Bekerja di toko Cik Zhao Fei itu mempunyai dua peluang. Satu normal nan kondusif, dan dua ketemu hantu. Namun nggak jarang, aku kembali mempertanyakan peluang normalku yang menjadi abnormal, ketika aku pulang dari toko.
Kisah ini terjadi saat aku mengambil lembur saat rekan kerjaku sedang izin libur. Bertepatan dengan malam minggu, yang membuat toko ramai sekali. Jadilah aku lembur hingga jam sebelas malam, sembari menunggu Cik Zhao Fei pulang dari arisan rutinan, dan Ko Liam tutup toko cabang.
“Lho, Mbak? Mama belum pulang ya?” tanya Ko Liam sambil mematikan mesin motor matic-nya.
“Belum, Ko,” jawabku sambil terus melayani pembeli. Ada yang belanja lampu, kabel bermeter-meter, hingga anak-anak yang membeli jajanan.
Ko Liam juga turun tangan. Dia membantu melayani beberapa pembeli yang sudah mengantre.
“Lho, sudah jam setengah sebelas? Mbak pulang saja nggak apa-apa. Besok harus masuk pagi lagi, kan?”
Aku tertawa meragukan. “Yakin, nggak apa-apa?”
Ko Liam menggaruk kepalanya. “Jam sebelas ya?”
Aku mengangguk sebelum kembali melayani pembeli yang baru datang. Menata kembali barang-barang yang berantakan, mengisi stok barang kosong di etalase dan stok minuman di kulkas, hingga menulis stok barang yang habis. Hingga tepat Jam sebelas malam, deru mobil Cik Zhao Fei terdengar. Beliau turun dengan tergesa.
“Lho, Fris. Kok belum pulang?” tanya Cik Zhao Fei sebelum melotot mendapati anaknya. “Kamu sudah tutup toko kan? Kok Friska nggak disuruh pulang?!”
“Tadi Mbak Friska mau nungguin Mama dulu,” kilah Ko Liam.
Aku tertawa getir mendengar Ko Liam bohong, sedangkan Cik Zhao Fei menggeleng. Beliau kemudian menyodorkan kantong kertas yang ternyata berisi snack ringan.
“Fris, sudah kamu pulang saja. Biar aku yang tutup toko nanti.”
“Baik, Cik.”
“Berani nggak, Fris?”
“Berani, Cik.”
Sekalipun jam sebelas malam, jalan raya antar provinsi ini nggak pernah ‘tidur’. Memang volume kendaraan menurun, tapi deru mesin terus terdengar. Terutama deru truk-truk ekspedisi besar antar wilayah yang kerap konvoi demi membelah jalanan yang menyepi.
Aku meluncur dengan motor bebek sambil menikmati hawa sejuk. Sambil sesekali berkhayal tentang mie instan campur telur, dan irisan cabai yang pedas. Pasti nikmat sekali.
“Waduh, alamat nggak enak.”
Keberanianku pupus saat sampai di perempatan arah ke rumah. Rasa takut kemudian menghampiri saat sadar bahwa aku harus melintasi kuburan tua yang sedari dulu kental rumornya. Jadilah, aku menelepon Bapak.
“Halo, Pak. Bisa jemput, nggak? Aku sampai di perempatan S.”
“Oke, tunggu disana.”
Beberapa menit kemudian, Bapak datang dengan ekspresi khawatir. Yah, sekalipun aku kerap pulang malam pas lembur begini, aku belum pernah minta Bapak menjemput sih.
“Kok malam sekali, Mbak?” tanya Bapak. “Tokonya ramai?”
“Iya, Pak.”
“Yawes, kamu duluan saja. Bapak ngikut di belakangmu.”
Dengan mantap, aku melajukan motor di tengah kesenyapan malam. Melintasi pemukiman penduduk yang sudah tertidur, nyaris nggak ada yang terjaga. Hingga kulihat gerbang kuburan tua, dengan sorot lampu temaram di atasnya.
Memang sih, kuburan tua itu memiliki penerangan di beberapa sudut sehingga bisa dikata nggak terlalu gelap. Sementara itu, di seberangnya terdapat pabrik produksi triplek skala sedang alias nggak terlalu besar, yang terus beroperasi. Suara mesinnya masih terdengar. Aku bahkan bisa melihat kehadiran truk besar pengangkut bahan baku, dan beberapa unit forklift yang sibuk dari gerbang pabrik yang terbuks setengah.
Namun, tetap saja bagiku ini mencekam. Apalagi di kanan kiri kuburan adalah area persawahan.
Seketika...
“Babi! Jaran kore! Jarane mlayu!” pekikku seraya mengerem paksa motor.
Aku nyaris mengabsen seluruh hewan berkaki empat!
Meski jarakku dengan gerbang kuburan masih sekitar 25 meteran, aku melihat dengan jelas ada bayangan yang keluar dari area kuburan dan menyebrang. Posturnya mirip lelaki bertubuh tinggi. Dengan etika menyeberang jalan, yakni toleh kanan dan kiri. Namun, tanpa eksistensi duniawi alias nggak ada wujud manusianya.
Bayangan tadi tampak masuk ke arah pabrik triplek, dan menghilang kala tersorot cahaya lampunya.
“Kenapa sih aku selalu ketemu begituan?!” makiku. “Kenapa aku nggak ketemu Cha Eun Woo saja?!”
Dari belakang, Bapak turut berhenti. “Lho, ayo pulang. Ini kok malah berhenti?”
“Bapak nggak lihat tadi ada bayangan keluar dari kuburan terus nyebrang jalan?”
Bapak menggeleng. “Nggak ada. Paling kamu yang ngantuk makanya salah lihat.”
“Betulan, Pak!”
“Halah!” Bapak berdecak. “Sudah, ayo pulang. Sudah malam begini malah berhenti di dekat kuburan.”
Setelah perdebatan dengan Bapak disertai rengekan ngeri, kami pun sepakat untuk mengendarai motor beriringan sampai di rumah. Namun, aku melihatnya dengan jelas.
Memang ada bayangan tak bertuan, yang keluar dari area kuburan tua nan wingit itu sebelum menyeberang jalan dan hilang.
Wuss….
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Oppo Find X9 Ultra akan Rilis Maret 2026, Usung Kamera Utama Sony Lytia 901 Resolusi 200 MP
-
John Herdman Mainkan Gaya Kick and Rush, 2 Pemain Ini Berpotensi Dicoret dari Timnas Indonesia!
-
Disney Umumkan Pemain Rapunzel dan Flynn Rider di Tangled Live Action
-
Musim Bisu
-
Orde Baru dan Kembalinya Katamso