Ada di urutan berapakah hubungan asmara di dalam prioritas hidup orang-orang? Saya yakin jawabannya mestilah tak seragam. Sebagian orang menempatkannya di urutan teratas, atau malah mengenyahkan sejauh mungkin dari daftar mereka. Semua jawaban memiliki alasan masing-masing. Dan sebetulnya itu sah-sah saja mengingat hidup ini memang mempunyai banyak percabangan jalan. Dan agaknya Amanatia Junda bersepakat dengan anggapan saya tersebut.
Penulis perempuan ini mengambil berbagai sudut pandang anti romantis, untuk menyuguhkan empat belas kisah yang terasa getir kepada pembaca. Salah satu cerita pendeknya yang menjadi judul buku, Waktu untuk Tidak Menikah (hal. 76-91), menurut saya adalah yang paling terasa emosional.
Dikisahkan, Nursri perempuan jelang 28 tahun yang sebentar lagi mengakhiri masa lajang dengan Laksmo, kondektur bus antar provinsi yang pernah ditumpanginya menjelang lebaran. Mereka memutuskan menikah usai perkenalan singkat, karena merasa senasib, dan seumuran. Sama-sama merasa diburu untuk segera menikah, meskipun masih ingin berjuang memperbaiki nasib.
Sayangnya, Nursri belum selesai dengan dirinya sendiri. Ia yang sebelumnya menghabiskan hari-hari selama sekian tahun sebagai buruh pabrik di Timalayah, kota mega industri, ternyata menyimpan kekhawatiran terhadap pernikahan. Selapis demi selapis pembaca diberitahu oleh penulis, apa saja isi pikiran Nursri yang menggerogoti di hari H yang mahapenting itu.
Ternyata selama ini ia menyimpan ingatan tentang ibunya, Komariah, yang menjadi korban KDRT bapaknya sendiri, tetapi memilih bertahan. Kemudian rahasia kelam Permana, kakak Nursri yang selama ini ia anggap lebih kebapakan ketimbang bapak kandung mereka. Lalu kisah cintanya yang kandas akibat diselingkuhi oleh kekasihnya, Yunus. Semuanya menyusup ke alam bawah sadar Nursri, menjelma keragu-raguan dan kecemasan akan keputusannya menikahi Laksmo.
Ketika ia sedang melerai gundah itulah datang dua kabar buruk berturut-turut. Yang pertama berasal dari Reni sahabat karibnya, yang merantau bersama suaminya ke luar pulau. Reni mengabari tragedi tiba-tiba yang merenggut keamanan dan kesejahteraan mereka di pulau itu. Ketakutan dan kesedihan sahabatnya itu begitu mengguncang hati Nursri.
Kabar kedua datang dari Bu Maryati, orang yang Nursri percayai mengasuh anak angkatnya Handaruna, bocah berumur tiga tahun, di Timalayah. Orang tersebut mengabari Nursri, bahwa anaknya masuk RS akibat terkena DB. Pada titik ini pertahanan Nursri runtuh. Ia yang sejak awal memang gamang, akhirnya menemukan keputusan dramatis. Walaupun untuk itu ia bakal merusak hubungannya dengan Komariah, serta Laksmo.
Jujur saja, usai membaca cerpen ini saya bisa memahami kegalauan Nursri. Mengingat latar belakang sosialnya, keputusan yang diambil masih terhitung logis (meskipun jika saya berada di posisinya saya yakin bakal mengambil jalan berbeda). Siapa yang sanggup menikah jika beban perasaan yang ditanggung tak tertahankan lagi? Andai saja ada seseorang yang bisa memberi Nursri pencerahan atas masalah yang dipendamnya.
Selain kisah Nursri, tiga belas cerpen lainnya pun mengangkat masalah perempuan yang mewakili beberapa latar belakang. Ada cerita Noni, mahasiswi yang menghilang misterius dari kos di kisah Denyut Merah, Kuning, Kelabu (hal. 1-12). Kisah Rahayu, janda yang jatuh miskin, lalu memilih berjualan pakaian di Pasar Beringharjo dan merasa cukup puas dengan hidupnya yang kini monoton, dalam cerpen Lantai Tiga Beringharjo (hal. 29-43).
Masih ada lagi kisah mengenaskan perempuan korban perkosaan di angkot hingga hamil, dalam cerpen Baru Menjadi Ibu (hal. 58-66). Karena amat terpukul, sang suami tega menceraikan si perempuan. Hingga akhirnya perempuan itu melahirkan sendirian di sebuah RS. Cerpen ini tidak berakhir bahagia.
Pada dasarnya sebuah cerita fiksi tidaklah sungguh-sungguh fiksi. Ia memuat potret nyata dalam kehidupan kita. Meskipun getir, pahit, itulah yang jamak terjadi. Kita tidak bisa mengharapkan fiksi membuai pembaca dari kekejaman realita. Namun, kita masih boleh berharap bahwa sesuram apapun akhir kisah para tokoh, pembaca dapat melanjutkan hidupnya dengan lebih tegar.
Buku kumpulan cerpen ini menawarkan perspektif seorang penulis perempuan mengenai isi pikiran perempuan, yang menjadi subyek maupun obyek cerita. Aman dibaca pembaca usia dewasa muda sebagai bahan perenungan, ataupun sekadar hiburan dari hiruk pikuk dunia. Sejumlah kekurangan yang saya temukan ada pada perkara salah ketik, serta kekurangsempurnaan kerja editing. Namun syukurlah itu tak mengurangi makna cerita.
Selamat membaca!
Identitas buku:
- Judul : Waktu untuk Tidak Menikah
- Penulis : Amanatia Junda
- Penerbit : Mojok
- Cetakan : Pertama, Januari 2019
- Tebal : viii + 178 halaman
- ISBN : 978-602-1318-76-8
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Puisi Pahlawan dan Tikus: Menyelami Kritik Sosial yang Sarat Spiritualitas
-
Review Agent Kim Reactivated: Aksi Brutal yang Dibalut Kisah Keluarga
-
Review Frankenstein: Kisah Tragis dan Ambisi Manusia yang Melawan Kematian
-
A Spoonful of the Sea, Tradisi Ulang Tahun Korea yang Menghangatkan Hati
-
Buku The Principles of Power: Seni Menguasai Pengaruh Secara Etis
Terkini
-
Gaji Manajer Kopdes Ditanggung APBN: Di Mana Letak Skala Prioritas Negara?
-
4 Gaya OOTD Y2K Chic ala Juun Hearts2Hearts, Manis tapi Tetap Edgy!
-
Belanja Auto Dicap Boros? Perempuan dan Dilema Nikmati Hasil Kerja Sendiri
-
7 HP RAM 8/256 GB Harga Rp2 Jutaan, Speknya Bikin Kaget!
-
Catat Tanggalnya! NCT 127 Bagikan Jadwal Teaser Album Terbaru 'BLINGY'