa. Kubis, cabai, dan beberapa ikat kangkung yang sudah mulai layu.
“Saya belum ada uang, Bang,” kata Pak Darto pelan.
Bram tak menjawab. Ia hanya menatap. Tatapan yang membuat lutut orang-orang lemas. Lalu, tanpa banyak bicara, tangannya menyapu dagangan itu. Kubis menggelinding, cabai tercecer di tanah becek.
Pak Darto terdiam. Tak melawan. Tak menangis. Hanya menunduk, seperti sudah tahu begitulah dunia bekerja di tempat ini. Kusno kemudian menulis sesuatu di bukunya.
***
Hari-hari berlalu seperti itu. Bram tetap Bram. Kasar, dingin, seperti tak punya ruang untuk belas kasihan. Orang-orang membencinya, tapi juga membutuhkannya. Ada rasa aman yang aneh ketika ia ada. Tak ada pencuri berani masuk ke pasar itu. Tak ada preman lain yang berani mengusik.
Namun, sesuatu mulai berubah ketika Bram suatu siang berhenti lebih lama di depan Masjid Al-Insyaf, yang berdiri tak jauh dari pasar.
Azan Zuhur berkumandang. Suaranya mengalun lembut, menembus hiruk-pikuk pasar. Bram berdiri diam. Kusno heran.
“Bang?” panggilnya.
Bram tak menjawab. Ia hanya menatap masjid itu. Lama. Seperti ada sesuatu yang memanggil dari dalam dirinya, sesuatu yang selama ini terkubur di balik tato dan luka. Hari itu, Bram tak melanjutkan penagihan.
Sejak saat itu, langkahnya mulai berubah arah. Ia masih datang ke pasar, tapi tak lagi sekeras dulu. Kadang ia hanya berdiri, memperhatikan orang-orang. Tangannya tak lagi cepat mengamuk.
“Bang, kita belum nagih ke blok belakang,” kata Kusno suatu hari.
Bram menggeleng. “Nanti.”
“Nanti kapan?”
Bram tak menjawab.
Beberapa hari kemudian, kabar beredar. Bram tak lagi jadi preman pasar. Ia menyerahkan wilayahnya pada orang lain, yang entah siapa. Orang-orang tak peduli. Yang mereka tahu, Bram berubah.
Ia mulai bekerja sebagai tukang parkir di depan pasar. Mengenakan rompi lusuh, meniup peluit kecil. Tubuhnya masih besar, masih penuh tato, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih teduh. Lebih manusiawi.
Suatu sore, Kusno menemuinya.
“Bang, ini buku catatan...” katanya, menyerahkan buku lusuh itu.
Bram menatap buku itu lama. Lalu, perlahan, ia mengambilnya. Membuka lembar demi lembar. Nama-nama pedagang, angka-angka, tanda centang, dan tanda silang.
“Bakar saja,” katanya pelan.
Kusno tertegun. “Bang?”
“Bakar semuanya,” ulang Bram.
Dan buku itu benar-benar dibakar di belakang pasar. Kertas-kertas itu melengkung, menghitam, lalu jadi abu. Seperti masa lalu yang pelan-pelan dilepaskan.
Bram juga mulai sering terlihat di Masjid Al-Insyaf. Awalnya canggung. Gerakannya kaku. Bacaan salatnya terbata. Tapi ia terus datang.
“Bang Bram sekarang rajin salat,” bisik orang-orang.
“Katanya mau hapus tato juga.”
“Serius?”
Bram memang pernah berkata begitu pada Kusno.
“Saya mau bersih,” katanya suatu malam.
“Semua tato ini?” tanya Kusno.
Bram mengangguk. “Pelan-pelan.”
“Terus nanti?”
Bram tersenyum tipis. “Saya mau nyantuni anak yatim. Tiap bulan.”
Kusno tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menatap lelaki yang dulu ditakuti seluruh pasar itu, kini bicara dengan suara yang hampir seperti doa.
Hari itu, matahari tepat di atas kepala ketika azan Zuhur kembali berkumandang. Bram sedang mengatur parkir. Peluitnya berhenti di bibirnya.
Ia menoleh ke arah masjid. Lalu, tanpa banyak kata, ia berjalan masuk.
Di dalam, udara lebih sejuk. Lantai dingin menyentuh dahinya saat ia bersujud. Gerakannya masih belum sempurna, tapi ada ketulusan yang tak bisa dipalsukan.
Di rakaat terakhir, sujudnya lebih lama. Lebih lama dari biasanya. Orang-orang lalu mulai menyadari sesuatu yang aneh. Bram tak bergerak.
Seorang jemaah mendekat. Menyentuh bahunya.
“Bang...”
Tak ada jawaban.
Bram tetap dalam posisi sujud. Diam. Tenang. Seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang tak bisa dilihat siapa pun. Dan di situlah, hidupnya berhenti.
Tak ada teriakan. Tak ada keributan. Hanya keheningan yang pelan-pelan memenuhi ruang.
Preman pasar itu meninggal dunia. Bukan di tengah perkelahian. Bukan oleh pisau atau peluru. Tapi dalam sujud. Dalam keadaan suci. Juga di tempat yang suci.
Seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Baca Juga
-
Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir
-
Sedang Kehilangan Arah? Novel 'Rumah' Karya J.S. Khairen Akan Menemanimu
-
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Kemiskinan Tak Selamanya Mematikan Harapan
-
Mau Nonton Bioskop di Jember? Cek 4 Lokasi Paling Hits dan Nyaman Ini
-
Malam Seru di Kota Cinema Mall Jember, Nonton dan Kuliner yang Tak Terlupakan
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Pendidikan Tanpa SPP, Tapi Tidak Tanpa Beban: Membaca Pelanggaran Hak Anak
-
Di Atas Dendam, Ada Martabat: Mengenal Sisi Intim Buya Hamka Lewat Memoar Anak
-
Narasi Politik yang Setengah Jadi di Balik Kampanye Sekolah Gratis
-
Bukan Gratis, tapi Sulit: Jeritan Pendidikan di Namorambe
-
Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan