Elias tidak pernah bisa menggambar mata. Baginya, mata adalah lubang hitam yang siap menyedot kewarasan siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama. Di studionya yang berdebu di pinggiran kota, ribuan sketsa wajah tanpa mata berserakan di lantai, menempel di langit-langit, dan berbisik dalam diam.
Ada yang hanya berupa garis rahang yang tegas, hidung yang melengkung sempurna, atau bibir yang sedikit terbuka seolah hendak membisikkan rahasia yang tak sampai. Namun, di posisi indra penglihatan itu, Elias hanya membiarkannya kosong, datar, putih, dan hampa.
Semua bermula sebagai gaya artistik yang diyakininya sebagai "estetika kehampaan". Gaya yang dipikirkannya berbulan-bulan. Sesuatu yang membuatnya berbeda dengan pelukis lainnya. Determinasi.
Suatu sore, Elias berjalan menuju kedai kopi langganannya. Di sana, ia melihatnya. Seorang pria berdiri di antrean terdepan. Pria itu mengenakan syal abu-abu dan jaket kulit yang sangat identik dengan sketsa yang Elias selesaikan tadi malam. Elias terpaku.
Pria itu menoleh. Jantung Elias seolah diremas tangan tak terlihat. Pria itu tidak memiliki mata. Di tempat yang seharusnya ada bola mata, hanya ada kulit yang rata dan mulus. Namun, ia mengenakan kacamata hitam, seolah-olah ia sadar akan kekurangannya dan berusaha berbaur. Elias mencoba bangun jika ini memang mimpi. Namun, aroma kopi yang hangus dan rasa dingin dari pendingin ruangan terasa terlalu tajam untuk sebuah bunga tidur.
"Hanya halusinasi," gumam Elias.
Seorang wanita dengan payung merah, mirip dengan sketsa nomor 402. Wanita itu berdiri di lampu merah. Saat angin meniup rambutnya, Elias melihat dahi wanita itu menyatu dengan pipinya dalam satu sapuan kulit yang licin.
Orang-orang berlalu lalang dengan normal. Namun, semakin banyak orang tanpa wajah bermunculan. Mereka bercakap-cakap, tertawa, dan membaca koran, meskipun mata mereka hanyalah kanvas kosong yang hampa.
Elias kalut, namun setiap gang yang dilewatinya membuatnya kembali ke depan pintu apartemennya yang dicat hitam. Ia masuk dan mengunci pintu dengan tiga grendel. Di tengah ruangan, kanvas besar yang ia kerjakan selama sebulan terakhir terpampang. Lukisan itu adalah potret kerumunan orang di stasiun kereta api. Ada tiga puluh wajah di sana, dan semuanya tanpa mata.
Tiba-tiba, ruangan itu mulai berdenyut. Dinding-dinding apartemennya bergerak seirama dengan detak jantungnya yang tidak beraturan. Elias merasa seolah ia berada di dalam perut raksasa. Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke warna merah pekat, bermaksud memberikan mata pada setiap wajah itu agar mereka berhenti menghantuinya. Namun, setiap kali ujung kuasnya menyentuh kanvas, bulu kuas itu berubah menjadi rambut manusia yang rontok.
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu bukan berasal dari pintu, melainkan dari dalam dinding. Makin lama makin keras. Makin lama suaranya makin aneh, bahkan seperti suara kain yang digesek. Bergemuruh.
"Elias..." suara itu seperti gesekan kertas amplas. "Kami tidak bisa melihat keindahan yang kau bicarakan."
Dari balik bayang-bayang rak buku, sosok-sosok dari kanvas itu mulai merayap keluar. Mereka tidak melompat, melainkan mengalir seperti tinta yang tumpah. Sketsa-sketsa juga lepas dari kertasnya, membentuk figur tiga dimensi yang rapuh namun kuat. Mereka mengerumuni Elias dengan gerakan yang patah-patah, seperti film lama yang rusak.
Elias mencoba berteriak, tapi suaranya tertelan oleh keheningan yang pekat. Ia merasa seolah sedang tenggelam dalam kolam cat minyak. Apakah ini mimpi? Jika ya, mengapa rasa takut ini terasa begitu menggigit?
"Beri kami jendela, Pencipta," bisik pria bersyal abu-abu yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Pria itu memegang wajah Elias dengan tangan yang terasa seperti tekstur kertas kasar. Terasa sangat aneh, sampai Elias meraih cermin kecil di meja kerjanya, berharap melihat wajahnya sendiri akan menyentaknya bangun dari mimpi buruk ini.
Di dalam pantulan itu, mata Elias mulai terhapus. Bukan oleh penghapus, melainkan oleh pertumbuhan daging yang tidak wajar. Kelopak matanya mulai merapat, menyatu dengan permanen. Bulu matanya rontok satu per satu ke atas wastafel seperti jarum-jarum hitam.
Ia merasakan sensasi gatal yang luar biasa di bawah kulit wajahnya. Seolah-olah ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam, namun jalannya ditutup oleh lapisan kulit yang menebal. Kegelapan mulai merayap dari tepi penglihatannya.
Sedikit demi sedikit, dunia menghilang, digantikan oleh hitam yang absolut. Ia meraba wajahnya sendiri. Rata. Licin. Sempurna seperti sketsanya. Dalam kegelapan itu, Elias merasa tubuhnya diangkat, diseret masuk ke dalam sesuatu yang terasa seperti kain kasar. Ia merasakan dirinya menjadi tipis, menjadi dua dimensi, menjadi sekadar garis-garis hitam dan bayangan.
Keesokan paginya, matahari bersinar terang di luar apartemen. Polisi mendobrak pintu setelah tetangga melaporkan bau tiner yang menyengat dan suara jeritan yang tiba-tiba terputus. Ruangan itu kosong. Elias tidak ada di sana.
Hanya ada satu benda yang menarik perhatian mereka, sebuah kanvas besar di tengah ruangan. Di atas kanvas itu, tergambar sebuah kerumunan orang di stasiun. Di tengah kerumunan, berdiri seorang pria yang sangat mirip dengan Elias. Berbeda dengan sosok lainnya yang tanpa mata, pria di tengah itu memiliki mata yang sangat nyata. Bola matanya tampak basah dan seolah bergerak-gerak liar penuh ketakutan.
Dan di sekelilingnya, sosok-sosok hampa itu kini tampak memiliki senyum kecil di bibir mereka, bahkan ada yang tertawa sangat bahagia. Mereka tidak lagi buta, karena mereka kini memiliki satu pasang mata untuk digunakan bersama. Menatap.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Usung Permainan Intensitas Tinggi, Kepelatihan John Herdman Jadi Akhir Era Pemain Uzur di Timnas?
-
Novel With You: Tentang Pernikahan Dini dan Ujian Kesetiaan
-
Tak Perlu Tahunan, John Herdman Bisa Bawa Indonesia Juara Hanya dalam Hitungan Bulan!
-
4 Drama Korea Fantasi Dibintangi Lomon, Penuh Misteri dan Romansa
-
Kepada yang Terhormat Tuan Izrail