Hayuning Ratri Hapsari | Gita Fetty Utami
Ketukan di Tengah Malam (ChatGPT/AI)
Gita Fetty Utami

Detak jarum jam bergulir ke angka 20.30. Fina kembali menguap lebar. Air matanya sampai menitik. Ia mengusap sudut matanya yang berair. Mulutnya mengeluh gusar sekaligus keheranan. Tak biasanya ia merasa semengantuk ini. Padahal ia berencana menyelesaikan artikel opininya malam ini juga. Perempuan beralis tebal ini melirik Toni, sang suami. Lelakinya duduk di kursi berbantal empuk dekat rak buku, masih menekuri sebuah buku tebal. 

Di luar terdengar suara angin menabrak pohon alpukat di halaman rumah, lalu menerobos masuk ke dalam lewat lubang angin. Fina menggigil karenanya. Akhirnya ia menyerah, dan memadamkan notebook. 

“Mas, aku tidur duluan, ya?" 

Toni mengangkat matanya dari buku. "Lha, nggak jadi ngetik?" Istrinya menggeleng malu-malu. 

"Ya, sana. Kalau emang udah ngantuk jangan dipaksa kerja," sahut Toni lembut. 

Fina lekas masuk ke kamar untuk bergelung di samping Nora, putri mereka. 

Angin semakin menderu. Tak lama terdengar suara cukup keras dari atap rumah. Toni tertegun mendengarnya. Ia menduga ada paku yang terlepas, sehingga kini selembar seng mengepak-ngepak tertiup angin. 

"Besok tampaknya aku harus memanggil Pak Eko buat naik ke atap," gumam lelaki tersebut.  

Kemudian ia menggeliat di kursi, melerai penat. Matanya melirik ke arah jam dinding. Pukul 21.30. Sejenak ia terperanjat menyadari waktu cepat berlalu. Rasa kantuk mulai menyergap membuat Toni menyudahi bacaannya. 

Ia beranjak dari tempatnya duduk, hendak memastikan pintu dan jendela rumah telah terkunci. Sejenak Toni mengintip jalanan depan rumah dari balik tirai jendela. Sepi, hening.

Setelah itu, ia memasang telinga di depan pintu kamar Bu Suji, ibunya. Samar terdengar suara dengkur halus dari dalam. Ia menghela napas lega. Sesudah memastikan semuanya aman, barulah ia menyusul anak dan istrinya ke pulau kapuk. 

**

Malam telah tergelincir dari puncak. Hujan deras turun meninabobokan orang-orang. 

Fina tersentak bangun. Sejenak ia gelagapan akibat disorientasi waktu. Lamat-lamat telinganya menangkap suara ketukan yang berirama. Mula-mula pelan, lalu menguat. Asalnya dari kaca jendela ruang tamu. Kesadaran ini membuat perempuan ini tercekat ngeri.

"Mas! Mas! Bangun! Ada yang mengetuk jendela kaca kita!" Didorong oleh rasa panik, ia mengguncang-guncang badan suaminya.

Toni terbangun dengan gusar. Namun rasa gusar segera berganti waspada begitu ia tahu sumber kepanikan istrinya. Apalagi setelah ia sendiri mendengar ketukan nyaring itu.

"Kamu di sini, jagain Nora," tegasnya.

Toni melangkah hati-hati menuju ruang tamu, mendekati sumber suara. Tubuhnya tegang, siap menghadapi apapun kemungkinan yang menanti. 

Ia sampai di depan jendela kaca yang terhalang oleh tirai. Ketukan itu melambat. Perlahan Toni mengulurkan tangan, dan menyibak tirainya. 

"Hah?" Tak ada siapa-siapa! Toni celingukan melihat ke teras.

"Siapa yang ngetuk, Mas?" Suara istrinya dari belakang membuat Toni berjengit kaget.

Fina mendekat penasaran. Reaksinya sama dengan suaminya. Mereka saling bertukar pandang keheranan. Toni mengertakkan gigi. Ia tak terima ada yang mempermainkannya. Tangannya bergerak menuju pegangan pintu depan. 

Ceklek. "Lha? Pintunya, kok, nggak terkunci, Fin?" Toni berseru tanpa sadar.

"Mana kutahu, Mas! Kan, tadi kamu yang terakhir berangkat tidur?" 

Merasa kepalang basah, Toni melangkah ke teras. Ia memeriksa hingga ke halaman samping. Angin malam menambah kengerian yang mengintai di kegelapan. Fina berdiri cemas di depan pintu, memperhatikan tindakan suaminya. 

Akhirnya mereka kembali ke dalam dengan pertanyaan menggantung di benak masing-masing. Kali ini Toni memastikan  pintu rumah terkunci rapat. Pasangan ini sempat berdebat di dalam kamar tentang pintu yang ternyata tidak dikunci. Fina menuduh suaminya teledor. Sedangkan Toni berulangkali meyakinkan bahwa ia telah memastikan keamanan rumah sebelumnya. Di luar masalah itu, mereka berdua tak dapat menemukan jawaban perkara ketukan di jendela. 

"Sudahlah, Mas, aku capek debat sama kamu. Lagian kalau dipikir, gara-gara suara ketukan itu kita jadi tahu pintu depan nggak dikunci. Bayangin kalo sampai ada maling masuk!" tukas Fina, menyudahi perdebatan.

**

Keesokan hari setelah suaminya berangkat kerja, Fina sibuk mengurus keperluan sarapan Nora. Tak lama berselang bocah empat tahun itu masuk ke dapur dan menunjukkan dua kotak berisi kue brownis, pie buah mini, dan roti isi pisang. 

"Nora dikasih nenek, Bu," lapornya semringah. Fina mengerutkan kening. Ia heran dari mana ibu mertuanya memperoleh camilan tersebut. 

"Alhamdulillah, ya. Tapi Nora udah bilang terima kasih ke nenek, kan?" Fina mengusap lembut pipi anaknya. Bocah perempuan berpipi montok tersebut mengangguk-angguk. 

"Ini kuenya buat dimakan nanti saja, ya? Sekarang Nora sarapan yang sudah ibu buat ini," bujuk Fina lembut.

Setelah memastikan putrinya menyantap nasi goreng telur yang ia siapkan, Fina beranjak ke kamar ibu mertuanya.

Bu Suji membenarkan ucapan Nora. Sambil tertawa kecil ia menjelaskan asal-usul kue tersebut. Ternyata tadi malam sekira jam sepuluh, ketika suaminya sudah masuk kamar, Surip datang mengetuk pintu sehingga Bu Suji terbangun dan membukakan pintu. Kakak suaminya itu mampir sebentar untuk memberikan sekotak camilan yang ia dapat usai pertemuan rutin RT-an. 

"Surip bilang snack itu buat Nora saja. Ya, karena kalian sudah tidur semua, ibu simpan dulu di sini," terang perempuan sepuh tersebut. 

Fina tertegun mendengar penjelasan tersebut. Otaknya berusaha merangkai potongan informasi itu, dengan kejadian semalam. Mungkin inilah penyebab pintu depan rumah mereka tidak terkunci. Meskipun begitu, siapa yang mengetuk jendela kaca? 

Cilacap, 230426