Banyak orang percaya bahwa anak kecil memiliki kepekaan yang belum tentu dimiliki oleh orang dewasa. Mereka belum dipenuhi prasangka, belum terlalu dibatasi logika, dan sering kali berkata jujur tanpa berpikir panjang. Namun, bagaimana jika kejujuran itu justru mengungkap sesuatu yang tidak mampu kita lihat?
Kisah ini bermula dari sebuah keluarga kecil yang tinggal di pinggiran kota. Rumah mereka biasa saja, tidak ada yang tampak aneh. Tidak pernah ada cerita angker, tidak ada riwayat kejadian mistis, dan lingkungan sekitar pun terbilang tenang. Sampai suatu hari, anak mereka yang berusia lima tahun mulai menunjukkan perilaku yang membuat orang tuanya gelisah.
Awalnya hanya hal kecil. Sang anak sering menunjuk ke sudut ruangan sambil berkata pelan, “Ada orang di sana.” Orang tuanya mengira itu hanya imajinasi anak-anak. Mereka tertawa kecil dan mengalihkan perhatian sang anak dengan mainan atau camilan. Namun, kejadian itu terus berulang.
Hal yang membuat situasinya semakin aneh, sang anak tidak terlihat takut. Justru sebaliknya, ia tampak tenang, bahkan kadang tersenyum seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang yang tak kasatmata. Ketika ditanya sedang berbicara dengan siapa, jawabannya selalu sama, “Dengan yang berdiri di situ.”
Masalahnya, di situ tidak ada siapa-siapa.
Suatu malam, sang ibu terbangun karena mendengar anaknya tertawa kecil dari kamar. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Saat didatangi, sang anak duduk di atas kasur sambil menatap ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit. Ia berkata dengan santai, “Dia datang lagi.”
Perasaan tidak enak langsung muncul. Sang ibu mencoba menenangkan diri dan bertanya dengan suara pelan, “Siapa yang datang?”
Anak itu menjawab, “Yang pakai baju putih. Namun, mukanya sedih.”
Jawaban itu membuat sang ibu merinding. Tidak ada siapa pun di depan pintu. Lampu lorong menyala, rumah dalam keadaan terkunci, dan semua anggota keluarga berada di dalam rumah. Namun, anak itu bersikeras bahwa “orang tersebut” benar-benar ada.
Keesokan harinya, sang ayah mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya diabaikan. Pintu yang kadang terbuka sendiri, udara dingin di sudut rumah tertentu, dan jam dinding yang sering berhenti tepat pada waktu yang sama setiap malam. Semua terlihat sepele, tetapi jika dikumpulkan, terasa janggal.
Hal yang paling membuat mereka bingung adalah satu hal: sang anak selalu menunjuk ke arah yang sama, yakni sudut ruang tamu dekat lemari tua yang jarang dibuka. Ketika ditanya apa yang dilihatnya di sana, anak itu menjawab dengan kalimat sederhana namun mengganggu pikiran, “Dia tidak bisa pergi.”
Orang dewasa mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin itu hanya imajinasi, pengaruh tontonan, atau fase perkembangan anak. Namun, mereka lupa satu hal: anak itu belum pernah menonton film horor, belum pernah mendengar cerita mistis, dan tidak pernah diajak berbicara soal hal-hal gaib.
Seorang tetangga yang sudah lama tinggal di daerah tersebut akhirnya bercerita. Dahulu, sebelum rumah itu direnovasi, ada seorang penghuni lama yang meninggal secara mendadak. Kejadiannya sudah puluhan tahun lalu dan jarang dibahas karena dianggap masa lalu. Namun, lokasi kejadian persis berada di area yang selalu ditunjuk sang anak.
Sejak mengetahui cerita itu, orang tua sang anak mulai merasa campur aduk. Antara percaya dan tidak, antara takut dan ragu. Mereka tidak ingin menanamkan ketakutan pada anak, tetapi juga tidak bisa mengabaikan semua tanda yang ada.
Menariknya, seiring waktu berjalan, sang anak perlahan berhenti “melihat”. Ia tidak lagi menunjuk sudut ruangan itu, tidak lagi berbicara sendiri di malam hari. Ketika ditanya ke mana “orang berbaju putih” itu pergi, ia hanya menjawab singkat, “Sudah tidak ada.”
Apakah karena anak itu mulai tumbuh dan kepekaannya memudar? Ataukah karena sesuatu yang “tidak terlihat” itu akhirnya benar-benar pergi?
Tidak ada jawaban pasti. Yang jelas, kisah seperti ini tidak hanya terjadi sekali. Banyak orang dewasa yang mengaku mengalami hal serupa saat kecil, melihat sesuatu yang kini tidak lagi bisa mereka jelaskan. Seiring dengan bertambahnya usia, logika mengambil alih dan dunia menjadi lebih sempit daripada sebelumnya.
Mungkin, ada hal-hal yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang masih polos. Atau mungkin, kita sebagai orang dewasa sudah terlalu sibuk dengan dunia nyata, sampai lupa bahwa ada misteri yang belum tentu bisa dijelaskan dengan akal sehat.
Menurut kamu, apakah anak kecil benar-benar bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat, atau semua ini hanyalah permainan pikiran yang belum tercemar logika?
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Profil Aurelie Moeremans, Aktris Multitalenta di Balik Buku Broken Strings
-
Bayar Pajak yang Dipersulit: Masalah Sistemik Samsat yang Tak Kunjung Usai
-
Drama China A River Runs Through It: Cinta yang Setia Berada di Dekat
-
Bedah Buku Gajah Mada: Riwayat Hidup Mahapatih Terhebat dalam Sejarah Majapahit
-
Halaman 147 dan Selotip Transparan