Cerita ini diambil dari kisah nyata saat aku masih duduk di kelas 2 SMP. Saat itu seluruh siswa wajib mengikuti kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) Pramuka yang diadakan dalam bentuk perkemahan selama tiga hari dua malam di sebuah lapangan yang cukup luas.
Perkemahan hari pertama berjalan lancar. Kami memulai dengan persiapan dan pembangunan tenda. Tenda siswa dan siswi dipisah, tenda siswa berada di depan panggung, tenda siswi di sisi kanan, dan tenda panitia di sisi kiri. Susunannya membentuk huruf “U” dengan ruang kosong di tengah lapangan yang disiapkan untuk api unggun.
Kebetulan tenda kelasku berada di sebelah kanan paling ujung lapangan. Aku dan teman-teman dengan semangat menyiapkan segala keperluan tenda. Setelah selesai, aku coba berkeliling seorang diri melihat tenda-tenda di sekitar. Tidak ada yang aneh kecuali tenda orange yang tampak mencolok diantara tenda sekitarnya.
Hari kedua pun berjalan lancar. Beberapa panitia termasuk aku mulai sibuk mempersiapkan upacara api unggun. Aku mendapat tugas menjadi pembaca tata upacara. Sejak pagi hingga sore kami berlatih tanpa henti agar malam itu berjalan lancar dan menjadi kenangan berharga bagi semua peserta.
Malam pun tiba. Sekitar satu jam sebelum upacara api unggun suasana yang hening tiba-tiba berubah menjadi tegang karena satu teriakan yang berasal dari salah satu tenda siswi.
“ARGHHHHH! ARGH HHHH!”
Kami, para panitia sekitar dua puluh orang langsung berlari ke arah sumber suara. Setibanya di sana, kami mendapati seorang siswi menjerit histeris di dalam tenda, sementara teman-temannya berusaha menenangkannya. Itu adalah kejadian kesurupan pertama yang kami saksikan malam itu, pembuka dari serangkaian peristiwa di luar nalar yang akan terjadi.
Ketika kami sedang fokus membacakan ayat-ayat suci Al-Quran untuk menyadarkan siswi itu. Tiba-tiba muncul teriakan kedua, kali ini dari tenda orange.
“ARGHHHHH! ARGH HHHH!”
Kami pun terbagi menjadi beberapa kelompok: sebagian tetap di tenda pertama, sebagian menuju tenda oranye, dan sebagian lagi memanggil guru-guru. Seperti sebelumnya, siswi di tenda oranye juga kesurupan. Ia menjerit, mengeram, lalu menangis. Kami membaca doa-doa hingga guru datang dan memerintahkan kami memindahkan para siswi itu ke tenda panitia.
Namun, di tengah perjalanan menuju tenda panitia, kami semakin dibuat panik karena suara amukan, teriakan, dan tangisan itu semakin terdengar dari berbagai arah. Kami diminta untuk tetap tenang oleh guru-guru dan menenangkan teman-teman yang lain. Kami mulai menyadari, itu bukan kesurupan biasa melainkan kesurupan masal.
Kami tertegun melihat tenda panitia ternyata sudah penuh dengan teman yang kesurupan ada sekitar lima sampai sepuluh orang, saking kacaunya peristiwa waktu itu, pihak sekolah sampai meminta bantuan warga sekitar. Mereka datang membawa obat-obatan alami seperti kunyit dan bawang putih untuk membantu memulihkan para siswa. Perlahan, mereka pun mulai sadar satu per satu.
Aku yang masih kalut khawatir dengan keadaan teman-teman sekelasku. Ditemani seorang teman, aku menuju tenda kelas dengan hanya bermodalkan senter. Lampu di area tenda siswi sengaja dimatikan katanya, makhluk halus tidak suka dengan cahaya terang. Aku memanggil pelan.
“Woy, siapa yang masih di dalam?”
Tak ada jawaban. Aku melangkah mendekat ke pintu tenda, tapi temanku menahanku.“Eh, kayaknya udah nggak ada orang deh. Mereka mungkin udah dipindahin sama guru-guru,” katanya sambil menarik tanganku.
Aku mengangguk, namun tiba-tiba terdengar suara lirih dari dalam tenda, seperti seseorang sedang komat-kamit. Suaranya makin lama makin jelas, serak, dan berat… jelas bukan suara teman-temanku. Lebih mirip suara laki-laki dewasa. Tanpa pikir panjang, aku dan temanku langsung berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu.
Apakah upacara api unggun batal? Tidak. Kami masih ingin menjadikan malam mencekam itu tetap berkesan. Atas izin guru-guru dan para siswa yang masih “sehat”, upacara api unggun akhirnya dimulai. Aku membacakan susunan acara dengan lantang, meski sesekali melirik ke arah para petugas upacara yang tampak tegang. Malam itu terasa dingin, dan entah mengapa, langit yang semula cerah tiba-tiba mendung.
Puncak acara tiba saat pembacaan Dasa Darma Pramuka. Sepuluh panitia bergantian membacakan tiap poin sambil membawa lilin untuk menyalakan kayu api unggun. Namun, anehnya, tak satu pun lilin berhasil membakar kayu itu, seolah kayunya menjadi keras seperti besi.
Aku terpaku, menatap sekeliling, bertanya-tanya apa penyebabnya. Mungkin karena cuaca lembap, atau karena hal lain yang tak kasat mata? Aku mencoba berpikir positif. Tapi sesaat kemudian, rintik hujan mulai turun. Upacara api unggun gagal. Kami hanya bisa menangis, lelah dan kecewa setelah segala usaha yang terasa sia-sia.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Aurelie Moeremans Buka Pengalaman Grooming di Usia Remaja Lewat Buku Memoar
-
Akhir yang Tak Kita Harapkan
-
Menuju 5 Tahun, Kouji Miura Sebut Akhir Cerita Manga Blue Box Kian Dekat
-
Dilatih John Herdman, Filosofi Permainan Timnas Indonesia Bakal Berubah?
-
Profil Milo Manheim, Pemeran Flynn Rider di Tangled Live Action