Bimo Aria Fundrika | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar cerita misteri Napas di Belakang Leher (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Malam itu angin kencang. Aku pulang sendirian dari kantor jam sebelas lewat. Jalan kecil di belakang komplek perumahan sepi, daun-daun beterbangan. Lampu jalan cuma menyala satu, berkedip-kedip seperti mau mati. Sepatu kerjaku berderit di aspal kering, langkahku berat.

Aku berjalan cepat. Napasku membentuk uap putih di udara dingin. Tiba-tiba aku merasa ada yang mengikuti. Bukan langkah kaki—hanya hembusan napas. Hangat. Terlalu dekat. Tepat di belakang leherku.

Aku berhenti. Memutar badan. Kosong. Hanya angin dan bayanganku yang memanjang di bawah lampu. Aku tertawa kecil, menggeleng. Kelelahan, mungkin. Sudah tiga hari aku kurang tidur gara-gara deadline.

Aku lanjut jalan. Dua langkah kemudian, napas itu kembali. Lebih pelan. Lebih dalam. Seperti seseorang berdiri persis di belakangku, mulutnya hampir menyentuh kulit leher. Aku merinding sampai ke ujung jari. Aku mempercepat langkah. Napas itu ikut mempercepat.

Aku hampir lari sekarang. Sampai di gang sempit menuju rumah kontrakan. Gang itu gelap total, lampunya mati sejak dua minggu lalu. Aku berhenti di mulut gang, menarik napas dalam-dalam. Diam. Angin masih menderu, tapi aku mendengarnya jelas: hembusan pelan, teratur, hangat di tengkuk.

Aku berbalik perlahan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi aku merasakan kehadiran. Berat. Menekan dada. Aku mundur masuk ke gang. Punggungku menempel tembok dingin. Napas itu semakin dekat. Sekarang aku bisa merasakan kelembapan lidahnya hampir menyentuh kulitku setiap kali ia menghembus.

Aku berlari ke pintu kontrakan. Tangan gemetar membuka kunci. Masuk. Mengunci dua kali. Menggeser meja kecil menutup pintu. Napasku tersengal. Aku duduk di lantai, punggung menempel pintu. Diam. Menunggu.

Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tidak ada suara. Hanya angin menderu di luar jendela. Aku mulai tenang. Mungkin halusinasi. Aku bangun, menyalakan lampu kamar. Cahaya kuning redup. Aku melihat cermin kecil di dinding. Wajahku pucat, mata cekung.

Aku melepas kemeja basah keringat. Saat itulah aku melihatnya.

Di belakang leherku, ada bekas merah panjang. Seperti sidik jari yang ditekan kuat. Lima bekas. Masih hangat saat kusentuh. Jantungku berdegup kencang. Aku mematikan lampu. Gelap total.

Aku duduk di kasur, selimut sampai kepala. Napas sendiri terdengar terlalu keras. Lalu aku mendengarnya lagi. Pelan. Dari dalam selimut. Bukan dari luar. Dari belakang leherku sendiri.

Hembusan itu keluar dari mulutku. Tapi bukan milikku.

Aku membeku. Tidak berani bergerak. Napas itu semakin dalam, semakin lambat. Seperti sedang menikmati. Seperti sedang menunggu aku menyerah.

Aku menutup mulut dengan tangan. Napas itu tetap ada. Masih hangat. Masih dekat. Sekarang aku sadar: itu bukan napas orang lain.

Itu napas yang sudah lama tinggal di dalam tubuhku.

Aku menjerit. Tapi suara yang keluar bukan milikku. Suara serak, basah, seperti orang yang mati lemas bertahun-tahun. Aku meronta, menampar leher sendiri. Bekas merah itu melebar. Panas. Seperti ada yang menarik kulit dari dalam.

Aku lari ke kamar mandi. Menyalakan lampu. Cermin besar di atas wastafel. Aku melihat pantulan diriku. Mataku hitam pekat, tanpa putih. Mulutku terbuka lebar. Dari dalam tenggorokan, sesuatu bergerak. Lambat. Naik.

Aku menutup mulut. Terlambat.

Napas itu keluar lagi. Kali ini keras. Dingin. Bau tanah kering dan darah lama. Aku jatuh berlutut. Cermin retak sendiri. Pecahan jatuh ke lantai.

Aku tidak ingat berapa lama aku terduduk di sana. Ketika aku sadar, angin sudah reda. Cahaya pagi masuk lewat celah jendela. Aku bangun perlahan. Leherku sakit. Bekas merah hilang.

Aku mandi. Ganti baju. Berangkat kerja seperti biasa.

Di bus, aku duduk dekat jendela. Penumpang di belakangku batuk pelan. Aku menoleh. Tidak ada yang aneh. Tapi saat bus berhenti di lampu merah, aku merasakannya lagi.

Hembusan hangat menyentuh tengkukku.

Aku tersenyum tipis ke kaca jendela. Kali ini tak ada rasa takut.

Aku sudah paham.

Napas itu bukan pendatang.

Ia telah kembali ke rumahnya.

Di kantor, hari itu biasa saja. Rapat pagi, email menumpuk, kopi dingin di meja. Tapi setiap kali aku menoleh ke belakang, ruangan terasa lebih sempit. Kolega berlalu-lalang, tapi aku merasa ada yang berdiri tepat di punggungku. Tidak terlihat. Hanya hembusan itu. Hangat. Sabar.

Siang hari, aku ke toilet. Cermin panjang di sana. Aku menatap pantulanku. Mata masih normal. Leher bersih. Tapi saat aku membungkuk mencuci tangan, aku melihatnya di cermin: bayangan samar di belakangku. Bentuk manusia. Kepala miring, seperti sedang mengamati. Aku berbalik cepat. Kosong.

Pulang malam lagi. Angin sudah tenang. Jalanan sama sepi. Kali ini aku tidak buru-buru. Aku berjalan pelan, sengaja. Napas itu ikut. Lebih tenang sekarang. Seperti bernapas bersama. Sinkron.

Di kontrakan, aku tidak langsung tidur. Aku duduk di lantai, punggung ke dinding. Menunggu. Tak lama, hembusan itu datang lagi. Dari belakang leher. Kali ini aku tidak menutup mulut. Aku membiarkannya.

Aku berbisik pelan, “Kau siapa?”

Tidak ada jawaban. Hanya hembusan yang semakin dalam. Seperti sedang menghela napas lega.

Aku tersenyum. “Sudah lama kau di sini, ya?”

Hembusan itu berhenti sejenak. Lalu kembali, lebih lembut. Seperti anggukan.

Aku bangun, ke cermin kecil. Kali ini aku tidak takut melihat mata hitam itu lagi. Aku membuka mulut lebar. Dari tenggorokan, sesuatu bergerak naik. Bukan monster. Hanya napas. Napas yang dulu milik seseorang. Yang mati di gang ini bertahun lalu. Yang tak pernah benar-benar pergi.

Aku menutup mulut. Napas itu tetap di dalam. Hangat. Nyaman.

Besok pagi aku akan berangkat kerja lagi. Duduk di bus. Tersenyum ke kaca. Dan napas itu akan ikut bernapas bersamaku selamanya.