Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Kolase sampul buku Senyum Karyamin: Kumpulan Cerita Pendek (kiri) dan potret penulisnya, sastrawan Ahmad Tohari (kanan). (Gramedia Pustaka Utama/Senyum Karyamin)
Fairus Farizki

Belakangan ini saya mulai jenuh membaca buku tebal yang menyita banyak waktu. Saya akhirnya mencoba mencari bacaan yang lebih ringkas, tetapi tetap berbobot untuk direnungkan. Pilihan saya jatuh pada sebuah cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul "Senyum Karyamin". Cerita pendek yang juga menjadi judul kumpulan cerpennya ini ternyata menyimpan persoalan sosial yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tokoh utamanya, Karyamin, adalah seorang kuli angkut batu yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Setiap hari ia harus melakukan pekerjaan fisik yang berat, padahal penghasilannya belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Rasa lapar, lelah, dan himpitan ekonomi pun sudah menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapinya.

Kendati demikian, ada satu hal yang membuat tokoh ini menarik. Di tengah keadaan yang serba sulit, Karyamin berkali-kali tersenyum. Ekspresi itu terasa ganjil jika melihat beban hidup yang tengah ditanggungnya. Ahmad Tohari tampaknya sengaja menghadirkan senyuman tersebut untuk menunjukkan sisi kehidupan yang lebih kompleks daripada sekadar kebahagiaan.

Hubungan antarmanusia di tengah keterbatasan juga menjadi poin penting dalam cerita ini. Interaksi Karyamin dengan Saidah, terutama saat perempuan itu menawarkan nasi pecel, memperlihatkan kepedulian yang tumbuh di antara sesama rakyat kecil. Mereka tetap saling membantu, meski kondisi ekonomi masing-masing sedang tidak baik-baik saja.

Adegan yang tampak sederhana itu justru menyimpan makna sosial yang mendalam. Keterbatasan ekonomi ternyata tidak menghilangkan rasa empati seseorang. Ahmad Tohari berhasil menggambarkan potret kehidupan masyarakat bawah lewat interaksi sehari-hari yang alami, tanpa harus membuat tokoh-tokohnya terlihat heroik secara berlebihan.

Kritik sosial dalam cerita ini semakin terasa saat Karyamin berhadapan dengan Pak Pamong. Ia dituntut membayar iuran untuk membantu kelaparan di Afrika, padahal dirinya sendiri sedang kesulitan untuk makan. Situasi ini menghadirkan ironi yang cukup getir; seseorang yang sedang kelaparan justru dibebani kewajiban moral untuk menolong orang lain di tempat yang jauh.

Persoalannya sebenarnya bukan pada penting atau tidaknya solidaritas kemanusiaan, itu hal lain. Kritik ini muncul karena tuntutan moral tersebut disampaikan tanpa melihat kondisi nyata si penerima tuntutan. Dalam situasi seperti ini, kemiskinan seolah belum cukup menjadi beban, karena orang kecil masih harus menghadapi penilaian sosial saat mereka tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut.

Di sinilah senyum Karyamin menjadi bagian paling menarik dari cerpen ini. Senyumnya bisa diartikan sebagai bentuk kepasrahan, rasa malu, atau cara menjaga martabat di tengah keterbatasan pilihan. Namun, di bagian akhir, tawanya saat berhadapan dengan Pak Pamong membuka ruang tafsir yang berbeda, seolah ada sesuatu yang menjungkirbalikkan kewajaran situasi penagihan tersebut.

Pembacaan ini sejalan dengan penelitian Selvi Triana Lestari dalam jurnal Mimesis (2025). Menggunakan perspektif Slavoj Zizek, keduanya melihat kepasrahan Karyamin sebagai sikap yang berpotensi menjadi bentuk perlawanan. Gelak tawanya di akhir cerita ditafsirkan sebagai tindakan yang mengusik tatanan yang ada, meskipun ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan secara langsung.

Bagi saya, kekuatan cerpen ini justru terletak pada ambiguitas tersebut. Senyum Karyamin tidak harus diartikan sebagai rasa optimis atau tanda bahwa ia baik-baik saja, karena ada kepedihan dan ketidakberdayaan di dalamnya. Akan tetapi, tawanya juga menyimpan pesan penolakan terhadap keadaan yang terus menyudutkannya.

Meski ditulis puluhan tahun lalu, persoalan dalam cerpen ini masih terasa dekat dengan masa kini. Kita masih sering melihat masyarakat bawah dinilai hanya dari kemampuan memenuhi tuntutan, tanpa dipahami kondisi nyata yang mereka hadapi. 

Melalui sosok Karyamin, Ahmad Tohari mengingatkan bahwa di balik kemiskinan, ada manusia yang memiliki martabat, perasaan, dan caranya sendiri untuk bertahan. Kadang-kadang, sebuah senyuman justru menyimpan kritik yang jauh lebih tajam daripada kata-kata.