Penginapan Sumber Rejeki berdiri di pinggir kota kecil yang jarang dikunjungi wisatawan. Bangunannya tua, bercat putih kusam, dengan beberapa bagian dinding yang mulai mengelupas. Lorongnya panjang dan sempit, diterangi lampu kuning redup yang menggantung di langit-langit. Pada siang hari saja, tempat itu terasa sunyi, apalagi ketika malam tiba. Dari dua belas kamar yang tersedia, hanya satu kamar yang hampir selalu kosong, yaitu kamar nomor tujuh. Bukan karena ukurannya kecil atau fasilitasnya kurang, melainkan karena cerita aneh yang beredar dari mulut ke mulut dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Arman, seorang jurnalis lepas yang terbiasa menelusuri kisah-kisah pinggiran, datang ke kota itu dengan satu tujuan: mencari cerita yang tidak banyak orang berani mendekatinya. Ia sudah lama mendengar tentang penginapan tersebut, terutama tentang kamar nomor tujuh yang konon memiliki jam dinding yang selalu berhenti pada waktu yang sama, tepat pukul 23.47. Jam itu sudah berkali-kali diganti, bahkan pernah dibuang, tetapi keesokan harinya selalu muncul kembali di tempat semula.
Bagi Arman, cerita semacam itu bukan sekadar rumor. Ia percaya bahwa setiap mitos pasti memiliki akar peristiwa nyata. Maka, tanpa ragu, ia mendatangi Penginapan Sumber Rejeki dan meminta kamar nomor tujuh. Penjaga penginapan, seorang pria tua bernama Pak Sastro, tampak terkejut mendengar permintaan itu. Tangannya berhenti saat mencatat buku tamu.
“Tidak ada kamar lain yang Bapak inginkan?” tanya Pak Sastro pelan, seolah takut suaranya memantul di lorong.
“Saya justru ingin kamar nomor tujuh,” jawab Arman mantap, sambil menatap lurus wajah pria tua itu.
Pak Sastro terdiam beberapa saat. Wajahnya menunjukkan keraguan yang dalam, tetapi akhirnya ia menyerahkan kunci kamar tersebut tanpa banyak bicara. Tatapannya menyiratkan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan. Arman membawa kuncinya dan berjalan menyusuri lorong hingga tiba di ujung, tempat kamar nomor tujuh berada.
Begitu pintu dibuka, hawa dingin langsung menyergap. Kamar itu tampak biasa saja: ranjang rapi, meja kecil, kursi kayu, dan sebuah jam dinding tua berwarna cokelat yang tergantung di dinding. Jarum jam masih bergerak normal. Namun entah mengapa, Arman merasa seolah ruangan itu menyimpan sesuatu yang lama terpendam.
Malam pertama, Arman sengaja tidak tidur. Ia menyiapkan buku catatan dan perekam suara. Detak jam terdengar jelas di tengah keheningan. Setiap detik terasa lebih panjang. Hingga akhirnya, tepat saat jarum panjang menyentuh angka dua belas dan jarum pendek mendekati dua belas, jam menunjukkan pukul 23.47. Seketika, suara detak berhenti. Jarum jam membeku.
Arman berdiri dan mendekati jam tersebut. Ia mengganti baterai, menggoyangkannya, bahkan memukulnya perlahan. Namun jam itu tetap diam. Bersamaan dengan itu, udara di dalam kamar terasa berat. Napas Arman menjadi pendek, seolah ada tekanan yang tidak terlihat.
Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Arman menahan napas. Ketukan pelan terdengar, disusul bisikan lirih yang hampir tidak bisa dipahami.
“Waktuku… berhenti di sini…”
Dengan tangan gemetar, Arman membuka pintu. Lorong itu kosong. Tidak ada siapa pun. Saat ia kembali ke dalam kamar, jam dinding itu tiba-tiba berdetak kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Keesokan paginya, Arman menemui Pak Sastro dan menceritakan kejadian tersebut. Pak Sastro mendengarkan dengan wajah muram, lalu menghela napas panjang.
“Sudah bertahun-tahun saya menjaga tempat ini,” katanya. “Dulu, kamar nomor tujuh ditempati oleh seorang pria bernama Surya. Ia pendiam dan selalu membawa jam dinding ke mana pun ia pergi. Pada suatu malam, ia ditemukan meninggal sendirian di kamar itu, tepat pukul 23.47.”
Sejak saat itu, tidak ada jam yang bisa berjalan normal di kamar tersebut. Arman terdiam, mencatat setiap kata. Malam kedua, ia kembali ke kamar nomor tujuh. Kali ini, ia tidak mencoba melawan rasa takutnya. Saat jam kembali berhenti di pukul 23.47, Arman duduk diam. Ia mendengar napas berat, suara kursi bergeser, dan langkah kaki di dalam kamar. Ketika ia membuka mata, sosok bayangan berdiri di sudut ruangan. Wajahnya samar, tetapi sorot matanya penuh kesedihan.
“Aku menunggu seseorang untuk mengetahui ceritaku,” kata bayangan itu pelan. “Aku takut waktu berlalu, tetapi aku lebih takut dilupakan.”
“Aku akan menuliskan ceritamu,” jawab Arman dengan suara bergetar.
Bayangan itu tersenyum tipis, lalu menghilang perlahan. Jam dinding kembali berdetak, kali ini tanpa berhenti. Keesokan harinya, Arman meninggalkan penginapan. Sebelum pergi, ia menoleh ke lorong panjang itu. Kamar nomor tujuh kini terasa biasa saja, seolah beban waktu telah dilepaskan.
Sejak hari itu, kamar nomor tujuh tidak lagi dihindari tamu. Namun bagi Arman, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua misteri ingin ditakuti. Beberapa hanya ingin didengar, agar waktu bisa kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Sinopsis Loving Strangers, Drama China Terbaru Mark Chao di Youku
-
India Open 2026: Kemenangan Jojo Diwarnai Dugaan Kecurangan Lawan, Ada Apa?
-
Evolusi Gaya Hidup Gen Z dan Sinyal Transisi Meninggalkan Minuman Beralkohol
-
Menyempitnya Ruang Hijau dan Kota yang Kehabisan Napas
-
Film Unexpected Family: Suguhkan Perjalanan Emosi Penuh Tawa dan Air Mata