"Tadi nggak lihat ada dimar ublik (pelita) di jembatan?”
“Nggak. Bukannya tadi gelap?”
“Waduh!”
Zaman sekarang, kalau listrik padam di malam hari tentunya menyalakan lampu emergency, atau paling nggak ya lilin supaya terang. Kalau jaman dulu, sebelum ada listrik, orang-orang menggunakan dimar ublik alias pelita sederhana, dari botol kaca bekas minuman energi, minyak tanah, dan tali sumbu.
Ngomongin dimar ublik, aku jadi teringat suatu pengalaman unik nan seram. Di suatu malam saat berangkat beli bakso di dukuh S.
“Mau bakso, nggak?” tanya ibu sambil menenteng kunci motor. “Ayok ikut beli.”
“Oke!”
Siapa sih yang nggak mau seporsi bakso gratis? Apalagi kalau ibuku sendiri yang membelikan.
Ibu lantas menyerahkan dompetnya, dan segera menstater motor bebek, sebelum melaju kencang. Tadinya, kukira kami akan membeli bakso di salah satu kedai langganan, yang terdapat di desa D. Apalagi, jalanan disana sudah aspal halus, dan sudah menjadi jalan tembusan yang kerap dilewati truk ekspedisi besar. Pokoknya jalur ramai lah.
“Lho, ini nggak ke kedai biasanya?” tanyaku.
“Ini ada kedai baru di Dukuh S. Kata orang-orang enak. Jadi aku mau nyoba,” jawab beliau.
Waduh, perasaanku nggak enak!
Dukuh S sendiri adalah dusun tetangga dalam lingkup desa SB bersama dusun tempat tinggalku yaitu Dukuh B, dan beberapa dusun lainnya. Dukuh S dan Dukuh B sebetulnya hanya dipisahkan oleh sungai saja.
Sebetulnya ada beberapa jalan yang bisa ditempuh. Namun, jalan tercepat yang bisa diakses adalah via jembatan yang membentang di sebuah sungai, yang diapit lahan persawahan, dan terdapat area hutan kecil di selatan sungai. Masalahnya, kawasan itu kerap disebut dalam rumor dan gosip horor para penduduk.
Kalau mau menghindari kawasan jembatan itu, maka harus lewat jalan raya yang bisa dua hingga tiga kali lipat jaraknya.
“Kenapa nggak ke kedai biasanya sih, Buk?”
“Halah! Bilang saja kamu takut.”
Hei, siapa yang nggak takut melewati kawasan sepi nan gelap yang penuh cerita horor begitu?!
Mana aku sudah pernah dengar berbagai versi lagi. Entah ular jejadian sebesar pohon kelapa, perempuan bergaun merah penunggu jembatan, hingga suara-suara percakapan dalam bahasa yang asing dan aneh.
“Ibuk nggak takut girap-girap (nggak jenak tidur, karena ketakutan) toh?”
“Sekalian uji nyali kita. Siapa tahu nanti ketemu apa gitu.”
Jujur aku dan ibuku memang suka cerita-cerita mistis. Tapi aslinya aku penakut akut.
Aku mencoba cengengesan. “Kalau wujudnya cantik atau ganteng gak apa-apa. Kalau wajahnya hancur separo, gimana?”
Ibuk terkekeh dan justru menambah kecepatan laju motor.
Kami kemudian melewati satu mushola kecil, yang juga sebagai batas pemukiman. Setelahnya, hanya ada area persawahan yang gelap gulita. Jadilah kami mengandalkan sorot lampu motor.
“Kalau takut, merem saja,” ledek ibuk.
“Halah, siapa takut,” tantangku yang sudah menutup mata sejak tadi.
Aku heran pada Ibu yang kayak nggak kenal takut. Apa beliau nggak merasakan hawa dingin, sunyi, dan mencekam ini? Mana nggak ada satu orang pun yang lewat selain kami. Padahal masih jam tujuh kurang.
Aku yang menutup mata mulai merasakan motor yang melewati jembatan beton. Kupaksakan sebelah mataku terbuka, sebelum kurapatkan kembali. Sial! Yang tadi itu apa?!
Aku memilih bungkam, hingga kami tiba di kedai bakso yang dimaksud. Setelah mengantre, kami pun dilayani dan segera pulang. Nah, dalam perjalanan itulah, aku mengadu pada ibuku.
“Buk, tadi waktu berangkat, ibuk lihat apa di jembatan?”
“Nggak ada apa-apa.” Ibuk kemudian terkekeh. “Kamu lihat apa?”
Tanganku bergetar, bersamaan dengan bulu tengkuk meremang. “Tadi, di dinding jembatan sebelah barat, ada dimar ublik kecil.”
“Lho, bukannya tadi gelap?”
“Waduh. Tadi apaan ya, Buk?”
Ibu segera menambah kecepatan motor. Tadinya aku lega kalau-kalau rasa takut ibuku keluar. Jadi kami impas karena sama-sama takut.
Ternyata aku salah prediksi. Bukannya menambah kecepatan supaya segera sampai rumah, beliau justru ingin melihat nyala dimar ublik alias pelita yang kumaksud.
“Kamu tadi lihat ndek mana?” tanya Ibu bersemangat.
“Anu, ndek jembatan.” Aku kembali menutup mata kala kami mulai masuk area hutan kecil. “Udah langsung pulang saja!”
“Eh, jangan gitu. Siapa tahu yang kamu lihat tadi jimat!”
“Ya buat apa nyari jimat begituan? Mending percaya Tuhan saja!”
Ibu terdengar tertawa. “Gini lho, kalau yang tadi betulan jimat, biar kubuang ke sungai. Jadi nggak bakal ada orang yang nemu.”
Aku nggak ngerti logika model apa barusan. Yang jelas, Ibu malah memelankan laju motor di jembatan. Bahkan nyaris berhenti total. Aku segera tantrum. Hawa dingin mencekam dan merinding ini beneran nggak nyaman.
“Nggak ada apa-apa gitu, kok. Kamu nipu, ya?!”
“Ya kan tadi. Barangkali dia menghilang. Udah ayok pulang.”
Sejujurnya aku nggak tahu pasti apa yang kulihat malam itu. Namun, masih terekam jelas di ingatan, kalau wujudnya seperti dimar ublik alias pelita kecil. Nyalanya sedang, nggak terlalu terang, sewarna dengan api yang kecil nan lembut.
Meski beberapa kali mendengar opini orang mengenai kemungkinan benda itu adalah jimat, pusaka, atau tetek bengek apalah itu, aku nggak tertarik membahasnya atau mencarinya. Buat apa? Yang ada ngeri dan merinding sepanjang hari.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Malaysia Open 2026: Revans dari Tan/Thinaah, Ana/Trias ke Perempat Final
-
10 Tips Pendakian Gunung yang Aman: Panduan Lengkap bagi Pendaki
-
Seni Memikat Hati di Buku How to Win Friends & Influence People
-
4 Serum Kakadu Plum Kaya Vitamin C, Ampuh Atasi Kulit Kusam dan PIH
-
Manusia Silver, Vespa Tua, dan Hujan yang Menemani