Bimo Aria Fundrika | Gita Fetty Utami
Ilustrasi Tarian Darah dari Rawa (Nano Banana/Gemini AI)
Gita Fetty Utami

Pontianak, 1989

Suatu pagi tanpa sengaja aku melihat makhluk itu untuk pertama kalinya. Waktu itu aku bermaksud menumpahkan sisa susu jatah sarapanku ke kolong rumah kami. Lalu mataku menangkap sesuatu yang berwarna merah cerah, mengambang di genangan air rawa. Bentuknya mengingatkanku pada sebutir kapsul. Aku lupa dengan niat semula. Sebaliknya aku malah memanggil ibu dan menunjukkan penemuanku. 

"Oh, itu lintah," kata Ibu. 

Kemudian ibu menerangkan perihal mengerikan lainnya. Lintah itu suka menempel di kulit orang lalu menghisap darahnya. Aku ternganga takjub. Lalu seolah-olah membaca pikiranku, ibu memperingatkan agar aku tidak coba-coba turun ke tanah becek di bawah rumah kami. Kecuali aku ingin darahku dihisap oleh lintah sampai habis! Aku bergidik, sekaligus penasaran. 

Setelah penemuan itu, aku mencari informasi lebih lanjut dari guru di sekolah. Rupanya hewan penghisap darah tersebut ada yang berhabitat di rawa. Dan kebetulan, rumah kami berdiri di atas rawa gambut, dikelilingi pepohonan serta semak belukar lumayan rapat. Suatu kondisi yang memang menjadi favorit para lintah. 

Terbayang kembali di benakku warna tubuh makhluk itu. Mirip sekali dengan warna darahku. Seperti apa, ya, rasanya menyentuh lintah? Aku ingin mencari tahu. Maka beberapa waktu kemudian, tepatnya di sore hari kala libur mengaji di surau, kuputuskan menjalankan sebuah aksi. 

Pertama-tama aku menyauk seekor lintah dari genangan air gambut, menggunakan tutup pulpen warna hitam. Lintah itu kubaringkan hati-hati di atas kayu jembatan. Selanjutnya, aku tengkurap agar bisa mengamati lebih dekat. Tak kusangka, tubuh lintah begitu tipis. Mirip pita rambut. 

Aku mengamati hewan itu. Ah, dia mengkerut! Pasti karena tempatnya kering. Kemudian aku meludah tepat ke atas tubuhnya. Lintah itu terlihat segar kembali berkat air yang menggenangi, meskipun hanya sedikit.  

Setelah puas mengamati, aku ingin melakukan hal yang lebih jauh. Kali ini tubuhnya kutusuk dan kuiris-iris menggunakan bagian runcing di tutup pulpen tadi. Badannya terburai, mirip darah! Aku begitu bersemangat hingga tak menyadari kehadiran ibu di belakangku.

“Ape kau buat, tu? Jangan berani-beraninye!” Ibuku marah sekali. Aku diomelinya habis-habisan. Berakhirlah sudah kesenanganku.  

**

Malamnya, sekira jam 9 seperti biasa aku beranjak ke kamar tidur. Di rumah kecil kami hanya ada satu kamar tidur untuk aku, adikku Dimas, ayah, dan ibu. Kasur lantai untukku dan Dimas, dipan untuk ayah dan ibu. 

Tak seperti biasa, kali ini mataku sulit terpejam. Rasanya gelisah tanpa sebab. Ayah telah memadamkan lampu ruang tengah. Aku memandang kegelapan di luar kamar melalui korden putih. Mendadak, aku melihat sosok-sosok menyeramkan muncul di tirai itu! Kepala mereka bertanduk, mulutnya menyeringai menampakkan gigi-gigi taring, dan mereka memelototiku. Aku memekik ketakutan. 

 Sontak Ayah dan Ibu terbangun kaget. Mereka memburuku dengan pertanyaan cemas. Sedangkan aku tak mampu menjelaskan, selain menunjuk-nunjuk ngeri ke arah tirai kamar. Ayah langsung mendekat ke arah yang kutunjuk. Namun Ayah tak melihat sosok-sosok tadi. Sebab begitu Ayah mendekat, mereka langsung menghilang. 

Sosok-sosok tersebut muncul lagi begitu Ayah membalik badan menghadapku. Aku pun kembali menjerit-jerit. Karena penasaran Ayah lalu menyalakan lampu ruang tengah, lalu memeriksa setiap sudut rumah. Tak lama Ayah kembali dengan hasil nihil. Kemudian Ayah dan Ibu menyuruhku kembali tidur. Tetapi aku tetap ketakutan. Akhirnya Ibu mengusulkan agar aku tidur di dipan untuk semalam ini. 

Ibu terkejut kala menyentuh dahiku. "Yah, badan Mita demam," katanya khawatir. "Ibu nak ambil kompres dulu, ye?"

Aku menggeleng cemas, "Jangan pergi, Bu." 

Akhirnya Ayah menyarankan agar aku tidur diapit oleh kedua orang tuaku. Ibu lalu memelukku dengan perasaan khawatir. Setelah itu Ibu mengambil Al-Quran dan membaca dengan suara keras. Ayah menenangkanku sampai tangisku mereda. 

Beberapa saat berlalu, suasana menjadi tenang. Ayah dan ibu merebahkan badan lalu tertidur. Namun mataku tetap menolak terpejam. Aku takut sosok-sosok menyeramkan itu datang lagi. Aku lalu meringkuk, tak berani memandang ke arah pintu, dinding, maupun langit-langit. 

Saat itu tanpa sengaja mataku menangkap sebuah gerakan di lemari nakas yang menempel pada dipan. I-itu lintah sedang merayap! Seketika aku menjerit!

Ibu tergeragap dan merangkulku. Ayah ikut terbangun. Kali ini kedua orang tuaku bisa melihat penampakan lintah itu. Makhluk tersebut merayap tersendat-sendat di alas nakas yang berwarna putih. Aku jamin, siapa pun yang ikut menyaksikan pasti akan sama-sama terpaku ngeri. 

Gerakan lintah mulai melambat, makin pelan, dan akhirnya berhenti sebelum jatuh ke kasur. Makhluk itu meninggalkan jejak darah kering. Ayah menghentakkan napasnya. Kami ikut menghembuskan napas lega.

 Sekonyong-konyong ibu mengkaitkan kejadian malam ini dengan kelakuanku tadi sore. Menurut Ibu, teman-teman lintah tersebut merasa tak terima atas nasib kawan mereka. Sehingga mereka menuntut balas padaku. 

Aku merinding. Benarkah yang dikatakan oleh Ibu? Kalau begitu besok aku akan meminta maaf pada para lintah di kolong rumah. Ayah menepuk-nepuk kepalaku. Tak terasa sudah lewat tengah malam. Syukurlah, tak ada lagi kejadian ganjil hingga fajar datang. (*)

Cilacap, 180326